“Ketika ulama wafat, maka sejatinya dia seperti pedang yang keluar dari sarungnya.”
-Syekh Sulaiman Hilmi Tunahan-
Acara peringatan Haul Kiai Badruddin Anwar yang ke-5 dihadiri oleh Dr. KH. Reza Ahmad Zahid Lc, M.A., yang biasa disapa Gus Reza dari Lirboyo. Beliau mengaku telah “dikerjai” oleh Kiai Zainuddin lantaran tidak diberi tahu jika yang hadir juga dari kalangan ulama dan habaib. Beliau hanya diberi tahu jika akan menyampaikan tausiah di hadapan jemaah santri. Beliau berhasil menyihir para hadirin dengan tausiyah yang beliau sampaikan.
Beliau mengatakan, mendoakan para sesepuh yang telah meninggal merupakan satu perbuatan yang benar. Ketika seseorang meninggal semua amalnya terputus kecuali tiga amalan berikut, ilmu yang manfaat, amal atau sedekah jariyah, dan anak saleh yang mendoakannya.
*Standar Kesuksesan Orang Tua*
Seseorang dikatakan sukses dalam menjalankan perannya sebagai orang tua tatkala mampu mendidik anakanya menjadi anak yang masuk ke dalam dua kategori, yakni saleh dan mau mendoakan orang tuanya. Ketika anaknya saleh namun tidak mau mendoakan orang tuanya, maka belum dikatakan berhasil dalam mendidik. Begitupun ketika anaknya mau mendoakan orang tuanya namun dia bukan termasuk orang yang saleh, karena ditakutkan doanya salah.
Kalau kita perhatikan, banyak sekali lembaga pendidikan yang mengaku mampu mendidik dan mencetak putra putri kita sebagai pribadi yang berwawasan luas, intelektualismenya tinggi, dsb. Namun ketika mereka lulus dan pulang kerumah, yang terjadi malah mereka bentrok dengan orang tuanya, mengkafirkan orang tuanya, dan membidahkan perilaku orang tuanya.
Ada sebuah kisah yang bercerita bahwa Nabi bersabda, “Sesungguhnya seseorang akan ditinggikan derajatnya kelak ketika di surga,” para sahabat heran dan bertanya, “Mengapa bisa sampai demikian wahai Rasulullah?” Kemudian Rasulullah menjawab, “Karena permohonan anakmu untukmu.” Ini merupakan bukti pentingnya mendidik anak sebgai pribadi yang saleh dan mau mendoakan orang tuanya. Semoga putra putri kita menjadi pribadi yang demikian.
*Kedahsyatan Doa Orang Yang Sudah Meninggal*
Kita menghadiri acara haul orang saleh dan berniat mendoakan sahibul haul merupakan perbuatan yang baik dan benar. Namun niat yang lebih utama ialah mengharapkan doa dari sahibul haul. Kiai Iksan Jampes dalam kitab Siraaj Ath-Thalibin menukil ucapan Habib Abdullah bin Alawai Al-Haddad. Beliau berkata, “Sesungguhnya ketika seorang wali wafat, kepeduliannya terhadap keluarga, orang dekat dan sahabat-sahabatnya lebih besar dibandingkan ketika mereka hidup.”
Seorang revolusioner pasca runtuhnya Tirki ottoman, Syekh Sulaiman Hilmi Tunahan berkata, “Ketika ulama wafat, maka sejatinya dia seperti pedang yang keluar dari sarungnya.” Seorang alim, wali doanya memang mustajab, namun ketika mereka telah wafat, maka doanya lebih dahsyat. Habib Abdullah bin Alawai Al-Haddad memberikan alasan kenapa hal tersebut bisa terjadi, karena manusia ketika hidup meiliki dua sifat, yakni basyariyah dan khususiyah.
Sifat khususiyah merupakan sifat kemanusiaan seperti mengeluh, lelah dsb. Sedangkan sifat khusussiyah biasanya terpaku pada profesi, jabatan atau kedudukan, contohnya guru. Perilaku guru di depan muridnya biasanya jauh dari sifat basyariyahnya, karena takut ditiru oleh muridnya. Berbeda dengan ketika mereka berada di antara keluarganya, ini jelas berbanding terbalik.
Ketika seseorang wafat sifat basyariyahnya hilang, yang tersisa hanya sifat khususiyah yang melekat pada dirinya. Oleh karena itu, doa orang yang telah wafat lebih dahsyat daripada ketika mereka masih hidup. Karena ketika masih hidup mereka disibukkan dengan dua sifatnya, dan ketika wafat maka mereka hanya fokus pada satu sifat saja, yakni khususiyah. Saat masih hidup mungkin ketika berdoa banyak sekali godaan yang datang, namun semua godaan akan hilang saat mereka telah wafat, karena sifat manusianya telah hilang.
*Pentingya Hubungan Yang Baik dengan Guru dan Rida Darinya*
Rektor Universitas Al-Ahqaf, Habib Abdullah Baharun berkata, “Hubungan seorang guru dengan muridnya itu seperti listrik dan lampu.” Lampu tanpa adanya listrik jelas tidak dapat hidup dan menyinari. Begitupun kita sebagai murid, tanpa adanya rida dan berkah dari guru kita, sekeras apapun kita berusaha mewarnai masyarakat, jika tanpa adanya rida dari gurru kita maka nihil hasilnya. Maka jangan sampai hubungan kita dan guru kita putus. Rida guru merupakan listrik bagi kita, bekal bagi kita untuyk hidup di tengah-tengah masyarakat.
Ada kaidah tasawuf berbunyi, “Barang siapa pernah duduk bersanding dengan seorang guru, lalu di kemudian hari hatinya berpaling, maka hubungannya dengan gurunya telah rusak. Maka wajib baginya untuk bertobat.” Ini adalah bukti pentingnya hubungan yang baik antara kita dan guru kita.
Ada sebuah kisah yang dinisbatkan kepada Habib Abdullah Asy-Syathiri, ayah dari Habib Salim Asy-Syathiri. Beliau mengisahkan, dahulu ada seorang murid dari Ribath, Tarim, yang alim namun masih berstatus sebagai santri. Tetapi karena keilmuannya yang luar biasa, dia sering mendapatkan undangan untuk mengisi tausiah di berbagai daerah.
Pada suatu hari dia mendapatkan undangan mengisi tausiah dari seorang pejabat yang kaya raya di daerahnya, yang pasti upahnya pun menggiurkan, namun jadwal tersebut bertabrakan dengan agendanya mengaji kepada gurunya, Habib Abdullah Asy-Syathiri. Dia bimbang antara ikut mengaji dengan gurunya atau memenuhi undangan tersebut.
Setelah beberapa waktu berpikir, akhirnya dia memutuskan untuk menghadiri undangan tausiyah tersebut, dengan alasan undangan semacam ini tidak datang dua kali sedangkan waktu untuk mengaji dengan gurunya masih bisa dilakukan besok. Akhirnya dia berangkat menuju Mukalla, ibu kota Hadramaut. Habib Abdullah memiliki kebiasaan mengabsen para santrinya satu persatu saat mengaji. Saat nama dari muridnya yang pergi ke Mukalla dipanggil, teman-temannya berkta kalau dia absen hari ini karena menghadiri undangan pengajian. Ternyata dia pergi tanpa berpamitan dan tanpa restu dari gurunya.
Habib Abdullah Asy-Syathiri kemudian berkata, “Sungguh ilmunya tidak bermanfaat. Demi Allah aku tidak rida dengannya!” maka terjadilah apa yang diucapkan guru sebagai doa terhadap muridnya. Di hadapan ribuan jemaah yang hadir dalam pengajian tersebut, sang murid tiba-tiba lupa semua yang pernah ia pelajari kepada gurunya. Memeori keilmuannya hilang.
Ini adalah salah satu kisah tentang pentingnya rida dari guru terhadap kehidupan dan karir kita. Maka jangan sampai kita tidak mendapatkan doa dan rida dari guru kita, karena itu merupakan kecelakaan terbesar dalam hidup kita. Mari kita jadikan keistikamahan guru kita sebagai uswah dalam menjalani kehidupan, karena hal tersebut merupakan perantara rida guru kita kepada kita.
Ada salah satu kata-kata motivasi berbahasa Inggris yang berarti, “Orang tanpa pengetahuan tentang sejarah masa lalu mereka, asal-usul dan budaya, seperti pohon tanpa akar.” Ketika kita tidak tahu sejarah masa lalu kita, siapa pendahulu kita, masa lalu pendahulu kita, guru-guru kita, maka kita tidak lebih dari sebuah pohon tak berakar yang mudah tumbang. Maka mari kita kuatkan keteguhan kita dengan menmahami masa lalu kita, pendahulu, dan guru-guru kita.
(Abror Suryanto/Mediatech An-Nur II)
