Ngaji Hingga Jadi Alumni

Dengan membawa kitab kuning, para alumni Pondok Pesantren Al-Falah Ploso berdatangan menuju Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo”. Mereka datang untuk menggelar pengajian rutin.

Jumat (22/03) siang itu, puluhan orang berkumpul di istana Al-Ghazali, yang terletak di tenggara masjid An-Nur II itu. Mereka merupakan perkumpulan alumni Pondok Pesantren Al-Falah Ploso daerah Malang. Kedatangan mereka, untuk mengadakan pengajian rutin dua mingguan ini, di An-Nur II merupakan permintaan KH. Zainuddin Badruddin yang juga merupakan alumni Al-Falah Ploso.

“Untuk tempat kami mengadakan pengajian itu berpindah-pindah (dari rumah alumni satu ke rumah alumni lain) setiap mengadakannya. Tergantung siapa yang mau memfasilitasi,” ungkap Gus Abdul Badi’, salah satu alumni Al-Falah Ploso yang ikut pengajian tersebut. Ia melanjutkan, pengajian ini digelar dua minggu satu kali yang dilaksanakan pada hari Jumat. Tujuannya, selain untuk menjalin silaturahmi, juga untuk menambah ilmu baru. Untuk kitab yang dikaji adalah kitab tafsir Jalalain dan kitab Hikam karya Ibnu Athoillah. Kegiatan pengajian ini sudah berlangsung turun-temurun mulai berpuluh tahun lalu.

Alumni Al-Falah Ploso tahun 2014 tersebut mengaku terkesan dengan kekompakan alumni yang tidak mau putus mencari ilmu. “Meskipun mereka telah menjadi alumni, tapi tak menyurutkan semangat menuntut ilmu dan titel alumni tak menjadikan alasan untuk tidak mengaji,” imbuh pria asal Pagelaran, Malang itu.

Tak hanya itu, Kiai M. Fadil Khozin, M.Pd., pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tajinan, Malang, juga mengakui antusiasme alumni yang sangat respons. Selain itu beliau juga mengapresiasi An-Nur II yang terasa sangat nyaman dan representatif sebagai tempat pembelajaran. “Oleh karena itu, perasaan kami di sini berbeda dengan yang lainnya. Ini merupakan baroka dari pengasuh pondok pesantren An-Nur II Al-Murtadlo,” imbuh alumni yang mondok di Al-Falah Ploso selama lima belas tahun.

Menurut ketua LBMNU Kab. Malang itu, pengajian seperti ini sangat penting, terutama bagi masyarakat. Karena dalam pengajian ini juga membahas tentang masalah yang ada di masyarakat dan dicarikan solusinya. Ini ditujukan agar hati yang semula gelisah bisa menjadi dingin dan tenang. Sehingga masalah yang ada di masyarakat bisa terselesaikan dengan baik.

“Harapannya semoga ke depannya pengajian seperti ini bisa dilestarikan, bahkan hingga hari kiamat. Dan seterusnya bisa berlanjut dengan istiqomah,” harap Gus Abdul Badi’ di akhir wawancara dengan annur2.net.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: