NGAJI SAMPAI MATI

NGAJI SAMPAI MATI.

HIKAM ZAIN

“Sopo Seng Ngaji Bakale Aji.”

Begitu kata pepatah kaum bersarung. Pepatah ini bukan tanpa dasar begitu saja,  hadist Rasul yang tertuliskan dalam kitab Ikhya’

إِنَّ الْحِكْمَةَ تَزِيْدُ الشَّرِيْفَ شَرَفًا وَ تَرْفَعُ الْمَمْلُوْكَ حَتَّى يُدْرِكَ مَدَارِكَ الْمُلُوْكِ

“Sesungguhnya hikmah di balik ilmu itu bisa memuliakan orang yang sudah mulia, dan meninggikan derajat seorang budak, hingga mencapai kedudukan (derajat) para raja.”

Seorang yang paling diremehkan dikaumnya semisal budak akan menjadi raja jika ia mau belajar, mau mengaji dan mau mencari ilmu. Maka tidaklah heran jika jargon tersebut memiliki makna yang luas.

Begitu juga sebaliknya, orang orang yang leluhurnya hebat, mulia sedangkan anak anaknya terleha-leha oleh duniawi maka tunggu saja saat kehancurannya. Kemuliaan seseorang ada pada ilmu, dan tanda ketinggian ilmu seseorang ia mempunyai adab. Syekh Ahmad Sa’ad guru al azhar Mesir pernah berkata : Banyak tahu informasi belum tentu berilmu, karena ilmu harus selaras dengan adab. Kalau engkau tak punya adab, maka komputer lebih baik darimu karena ia bisa memuat informasi lebih banyak.

Oleh karenanya para santri disamping dituntut mencari ilmu juga di ajarkan adab keseharian. Adab bergaul kepada teman, kepada guru,kepada hewan dan semua makhluk. Diajarkan  bagaimana adab masuk dan keluar masjid masuk dan keluar kamar mandi, tata cara tidur dan bangun setelahnya dan masih banyak lagi.

انما بعثت لاتمم مكارم الاخلاق

Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak. Begitu sabda Rasul.

Dan di pesantren tidak diajarkan saling mencela, mudah mengkafirkan apalagi sampai menghalalkan darah kaum muslimin.
(إِنِّيْ لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً. (رواه مسلم

“Sesungguhnya aku tidaklah di utus sebagai pelaknat, sesungguhnya aku di utus hanya sebagai rahmat.”

Melaknat saja Rasul tidak mau apalagi  membunuh tanpa ada hujjah yang kuat.

Begitulah semestinya akhlak  orang-orang yang mempunyai ilmu.
Maka sangat rugi jika mempunyai anak tidak sampai di pondokkan. Disamping pondok pesantren adalah Full day 24 jam, tempatnya terjaga dan tentunya bisa  mengaji dengan sungguh-sungguh, karena mengaji dipesantren  bukan hanya wacanan tapi juga kahanan.

“NGAJI SAMPAI MATI. NGAJI MUNG ORA WACANAN NANGING YO  NGAJI KAHANAN”

Salam Takdzim

Ahmad Zain Bad.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: