Menyambut Wajah-Wajah Baru An-Nur II

Menyambut Wajah-Wajah Baru An-Nur II

“Selamat datang bapak-ibu wali santri dan santri baru.”

Demikian Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag. menyambut puluhan santri dan wali santri baru yang sowan di pendopo Al-Badari, Sabtu, 29 Juni 2019. Ini merupakan salah prosedur masuknya santri baru. Di pendopo tempat biasa menerima tamu, Kiai Fathul sedikit memberi arahan kepada para wali santri agar anaknya bisa betah di pondok.

Berkisah tentang Nabi Musa

Awal memberi arahan, Kiai Fathul berkisah tentang ibu Nabi Musa yang diberi wahyu oleh Allah. Ibu yang sekaligus istri Firaun itu diperintah untuk menghanyutkan bayi Nabi Musa ke sungai Nil. Di sinilah keikhlasan ibu nabi Musa itu diuji. “Ibu mana yang tega menghanyutkan bayinya?” tutur pengasuh Pondok Pesantren An-Nur II Al-Murtadlo itu.

Di akhir cerita, Allah menjamin keselamatan Musa kecil. Setelah itu, ibunya pun ikhlas untuk melepas Nabi Musa hanyut di bawa aliran sungai terpanjang itu. Berkat keikhlasan itu, Nabi Musa pun saat dewasa menjadi orang besar dan disegani masyarakat Mesir saat itu.

Hal inilah yang dirasa Kiai Fathul sama seperti mondok. “Jika wali santri ikhlas, insya allah anaknya akan menjadi anak yang saleh,” ungkap beliau. “Karena mondok bukan untuk pintar, tapi agar menjadi anak saleh, agar bisa menolong orang tuanya kelak di akhirat nanti.”

Untuk itu, perlu membuat anak betah di pondok. Sebab jika sudah betah, proses belajar untuk menjadi anak saleh bisa berjalan lancar. Maka, “Untuk wali santri dibutuhkan adanya usaha dengan membaca doa ini (sambil menunjukkan kertas berisi doa yang sebelumnya telah dibagi kepada wali santri) setiap hari sampai anaknya betah di pondok,” ajak beliau yang kemudian mengarahkan untuk membaca doa tersebut secara bersama.

Sementara itu, wali santri putri diarahkan menuju Kiai Zainuddin untuk pemasrahan. Sedang untuk santri tahfidz, diarahkan menuju dalem Kiai Syamsul untuk santri tahfidz putri, dan untuk santri tahfidz putra diarahkan menuju Gus Fazlur Rahman R.

Sebelum pemasrahan, ada prosedur lain, yakni pelunasan pembayaran, pengambilan nomor kamar dan tahlil di Raudloh Almaghfurlah KH. M. Badruddin Anwar. Pembacaan tahlil ini dipimpin oleh santri senior yang merupakan maha santri Sekolah Tinggi Ilmu Kitab Kuning (STIKK) An-Nur II.

Suasana di Pondok Pesantren An-Nur II Al-Murtadlo

Sejak pagi, bahkan sebelum kantor pondok dibuka, sudah banyak santri dan wali santri baru yang menunggu di depan kantor. Alasannya, mereka ingin lebih cepat menyelesaikan administrasi dan agar tidak terlalu ramai saat menuju kamarnya. Sebab, jika datang terlalu siang, selain menunggu petugas yang sedang istirahat, juga hawa panas dan suasana ramai akan sangat terasa.

Bahkan, ada santri baru yang datang sehari sebelumnya. Salah satunya adalah Vilgas Putra Ananta P., santri baru tingkat SMA asal Blitar. Menurut penuturan ibunya, ia dan keluarga yang mengantar berangkat sore hari, dan sampai di pesantren malam harinya. “Biar tidak terburu-buru. Apalagi hari ini (29/06) juga ada acara di rumah,” kata Ibu Ria.

Di depan kantor terlihat belasan santri dengan seragam sarung biru, pakaian putih dan songkok hitam. Mereka merupakan santri yang melayani para wali santri baru yang telah memasrahkan anaknya kepada pengasuh. Dengan ramah, santri kelas 6 Diniyah itu mengantar dan membawakan bawaan santri baru menuju kamarnya.

Agar tidak bosan, Grup musik SCA (Suryo Cahyo Al-Murtadlo) unjuk gigi di depan asrama Wali Songo. Tak jarang wali santri yang merasa tertarik mengabadikan penampilan SCA dengan smart phone mereka. “Awalnya sempat grogi dilihati wali santri, tapi lama-lama nyaman,” ujar Hafiz, vokalis SCA.

Setelah sampai di asrama masing-masing, wali santri langsung memasrahkan anaknya kepada kepala kamar yang namanya tertera di kartu nomor kamar dan almari. Bpk. Harsono mengaku puas dengan keadaan pondok yang begitu bersih. “Karena itu saya memondokkan cucu saya di Pesantren ini,” ujar kakek M. Reyhan, salah satu santri baru asal Sidoarjo.

(Mumianam/Mediatech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: