MQK Madin: Ajang Penguji Kemampuan Santri Berprestasi

Berlokasi di halaman lantai dua gedung diniah, kegiatan MQK (Musabaqah Qiroatul Kutub) yang diselenggarakan pihak Madin (Madrasah Diniah) Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo” (Pesantren Wisata). “Perlombaan baca kitab ini, adalah salah satu program Madin yang diadakan setiap ujian cawu (catur wulan) telah usai,” Jelas Ustaz Muhammad Sihabuddin, panitia sekaligus pembawa acara lomba baca kitab tersebut.

Selama keberlangsungan acara, mulai tanggal 22 Januari sampai 23 Januari 2022, kegiatan tersebut diikuti enam puluh lebih santri diniah yang telah disaring per-kelas dari hasil ujian Cawu yang mereka ikuti sebelumnya. Ramai akan suara pembacaan kitab, ruangan perlombaan itu dipenuhi dengan nuansa persaingan dari tiap santri yang maju satu per satu kepada para penguji untuk unjuk gigi.     

*Lomba Baca Kitab, tidak hanya Sekedar Membaca tanpa Makna*

Selain mengujikan pengetahuan tentang kebahasaan Arab para santri terkait dengan pembacaan lafaz di kitab kuning secara kosongan (tanpa harakat), para dewan juri di lomba tersebut juga akan menanyakan beberapa bidang ilmu keagamaan lainnya, diantaranya adalah ilmu sintaksis dan pemahaman fikih. 

Uniknya, perlombaan baca kitab tersebut benar-benar memerhatikan tingkat kelas diniah dari setiap santri yang mengikutinya. Tidak semua disamakan. Setiap soal yang diberikan dewan juri juga akan memiliki tingkat kesulitan yang berbeda menyesuaikan dengan jenjang para santri.

Ustaz Faliqul Habib dan Ustaz Said, dua juri perlombaan tersebut masing masing memiliki kehendak untuk terus memberikan pertanyaan kepada para santri setelah prosesi pembacaan kitab yang diujikan.

Setelah para santri membacakan lafaz yang telah ditentukan, Ustaz Faliq pun segera memberikan pertanyaan-pertanyaan seputar ilmu saraf dan nahwu dari lafaz yang telah dibaca peserta. Kemudian beliau pun mengoreksinya dengan detail terkait kemapuan yang dimiliki peserta dari segi tata bahasa.

Berbeda dengan Ustaz Faliq, sebagai juri kedua, Ustaz Said akan mengujikan pemahaman materi dari teks kitab telah telah dibaca oleh para santri. Terkhusus, untuk ilmu fikih yang terkandung dalam kitab tersebut. Mengenai pembacaan sampai pemaknaan, semuanya tek luput dari pengujian.

“Mengenai tujuan diadakannya perlombaan itu, salah satunya ditujukan untuk membentuk kompetisi dalam pembelajaran para santri,” tutur Ustaz Sihab, panitia dan pembawa acara. Selain itu, beliau juga beranggapan, bahwa kegiatan tersebut juga mampu meningkatkan kuailitas SDM (Sumber Daya Manusia) di internal pesantren.

*Ucapan dan Harapan dari Pembawa Acara MQK*

Dalam wawancaranya bersama kru Mediatech An-Nur II, panitia acara turut merasa bersyukur atas totalitas dari panitia serta para peserta selama berjalannya acara. Semuanya berjalan dengan baik memenuhi harapan dari inisiator acara: Ustaz Jauhar Nahari. “Proses perlombaannya lumayan bagus,” ungkap Ustaz Syihab.

Sebagai salah satu panitia MQK, Ustaz Sihab pun memiliki harapan bahwa acara kali ini dapat menjadi evaluasi untuk kemaksimalan acara berikutnya. Dalam wawancaranya bersama tim Mediatech itu, beliau menuturkan bahwa para santri memiliki potensi untuk memahami kitab-kitab kuning para ulama. Dan harapnya, semoga di kesempatan selanjutnya kemampuan mereka juga bertambah.   

(Firman Ghani/Riki Mahendra/Mediatech An-Nur II)

Artikel Terbaru

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

@2026 | Yayasan Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo”Zeldrex