annur2.net – Lantunan Qasidah Burdah yang merdu menemani para santri putra yang telah menunggu kegiatan Mushafahah mulai bakda Subuh. Jumat, 21 November 2025, mereka bagaikan lautan manusia, memadati area depan Masjid An-Nur, Ma’had Aly, hingga Raudah.
Mereka tenang dalam melodi ketiga vokal pelantun Qasidah dan tetap menunggu kedatangan masyayikh. Lantaran mushafahah adalah agenda rutinan Santri An-Nur II sebelum mereka liburan ke rumah.
Mungkin mushafahah kali ini tak akan terasa lama seperti tahun-tahun sebelumnya. Saat mushafahah akan terbagi menjadi tiga banjar kepada Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag., KH. Hairuddin, Ak., M.Si., dan KH. Didik Nur Ahsani, M.Pd.
Tetapi sebelum melaksanakan Mushafahah, mereka terlebih dahulu membaca surah Yasin dan tahlil untuk Almaghfurlah KH. M. Badruddin Anwar, yang sudah menjadi tradisi dan kegiatan santri An-Nur II di setiap pagi hari Jumat.
Wajah para santri semakin berseri-seri kembali setelah mendengar MC membuka acara, dari pembukaan, pembekalan, dan mushafahah kepada salah satu dari tiga masyayikh – pertanda liburan mereka semakin dekat.
Berterimakasih kepada Orang Tua

Pada kesempatan pembekalan liburan November ini, Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag., menyampaikan terdapat tiga ayat yang berisi dua peraturan syariat Islam yang saling berkaitan.
Salah satunya adalah bersyukur kepada Allah dan bersyukur kepada kedua orang tua. Seandainya salah satu tidak dilaksanakan, maka yang satunya tidak dihitung.
Ayat tersebut berbunyi:
أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ…
Artinya: “…Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua orang tuamu…” (Potongan Surah Luqman, ayat 14.)
Rasa terima kasih itu alangkah baiknya berupa kebaktian seorang anak kepada orang tuanya. Saat Kiai Fathul bertanya kepada para santri apakah ingin menjadi orang kaya, mereka semua menjawab iya.
Kemudian beliau memberikan trik kepada para santri agar bisa mereka amalkan pada saat liburan di rumah. Amalan tersebut yaitu mencuci pakaian kerja orang tua.
“Ojok sampek anak mek ngerasakno enak e tok.” Pesan Kiai Fathul Bari. Ini agar mereka setidaknya mengetahui bau keringat hasil kerja keras orang tua untuk menafkahi mereka.
Kiai memberikan satu contoh dari kebaktian seorang anak pada zaman Nabi Musa. Dia mendapat harta yang melimpah dan tiba-tiba akibat menjual seekor sapi dengan menaati perintah ibunya.
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ…
Artinya: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu…” (Potongan surah Ibrahim ayat 7)
Maka dari berterimakasih kepada Allah dan orang tua, Allah akan memberikan rezeki kepadanya. “(Saat liburan) praktekan ilmu birrul walidain.” Ujar KH. Fathul Bari.
(Abu Raihan Efendi/Mediatech An-Nur II)
