Menjelang Haul Kedua, Habib Abdul Qodir Ziarahi Makam Kiai Badruddin

Menjelang Haul Kedua, Habib Abdul Qodir Ziarahi Makam Kiai Badruddin “Sangat baik, (beliau KH. Badruddin) perhatian dan suka membantu orang.” Demikianlah Ust. Mujiono berujar setelah melaksanakan tahlil dan pembacaan kasidah Burdah memperingati dua tahun kewafatan Almaghfurlah KH. M. Badruddin Anwar. Ta’mir masjid jami’ Sabilit Taqwa Bululawang ini mengaku, semasa hidupnya, Kiai Bad suka menjadi aktivis masjid hingga beliau wafat.

Dua hari menjelang malam puncak peringatan dua tahun wafatnya KH. M. Badruddin Anwar, majelis keluarga Pondok Pesantren An-Nur II mengadakan tahlil yang dihadiri dari ratusan jamaah. Mereka yang hadir dalam tahlil ini adalah warga kampung sekitar pesantren dan beberapa alumni.

Acara dimulai dengan tahlil bersama di Raudhoh (makam) Kiai Badruddin oleh KH. Zainuddin Badruddin. Kemudian dilanjutkan pembacaan kasidah Burdah oleh Habib Abdul Qodir bin Umar Mauladawila. Para jamaah yang hadir pada malam itu, Ahad malam 3 Februari, ikut membaca dengan khusuk.

Pada acara ini pula, Habib Abdul Qodir berkesempatan memeberi mauidloh hasanah. Beliau membahas tentang keutaman orang saleh. “Menjadi orang saleh itu enak,” ungkap Habib Abdul Qodir mengawali mauidlohnya di tengah para jamaah.

Dikisahkan, dahulu di Baghdad pernah terjadi kemarau panjang. Membuat sumber mata air kering. Penduduk sana pun berkeinginan melakukan salat istisqa’ (salat minta hujan). Berkumpul lah mereka di tanah lapang dengan membawa hewan ternak masing-masing.

Namun, ada satu orang yang tidak mau melakukannya. Ia mengatakan, “Kalian kembali saja ke rumah masing-masing. cukuplah saya saja yang tawasul memohon kepada Allah agar turun hujan.” Mendengar hal itu, masyarakat Baghdad menggerutu, “Sombong sekali orang ini.”

Kemudian orang tersebut meminta hujan kepada Allah. “Ya Allah turunkanlah hujan kepada kami dengan barokah pengelihatan saya,” do’a orang tak dikenal itu. Tak berselang lama, turunlah hujan yang sangat deras. Hal ini membuat warga Baghdad heran. “Kenapa bisa begitu?” tanya mereka. Pria itu menjawab, “Ini karena pengelihatan (kedua mata)-ku pernah saya gunakan untuk melihat Syekh Abu Yazid Al-Bustomi (seorang wali yang sangat saleh di Baghdad).”

Dari kisah ini, Habib Abdul Qodir memberi nasihat, bahwa dengan menjadi orang saleh hidup pun akan menjadi barokah. Sebab orang saleh itu hidup di sisi Allah. Bahkan, hanya dengan melihat orang saleh saja bisa memperoleh barokah. Apalagi menjadi orang salehnya.

“Oleh karena itu, beruntunglah panjenengan yang pernah melihat langsung Kiai Badruddin. Karena beliau adalah wali Allah yang saleh,” tutup Habib Abdul Qodir di akhir mauidlohnya.

(Mumianam/Mediatech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

Pondok Pesantren An Nur II Al Murtadlo.

%d blogger menyukai ini: