25 September, 2018
  • 25 September, 2018

MENJADI SUAMI TERBAIK

By on 12 Februari, 2017 0 87 Views

ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Ibnu Abbbas RA, Rasul SAW bersabda :
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya (istrinya). Dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku (istriku)” [HR Ibnu Majah]

Catatan Alvers

Memiliki rumah tangga yang bahagia dan harmonis merupakan idaman setiap mukmin bahkan setiap orang namun faktanya berkata lain, semakin tahun semakin banyak rumah tangga yang gagal dan berakhir dengan perceraian. Mengapa demikian?. Setiap pasangan pastilah ingin membahagiakan satu sama lain namun seringkali manusia salah dengan menganggap kebahagiaan hanya bertumpu kepada harta. Ingin membahagiakan istri, maka suami kerja di tempat yang jauh sehingga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tidak berkumpul dengan istrinya.Suami lupa bahwa kebutuhan istri tidak sebatas nafkah lahir namun tidak kalah pentingnya juga memenuhi nafkah bathin.

Agama islam sangatlah memperhatikan keharmonisan hubungan rumah tangga dan sangat peduli terhadap nasib istri serta haknya untuk mendapatkan nafkah bathin. Pada suatu malam, Khalifah umar berkeliling kota madinah untuk melihat langsung kondisi rakyatnya. Saat itu ia mendengar seorang wanita mendendangkan syair dalam bahar thawil sbb. :
أَلَا طَالَ هَذَا اللَّيْلُ وَاسْوَدَّ جَانِبُهُ وَأَرَّقَنِي إذْ لَا خَلِيلَ أُلَاعِبُهُ
Ingatlah, malam ini terasa sangat panjang dan gelap semua sisinya. Hal ini membuatku semakin menderita karena tiadanya kekasih untuk aku bermain (cinta) dengannya.
فَوَاَللَّهِ لَوْلَا اللَّهُ تُخْشَى عَوَاقِبُهُ لَزُعْزِعَ مِنْ هَذَا السَّرِيرِ جَوَانِبُهُ
Demi Allah, Seandainya tidak takut akan adzab Allah niscaya sisi ranjang ini telah bergoyang (dengan perbuatan zina).
مَخَافَةَ رَبِّي وَالْحَيَاءُ يَكُفُّنِي وَأُكْرِمُ زَوْجِيَ أَنْ تُنَالَ مَرَاكِبُهُ
Namun karena takut (murka) tuhan-ku dan sifat malu mencegahku (dari berbuat demikian) dan aku memuliakan suamiku agar ia senantiasa mendapatkan kendaraannya (istrinya).

Setelah mendengar syair ini, keesokan harinya Khalifah umar memanggil wanita tersebut untuk dimintai keterangan. Ternyata wanita itu adalah istri yang ditinggal jauh oleh suaminya yang tak lain sebagai seorang prajurit yang sedang dikirim ke iraq (untuk berperang. Prihatin dengan kondisinya akhirnya sang khalifah memanggil beberapa wanita untuk ditanyai berapa lama wanita tahan hidup jauh dari suaminya. Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa wanita bisa bersabar selama dua bulan, semakin tipis kesabaran hingga tiga bulan dan habis kesabarannya jika mencapai empat bulan. Dengan ini maka Khalifah umar menetapkan masa tugas paling lama berperang dari seorang prajurit adalah empat bulan. Jika lewat empat bulan maka ia menarik pasukan tersebut dan menggantikan dengan pasukan yang lain. [Al-Muntaqa, Syarah Al-Muwattha’]

Dalam membina rumah tangga harmonis tidak cukup dengan kwantitas pertemuan saja namun diperlukan pula perhatian yang banyak dengan memperlakukan istri dengan cara yang istimewa sebagaimana hadits utama di atas yaitu Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya (istrinya). [HR Ibnu Majah] sebagaimana Rasul sendiri mencontohkannya.

Imam Ibnu Katsir berkata : Termasuk akhlak Nabi SAW, beliau sangat baik dalam memperlakuan istri, selalu berseri-seri, suka bersenda gurau dan bercumbu rayu dengan istri, bersikap lembut dan melapangkan nafkahnya serta tertawa bersama istri-istrinya. Sampai-sampai, beliau pernah mengajak ‘Aisyah Ummul Mukminin berlomba lari [Tafsir Ibnu Katsir]

Allahpun memerintahkan demikian dengan firman-Nya:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan pergauli mereka (para istri) dengan cara yang baik.” [QS An-Nisa: 19]

Al-Hafidz Ibnu Katsir menjelaskan ayat tersebut: Yakni perindahlah ucapan kalian terhadap mereka (para istri) dan perbaguslah perbuatan serta penampilan kalian sesuai kadar kemampuan. Sebagaimana engkau menyukai bila ia (istri) berbuat demikian, maka engkau (semestinya) juga berbuat hal yang sama.[Tafsir Ibnu Katsir]

Kata “berbuat hal yang sama” pada perkataan tersebut saya jadikan sebagai kata kunci dalam keharmonisan rumah tangga. Namun demikian semua itu dilakukan disertai dengan komunikasi yang terbuka satu sama lain. Berikut ada sebuah kisah menarik mengenai hal ini. Di sebuah gedung pertemuan yang amat megah, seorang pejabat senior istana sedang menyelenggarakan pesta ulang tahun perkawinan emasnya.

Menariknya dalam rangkaian acara tersebut, terdapat prosesi penyerahan hidangan istimewa dari sang pejabat kepada istri tercintanya. Hidangan itu berupa seekor ikan emas yang dimasak oleh koki ternama dan diletakkan di sebuah piring besar yang mahal.

Sang pejabat memulai sambutannya : “Hadirin sekalian, ikan emas ini bukanlah ikan yang mahal. Tetapi, inilah ikan kegemaran kami berdua, sejak kami menikah dan masih belum punya apa-apa, sampai kemudian di usia perkawinan kami yang ke-50 serta dengan segala keberhasilan ini. Ikan emas ini tetap menjadi simbol kedekatan, kemesraan, kehangatan, dan cinta kasih kami yang abadi”

Lalu, Pejabat tadi mengambil piring dan memotong bagian kepala dan ekor ikan emas. Dengan senyum mesra dan penuh kelembutan, ia berikan piring berisikan potongan kepala dan ekor ikan emas tadi kepada isterinya. Namun tanpa terduga, Istri sambil menagis berkata : “Suamiku, Kita menikah sudah 50 tahun. Selama itu pula, aku melayanimu dengan sepenuh hati. Demi cintaku, aku rela selalu makan kepala dan ekor ikan emas selama 50 tahun ini. Tapi sungguh tak kusangka, di hari istimewa ini engkau masih saja memberiku bagian yang sama. Ketahuilah suamiku, itulah bagian yang paling tidak aku sukai.”

Suasanapun menjadi hening. Sang suami terdiam dan dengan mata berkaca-kaca ia berkata : “Isteriku yang sangat kucintai, 50 tahun yang lalu saat aku masih miskin, kau bersedia menjadi teman hidupku. Saat itu aku bersumpah akan bekerja keras demi untuk membahagiakanmu, membalas cinta kasih dan pengorbananmu.” Sambil mengusap air matanya, “Sungguh, setiap makan ikan emas, bagian yang paling aku sukai adalah kepala dan ekornya. Tapi sejak kita menikah, aku rela menyantap bagian tubuh ikan emas itu. Semua kulakukan demi sumpahku untuk memberikan yang paling berharga buatmu.”

Ia melanjutkan lagi, “Walaupun telah bersama 50 tahun dan saling mencintai, ternyata kita tidak cukup saling memahami. Maafkan aku, hingga detik ini belum tahu bagaimana cara membuatmu bahagia.” Akhirnya, sang pejabat itu memeluk isterinya dengan erat. Tamu-tamupun “trenyuh” melihat pengorbanan mereka. Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk meneladani uswah beliau dalam metode membina Rumah tangga bahagia.

Salam Satu Hadith,
DR.H.Fathul Bari Alvers
PP Annur2 .net Malang, Ind

Temukan Artikel terbaik Lainnya dalam
BUKU ONE DAY ONE HADITH
Kajian Hadits Sistem SPA
(Singkat, Padat, Akurat)
Buku Serial #1 dan #2
Harga Promo, hub.: 081216742626

UMRAH ALVERS Bersama Admin ODOH Alvers, Periode 20 April 2017 13 Hari Hanya Rp 26 Juta (Net, tanpa tambahan) Pesawat Saudia Langsung Madinah, Hotel Dekat, (Mekkah 7 H –Madinah 4 H) Free: Pigura Foto Depan Ka’bah, Video Dokumentasi, Asuransi-Airport tax-Handling-Perlengkapan. WA : 08125214321

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: