OSMANA 6: Perjuangan Santri dari Blitar Membawa Kebahagiaan Satu Yayasan

annur2.net – “Bismillahirrahmanirrahim. Qalal muallif wal mushannif….”  Bacaan tersebut berkali-kali terdengar dari speaker Masjid Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo”. Ahad, 24 Agustus 2025, An-Nur II menggelar OSMANA (Olimpiade dan Seni Ma’had An-Nur II) ke-6 dalam rangka Harlah ke-46.

Muhammad Habibi Mukarromin bersama tiga teman seyayasan Nurul Iman Blitar dan satu pendamping mengikuti ajang lomba MQK kategori Fath AL-Qarib. Berangkat pukul tiga pagi menaiki mobil dari Blitar, sampai di Malang sebelum subuh dan baru memasuki kawasan An-Nur II pukul setengah delapan. Sebelumnya mampir dulu ke warung untuk sarapan.

Untuk sampai mengikuti MQK di OSMANA 6 An-Nur II ini tidak mudah. Habibi terpilih oleh pengajar yang setiap hari mengamati pembelajaran kelasnya. Menurutnya, ini yang membuat berbeda dari seleksi lomba biasanya, “Ada seleksinya, tapi tidak seleksi secara face to face.”

Justru dengan terpilihnya menjadi perwakilan dari pondoknya, Pondok Pesantren Sragi, yang merupakan cabang dari Yayasan Pondok Pesantren Nurul Iman Blitar. “Perasaannya sangat bangga karena sudah sejauh ini. Sudah bisa melampau musuh-musuh. Perasaan saya bangga dan merasa terhormat karena sudah menjadi perwakilan dari pondok saya sendiri, lembaga saya sendiri.” Mimiknya senang.

Kemudian mereka menuju Masjid An-Nur II untuk registrasi lomba. Habibi mendapatkan nomor urut 22. Saat tiba gilirannya, Habibi merasa tegang. Katanya itu adalah tantangan terbesar dalam lomba ini. Tapi Habibi menemukan solusi untuk mengatasinya. “Kita harus pintar-pintar mengolah bahasa dan pintar-pintar untuk menjawab masalah maupun itu fikih ataupun nahwunya dengan baik dan benar.” Katanya dengan yakin.

Habibi juga menenangkan diri agar lombanya lancar. “Tenang saja. Sebisanya mungkin dijawab meskipun itu nanti salah tidaknya itu dipertanyakan.” Habibi begitu optimis. Dia juga mendapat pesangon dari pengasuhnya, KH. Saiful Bahri, berupa nasihat.

Habibi mengutarakan nasihat itu, “Kalau MQK itu, satu mengagungkan agamanya Allah. Itu memang harus dipegang, li i’laai kalimatillah, dan buat kita belajar. Karena sebaik-baik guru itu pengalaman”

Akhirnya sesinya pun berjalan lancar seperti yang ia harapkan. “Alhamdulillah, lancar.” Meski sudah selesai, Habibi menunggu teman-temannya maju ke depan juri. Mereka menunggu acara sampai bakda Magrib yang merupakan pengumuman juara lomba MQK Fath Al-Qarib dan Al-Ghayah wa Al-Taqrib.

Teman Menang, Satu Yayasan Senang

Sampai pada sesi pengumuman juara yang menegangkan. MC menyebutkan peringkat ketiga hingga pertama satu per satu. Setelah menunggu, MC akhirnya menyebutkan juara pertama MQK kategori Fathh Al-Qarib. Dia adalah Ahmad Khusnul Khuluq dari Pondok Pesantren Nurul Iman, teman Habibi satu yayasan, hanya saja dia dari yayasan pusat.

Tiga teman Khusnul sangat senang dan bertepuk tangan saat namanya dipanggil MC. Ustaz Miftahul Arif Jurianto, pembimbing mereka, menemani Khusnul naik ke atas panggung. Mereka menyaksikan temannya mendapatkan penghargaan berupa piala, piagam, dan uang pembinaan. Meskipun Habibi tidak mendapatkan juara, tapi dia juga ikut senang Khusnul mendapatkannya.

Khusnul tentunya sangat senang mendapatkan juara pertama. “Alhamdulillah ingkang kesane lumayan bahagia karena satu, bisa mengharumkan nama pondok, yang kedua dapat hadiah.” Khusnul tertawa.

“Kesan dari saya, yang bahagia, pasti. Tapi tadi ada kayak ndredeg. Cuman ya bahasa ndredeg itu wajar karena ketika penyebutan kok belum ada nama yang tercantum dan ternyata alhamdulillah perwakilan dari Pondok Pesantren Nurul Iman Blitar bisa sampai mendapat juara satu di ajang lomba MQK Pondok An-Nur II Malang.” Ungkap Ustaz Miftah, pembimbingnya.

Minan Aufa Ahmad dari yayasan yang sama juga ikut senang atas keberhasilan Khusnul, meskipun dia, Habibi, dan satu teman lainnya gugur di perlombaan. “Meskipun saya syahid, tetapi saya tetap senang dalam artian teman saya juga ikutan senang.” Ungkap Aufa. Baginya, Ini menjadi pengalaman dan pelajaran untuk berusaha lebih giat lagi agar bisa seperti Khusnul.

(Riki Mahendra Nur C./Mediatech An-Nur II)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU