Napak Tilas: Menggali Ketawaduan KH. Badruddin

Napak Tilas: Menggali Ketawaduan KH. Badruddin

Dalam sambutan acara Napak Tilas KH. M. Badruddin Anwar pada Sabtu malam, 1 Juli 2023, Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag., menyampaikan ucapan Almarhum Ustaz Yadi, dulu Kiai Badruddin pernah mengucapkan, “Lha iyo, lek poro sahabat seng ditiru yo Nabi. Lek awakmu ngene iki seng dicontoh yo aku (Iya ya, jika para sahabat, yang ditiru adalah Nabi Muhammad. Jika kamu ini yang dicontoh adalah aku).” Kiai Fathul Bari pun menyimpulkan bahwa alumni harus berani menjadi guru. Bukan guru dalam sekolah formal, tapi berani bila orang lain mematuhinya dan menirunya.  

Lalu, Kiai Fathul Bari menceritakan sifat tawadu Kiai Badruddin Anwar. Suatu ketika ada seseorang bertanya saat berkunjung kepada beliau, “Kiai, njenengan niki kok senengnya bergaul dengan orang-orang seperti kami, mboten ten pejabat-pejabat, wong seng dukur-dukur (Kiai, Anda kok suka bergaul dengan orang-orang seperti kami, bukan kepada pejabat-pejabat, orang-orang besar)?” Lalu, Kiai Badruddin menjawab, “Lha iyo aku sakjane yo iso. Cuma lek aku engkok gaule karo wong dukur-dukur, seng nyerawungi awakmu iki sopo (Iya, aku sebenarnya bisa. Hanya saja jika aku nanti bergaul dengan orang-orang besar, yang bersama kamu siapa)?

Selain itu, Kiai Badruddin sering menyamar ketika keluar layaknya orang biasa. Dulu saat mengurusi paspor untuk berangkat umrah, ada seseorang yang bertanya kepada Kiai Badruddin dengan pakaian seperti orang biasa, “Ajenge ten pundi (Ingin ke mana)?” Beliau menjawab, “Ajenge umrah (Ingin umrah).” Mendengar jawaban itu, orang tersebut menceritakan tentang umrah. Ia tidak tahu kalau lawan bicaranya adalah kiai. Meski begitu, Kiai Badruddin tetap diam dan mendengarkannya.

Hal ini sejalan dengan ucapan Imam Waki`bin Jarrah, “Orang tidaklah sempurna ilmunya sehingga ia mengambil ilmu dari orang yang levelnya di atasnya, sebaya dengannya, dan di bawahnya.” Jadi ilmu dari siapa pun, beliau tetap mendengarkannya.

Pandangan Alumni terhadap Kiai Badruddin

Kiai Amir Burhan, alumni dari Dusun Satreyan, Kanigoro, Blitar sebagai narasumber pertama, mengatakan bahwa Kiai Badruddin mengurus santrinya seolah seperti anaknya sendiri. Saat di pondok, Kiai Amir pernah sakit yang saat itu kamarnya di C7. Saat pagi, beliau mengetahui Kiai Badruddin baru datang ke kamarnya. Tak lama, Kiai Badruddin membawa seorang dokter dan mengecek Kiai Amir.

Selain itu, Kiai Amir mengatakan, “Kiai itu selalu menghormati siapa pun yang ada di sampingnya. Sampai-sampai orang itu merasa penting di hadapan kiai.” Mestinya orang itu mendapat keuntungan bisa dekat dengan Kiai Badruddin.

Tak hanya itu, narasumber kedua Kiai Umar Faruq, alumni yang tinggal di Sumberpucung, Malang, juga menceritakan kisah beliau bisa dekat dengan Kiai Badruddin. Pada awal masa mondok, Kiai Faruq tidak kerasan dan membicarakannya kepada Kiai.

Kemudian Kiai Badruddin membawa beliau ke depan masjid sambil berkata, “Kon iki dipilih ambek Gusti Allah dikongkon mondok, soal e enggak setiap wong iso mondok (Kamu ini dipilih oleh Allah untuk mondok, sebab tidak setiap orang bisa mondok).” Mendengar itu, Kiai Faruq pun mulai beradaptasi. Beliau juga mengungkapkan, “Mulai itu saya merasa beliau itu Masya Allah, kok menuntun dan memberi semangat baru ke saya.”

Satu ketika, Kiai Umar Faruq juga pernah meminta izin kepada Kiai Badruddin untuk berpuasa karena beliau biasa berpuasa saat di Gondanglegi. Lagi-lagi Kiai menuntun beliau ke depan masjid. Saat di jalan lurus tempat imam, pandangan Kiai Faruq tampak terang dan tidak ada apa-apa.

Lalu Kiai Badruddin menarik tangan beliau yang menyadarkannya dan berkata, “Lek ndek kene nggak usah poso ngono. Kewajibanmu iku ngajio, jamaaho tenanan. Pokok sopo wae seng mlebu nang pondok kene, nang gerbang, kabeh tak dongakne selamet (Jika di sini tidak usah puasa seperti itu. Kewajibanmu itu mengaji, jemaah dengan sungguh-sungguh. Siapa pun yang masuh ke pondok ini, ke pintu gerbang, semuanya kudoakan selamat).” Momen ini termasuk salah satu khariq al-‘adah Kiai Badruddin Anwar.

Selain itu, Kiai Umar Faruq menceritakan sikap beliau saat ada santri yang melanggar. Salah satunya kepada Kiai Faruq sendiri. Saat melihat rokok jatuh di depan beliau, Kiai Badruddin tidak marah, malah berpesan kepada Kiai Faruq, “Yo nganu yo lek enek seng rokokan, omongono nggak oleh rokoan nek kene (Ya kalau ada yang merokok, beritahukan tidak boleh merokok di sini).

Dari sini, Kiai Faruq menyadari sesuatu bahwa Kiai Badruddin tidak langsung memukul saat melihat santrinya melanggar, tapi dengan menyentuh hatinya. “Menyentu batin itu Masya Allah,” ucap beliau.

Yang menakjubkan, banyak orang yang mengagumi sifat tawadu Kiai Badruddin Anwar, termasuk keluarga Pondok Pesantren Ploso yaitu Kiai Huda Jazuli. Dari Ustaz Jauhar, host acara ini, menyampaikan bahwa Kiai Huda Jazuli mengatakan, “Kiai Bad ini salah satu istimewanya adalah beliau ketika menjadi santi, santri yang tawadu. Ketika menjadi ustaz, ustaz yang tawadu. Ketika menjadi kiai, kiai yang tawadu.”

Terakhir, Kiai Amir Burhan dan Kiai Umar Faruq mengungkapkan pendapat tentang Kiai Badruddin Anwar. Kiai Amir mengatakan, “Kiai Bad itu adalah teladan multidimensional dari semua dimensi, semua yang diajarkan beliau lakukan, dan penganut sufi dari Imam Ghozali.” Berbeda dengan Kiai Amir Burhan, Kiai Umar Faruq mengatakan, “Beliau itu adalah guru dan orangtua yang semoga saya pribadi dan kita semua diakui oleh beliau.”

(Riki Mahendra Nur C/Mediatech An-Nur II)

Artikel Terbaru

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

@2026 | Yayasan Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo”Zeldrex