Menjalani Hidup Saat Harga Naik
Zaman beranjak semakin maju. Orang-orang punya banyak kebutuhan yang baru. Sekarang semakin sulit mendapatkan hal-hal yang sebenarnya perlu. Sebab harga mulai naik dan memburu. Masyarakat demo dan pemerintah kelu.
Harga BBM naik sudah bukan menjadi hal yang megejutkan di tanah tercinta ini, Indonesia. Meski begitu, menyikapi kenaikan harga ini masih sama, bentrokan sana-sini. Banyaknya kelompok yang demo ke pemerintah tentang naiknya BBM. Sedangkan muslim, punya kiat-kiat sendiri menyikapi lonjakan harga BBM.
Walaupun hanya BBM saja yang naik, imbasnya pun juga ke barang-barang lain. Mungkin untuk bahan bakar transportasi atau yang lain. Tentunya, hal ini membuat rakyat naik pitam. Mau ini, tapi mahal. Mau itu, kok mahal juga. Akan tetapi, muslim memiliki tips tersendiri menghadapi cobaan tersebut.
Harga Mahal, Sudah Lazim
Bukan masalah baru harga meloncat dari posisi awal. Semisal ingin tahu, bisa lihat sendiri di Google, perlonjakan dari tahun per tahun. Bahkan di zaman Nabi Muhammad SAW, harga naik sudah pernah terjadi. Kenaikan harga ini membuat sahabat tidak tahan dan kesulitan. Mereka pun pergi menghadap Nabi untuk menanyakan problem ini.
“Nabi, tolong turunkan harganya Nabi.” Sambat para sahabat. Nabi merespon, beliau mengatakan bahwa harga naik merupakan ketentuan Allah, dan perlu muslim ingat, Allah Maha Menyempitkan rezeki serta Maha Malapangkan rezeki. Kemudian nabi berkata, “Sementara aku berharap bisa berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak ada seorang pun dari kalian yang menuntutku karena kezalimanku dalam urusan darah maupun harta.”
Nabi mengucapkan hal itu lantaran dalam jual beli ada tarik menarik antara pembeli dan penjual. Pembeli ingin harganya jadi murah. Penjualnya kepingin harganya mahal biar untung. Maka, Nabi tidak ingin menzalimi salah satunya dengan menurunkan harga yang sedang berlangsung. Bisa jadi ada alasan tertentu dari naiknya harga.
Keinginan antara penjual dan pembeli saling kontradiksi. Sama dengan cerita seorang bapak-bapak. Bapak ini punya dua anak. Suatu hari si bapak ingin pergi ke rumah anak-anaknya. Pergilah si bapak ke rumah anak pertama.
Ketika telah bertemu si anak, anak pertama ingin bapaknya mendoakan sesuatu untuknya. Si anak ingin agar bapak berdoa semoga hujan turun, misal, karena sawahnya biar subur. Bapaknya mengiyakan. Kemudian si bapak pergi ke anak kedua.
Bertemulah si bapak dengan anak keduanya itu. Sama seperti sebelumnya, anak kedua minta agar bapaknya mendoakan sesuatu untuknya. Yaitu, si anak ingin bapaknya berdoa agar hujan sementara tidak turun, misal, karena masih menjemur padinya. Lalu, bapak mengiyakan.
Bapak pulang dengan kebingungan. Salah satu anaknya minta hujan, yang lain minta agar tidak hujan dulu. Si bapak pakai jalan tengah. Semoga yang ingin hujan di wilayahnya turuh hujan. Wilayah yang lain jadi panas. Sekarang malaikat yang jadi bingung. jadi hujan atau tidak. Ribet akhirnya.
Syukur dan Sabar Adalah Kuncinya
Adanya kenaikan harga bukan hal mudah sebenarnya. Tapi, muslim harus tetap bersyukur. Di dunia ini ada dua pilihan: Harga naik tapi rezeki melimpah atau harga murah rezeki sedikit. Dua hal inilah yang menjadi ujian bagi manusia.
Buktinya pada tahun 1994 sepeda motor harganya berkisar tiga jutaan saja. Itu sudah baru bukan bekas. Namun yang punya sepeda motor pada masa itu hanya beberapa saja. Sekarang, lima belas juta baru bisa dapat sepeda motor. Tapi, hampir tiap rumah punya sepeda motor. Bahkan ada yang punya lebih dari satu.
Kembali pada pilihannya, harga murah atau rezeki melimpah. Ingin keduanya? Tidak bisa. Bagai cerita dari anak kecil yang menangis di jalan. Tak lama, seorang bapak-bapak datang dan menyanyai anak tersebut. “Ngapain kamu menangis?” Tanya si bapak. Si kecil menjawab, “Uangku sepuluh ribu hilang.”
Maka, si bapak memberikan selembar bernilai sepuluh ribu kepada anak itu untuk mengganti uangnya yang hilang. Si bapak pun pergi dari tempat itu. Namun tak lama, si kecil kembali menangis. Si bapak kembali lagi dan bertanya, “Kok nangis lagi.” Si kecil merespon, “Kalau akau tidak kehilangan uangku yang sebelumnya niscaya akau akan mendapatkan uang dua puluh ribu.”
Pernyataan si anak memang tidak salah, tapi si bapak yang sudah merelakan uang sepuluh ribu ini agak terganggu mendengar kata-kata itu. Tidak sepantasnya setelah menerima uang itu si anak merasa tidak puas. Hal itu bisa membuat marah si bapak.
Kembali ke permasalahn. Kemudian saat harga naik, selanjutnya muslim haruslah bersabar. Harga naik adalah salah satu ujian dari Allah SWT. Tentunya ujian itu adalah hal wajib dalam kehidupan muslim seperti ujian sekolah yang wajib para siswa mengikutinya. Tentunya, ujian itu akan mengantarkan pada derajat yang lebih tinggi.
Sedangkan, sudah menjadi pengetahuan umum untuk setiap muslim apa jawaban ujian kehidupan. Jawabannya adalah dengan sabar. Sabar itulah kunci jawaban menjalani ujian untuk menuju derajat selanjutnya.
Kehidupan ini penuh lika-liku. Harga kadang jadi pemandangan buruk, kadang juga menjadi hal membahagiakan. Mengatasi lika-liku ini muslim sudah ada cara mengatasinya. Sekarang permasalahannya adalah mau memakai cara ini atau tidak. Sudah pasti cara ini adalah kunci terbaik menjalani kehidupan.
(Ahmad Firman Ghani Maulana/Mediatech)
