Ning Yaya: Disiplin, Dermawan, dan Dekat dengan Al-Qur’an

Haul Ning Sakhiyyah Dzurriyyah ke-5 di An-Nur II

annur2.netAlmarhumah Ny. Hj. Sakhiyyah Dzurriyyah, kini telah lima tahun meninggalkan keluarga besar Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo”. Kamis, 7 Mei 2026, Haul ke-5 beliau berjalan di area Raudah. Berbagai ingatan tentang beliau mendatangkan keluarga besar An-Nur II dan Sidogiri beserta para alumni berziarah.

Ning Sakhiyyah bukanlah penghafal Al-Qur’an. Begitu ungkap sang suami, Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag. Namun setiap waktu, beliau pasti membacanya. “Beliau itu, meski nggak hafal Al-Qur’an, tapi setiap saat itu pegang Al-Qur’an. Seneng baca, seneng pegang Qur’an.” Bahkan saat perjalanan menaiki mobil, beliau tidak meninggalkan Al-Qur’an.

Membaca menjadi hobi Ning Sakhiyyah dan Al-Qur’an adalah “buku” favoritnya. “Halangan” pun tidak mematahkan hobi membaca beliau. Bukan Al-Qur’an yang beliau baca, melainkan buku sebagai gantinya. “Kalau halangan, beliau membaca buku.” Tutur Kiai Fathul Bari.

Meskipun tidak menghafal Al-Qur’an, Ning Sakhiyyah sangat rajin tadarus Al-Qur’an. Menurut Kiai Fathul Bari, tadarus beliau mengalahkan orang yang hafal Al-Qur’an. “Beliau tidak hafal Qur’an, tapi lek nderes itu tak lihat-lihat itu seperti ngalahne wong seng hafal Qur’an.” Jelas Kiai Fathul Bari.

Di balik ketekunan dalam membaca Al-Qur’an, Ning Sakhiyyah menginginkan putra-putrinya menjadi tahfizul Qu’ran (penghafal Al-Qur’an). Ag. Davidzin Ghaza, putra kedua beliau, mengungkapkan hal serupa. “Ya itu sih, (ajaran yang ditanamkan) dari segi ngajinya. Kayak semua kan beliau pinginnya semua anaknya hafal Qur’an.” Ungkapnya.

Ning Sakhiyyah sangat menekankan agar putra-putrinya pandai mengaji, terutama menjadi penghafal Al-Qur’an. Kiai Fathul Bari juga mendapatkan respons yang sama. “Karena meski beliau tidak hafal Qur’an, tapi kepingine anak-anak hafal Qur’an.” Ungkap Kiai Fathul Bari.

Ajaran Kedisiplinan kepada Buah Hati

Ning Sakhiyyah juga menanamkan kedisiplinan kepada putra-putrinya. Ketika masuk waktu salat dan mengaji, beliau pasti mengingatkan anak-anaknnya. Hal ini menjadi bentuk perhatian beliau kepada mereka sebagai seorang ibu.

“Sangat perhatian ke anaknya. kayak ngaji, sholat, itu selalu dikontrol.” Ungkap Gus David. Tidak hanya itu, Ning Sakhiyyah juga mengajak mereka untuk banyak berzikir dan salat Duha dan salat sunah. “Banyak ngajak kayak dzikir, salat Dhuha, salat sunah.”

Bahkan, beliau mengontrol makanan putra-putrinya. Waktunya makan, beliau mengingatkan mereka pula. “Kayak makan sehari-hari itu mesti dikontrol setiap hari.” Ucap Gus David. Ning Sakhiyyah sangat memperhatikan jasmani dan rohani keluarganya.

Dermawan dan Tidak Menyimpan Makanan Sisa

Ning Sakhiyyah Dzurriyyah merupakan orang yang tidak suka menyimpan makanan sisa. Setiap kali ada sisa, makanan itu akan dibagikan kepada para santri. Beliau tidak rela ada makanan yang tersimpan sampai basi.

“Jadi kalau ada di rumah saya itu ada acara banyak, ada berkat akeh gitu (bingkisan banyak), sekiranya dikasih anak-anak nggak habis, digoreng sendiri, terus didum nang arek-arek (lalu dibagikan kepada santri-santri).” Ucap Kiai Fathul Bari.

Selain itu, Ning Sakhiyyah selalu membuatkan teh untuk para santri. Biasanya beliau mengutus seorang santri untuk meletakkan teh itu di area Raudah. Beliau membuatnya setiap hari. Suatu hari Kiai Fathul Bari bertanya, “Gae dewe nggak kesel a (Membuat sendiri apa tidak lelah)?” Ning Sakhiyyah menjawab, “Nggak wes, iki gae aku dewe. Engko ndek akhirat cek gak ngelak (Tidak, ini untukku diriku sendiri. Nanti di akhirat supaya tidak kehausan).”

Akhirnya sampai sekarang, teh itu tetap ada di Raudah. Setiap pagi, panci yang berisi teh itu selalu menemani para santri minum sambil bercengkerama di sana. Meskipun bukan Ning Sakhiyyah sendiri yang membuatnya, manfaatnya tetap mengalir kepada para santri saat ini.

Kiai Fathul Bari berharap amal-amal yang Ning Sakhiyyah lakukan bisa menjadi bekal yang baik. Teh yang beliau berikan untuk para santri setiap hari benar-benar membuatkan tidak kehausan di “sana”. Putra-putrinya benar-benar menjadi penghafal Al-Qur’an sesuai keinginan Ning Sakhiyyah Dzurriyyah.

Semoga dengan kisah Ning Sakhiyyah Dzurriyyah bisa memotivasi para ibu menjadi pelita yang baik untuk anak-anaknya. Tidak perlu sempurna untuk mendidik anak. Melainkan kedisiplinan dan ajaran lain para ibu tanamkan adalah hal yang terpenting.

(Riki Mahendra Nur C./ Mediatech An-Nur II)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU