Menjadi Suami Terbaik dalam Rumah Tangga

PASAR WAQIAH RAMADAN MALAM KE-23: Menjadi Suami Terbaik dalam Rumah Tangga

KAJIAN HAK DAN KEWAJIBAN SUAMI

OLEH: Dr. KH. FATHUL BARI, S.S., M.Ag.

annur2.net – Akhir-akhir ini banyak kasus pertengkaran dalam rumah tangga. Seorang penghulu bercerita bahwa Jawa Timur menempati peringkat pertama dengan jumlah perceraian paling tinggi. Banyak pula berita beredar mengenai istri membunuh suami atau sebaliknya. Ini semua berakar dari problematika rumah tangga.

Seharusnya rumah tangga itu menjadi surga dan mengaplikasikan baiti jannati (Rumahku adalah surgaku). Namun tanpa pondasi yang kuat, rumah tangga juga bisa menjadi neraka.

Dahulu Nabi Adam ada di surga. Semua hal ada di dalamnya. Tapi beliau masih merasa kurang dan meminta Allah untuk mendatangkan Siti Hawa. Nabi Adam dan Siti Hawa pun berkeluarga. Tanpa keluarga tidak ada yang indah. 

Keluarga ada di dalam rumah tangga. Dalam bahasa Arab rumah adalah maskan dari fi’il madhi sakina yang memiliki arti ketenangan. Mestinya rumah menjadi tempat ketenangan bagi seorang suami yang pulang dari tempat kerjanya.

Meski begitu, rumah tangga yang harmonis bergantung pada peranan sang suami. Ada yang pernah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, orang mukmin mana yang sempurna imannya?” Kemudian beliau menjawab, “Lelaki yang terbaik akhlaknya, terbaik dalam memperlakukan anak, istri dan keluarganya.”

Memilih Suami yang Bertakwa

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka semua masalahnya dapat selesai dengan baik. Suatu ketika ada seorang bapak datang kepada Sayidina Hasan bin Ali ra. Ia mengadukan masalahnya, “Wahai Sayidina Hasan, saya mempunyai anak perempuan yang cantik. Banyak lelaki yang melamarnya, kira-kira lelaki mana yang pantas saya jadikan menantu. Apakah yang kaya atau tampan atau jabatan tinggi atau yang berdarah biru?”

Kemudian Sayyidina Hasan menjawab, “Nikahkan putrimu dengan pria yang bertakwa. Kalau suami itu takut kepada Allah dan cinta istri, maka suami akan memuliakan istrinya. Jika ia marah, maka ia tidak akan menyakiti istrinya.” 

Itulah hikmah menikahkan anak perempuan dengan pria yang bertakwa. Sesuai dengan hadis Nabi Muhammad saw., bahwa suami yang paling baik adalah yang terbaik dalam memperlakukan istrinya. Termasuk suami terbaik adalah yang bertanggung jawab. Ia harus bertanggung jawab sebagai kepala rumah tangga untuk mencari nafkah, sesuai kemampuannya. 

Maka seorang suami menjadi mulia ketika bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Nabi Muhammad pernah bersabda, “Satu dinar kamu sedekahkan di jalan Allah, satu dinar untuk memerdekakan budak, satu dinar untuk berbagi ke orang fakir-miskin dan satu dinar terakhir untuk keluarganya. Maka pahala yang paling besar adalah dari satu dinar untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Maka terpujilah suami yang bekerja setiap hari untuk keluarga.”

Jangan mengira uang pemberian suami tidak ada pahalanya. Jika dibandingkan dengan sedekah kepada orang lain, uang belanja untuk memenuhi kebutuhan keluarga lebih utama. 

Suami Sebagai Pemimpin Rumah Tangga

Suami tercipta untuk menjadi pemimpin. Sementara istri tercipta dari tulang rusuk yang bengkok. Maka jangan jadikan istri sebagai tulang punggung keluarga. Kebahagian keluarga tidak melulu tentang materi, tetapi tergantung sikap suami kepada keluarga.

Imam Ibnu katsir meriwayatkan bahwa Rasulullah saw., adalah suami yang penuh kasih sayang. Beliau senantiasa tersenyum di hadapan istri dan anak-anaknya, bersenda gurau, serta bersikap lembut kepada mereka. Meskipun beliau adalah seorang panglima perang, ketika pulang ke rumah, wajahnya tetap berseri-seri dan tidak menunjukkan kekerasan. Rasulullah saw., tidak pelit dalam membelanjakan hartanya untuk keluarganya. Beliau bahkan pernah berlomba lari dengan istrinya sebagai bentuk kasih sayangnya.

Kewajiban Suami Terhadap Istri dan Sebaliknya

Dalam hadis riwayat Ibnu Majah, Nabi Muhammad saw., pernah bersabda bahwa suami memiliki hak dan kewajiban kepada istri, begitu pula sebaliknya. Kewajiban suami kepada istri di antaranya:

  1. Memberikan makanan yang baik dan halal kepada istri.
  2. Menyediakan pakaian yang layak dan menutup aurat.
  3. Mengajarkan ilmu agama kepada istri, atau mengirimnya ke majelis ilmu jika suami tidak mampu mengajarkan sendiri.
  4. Tidak menzalimi istri karena istri adalah amanah (titipan) dari Allah Swt.
  5. Bersabar atas kekurangan istri dan menghadapinya dengan bijaksana.

Pada zaman Sayyidina Umar, ada seorang lelaki yang memiliki istri sangat cerewet. Ia sudah tidak kuat dengan istrinya. Akhirnya ia menghadap kepada Sayyidina Umar untuk mengeluhkan masalahnya. Sayidina Umar adalah orang yang paling disegani, bahkan setan juga takut kepadanya. 

Saat tiba di depan rumah Sayyidina Umar, orang tersebut mendengar suara perempuan dari dalam rumah beliau dengan nada yang tinggi. Mendengar itu, ia berubah pikiran. Menurutnya jika ia tetap mengadu tentang istri yang cerewet, hasilnya sama saja. Istri Sayyidina Umar juga seperti istri lak-laki itu. 

Akhirnya lelaki tersebut kembali dari rumah Sayyidina Umar. Ternyata beliau mengetahui ada tamu yang tidak jadi masuk. Beliau pun keluar dan memanggil orang tersebut. Kemudian beliau bertanya, “Mengapa tidak jadi bertamu ke rumahku?”

Orang tersebut menjawab dengan menceritakan masalahnya tentang istri cerewet. Ia tidak jadi sebab mengetahui jika Sayyidina Umar menghadapi hal yang sama. Maka lebih baik dia memilih pulang. 

Mendengar ceritanya, Sayyidina Umar memberi alasan suami harus tetap sabar, meski sebenarnya ingin marah ke istrinya. Ada lima alasan dari Sayidina Umar: 

  1. Istri adalah penghalang suami dari dosa zina.
  2. Istri menjaga harta dan rumah tangga saat suami pergi.
  3. Istri mencuci pakaian tanpa meminta bayaran.
  4. Istri menyusui anak-anak, yang jika harus menggunakan susu formula akan menghabiskan banyak biaya.
  5. Istri memasak makanan untuk keluarga.

Maka, jika istri marah-marah, ingatlah bahwa ia sedang lelah dengan banyak pekerjaan rumah tangga. Sayyidina Umar, yang bahkan setan takut kepadanya, tetap bersabar menghadapi istrinya.

Hakikat Pasangan Terbaik

Nabi Muhammad juga pernah mengingatkan para suami, “Jangan pernah marahi istrimu. Jika ada sesuatu yang tidak menyenangkan darinya, ingatlah bahwa pasti ada banyak kebaikan lain yang ia miliki.” Dalam hadis lain, Rasulullah juga bersabda, “Janganlah seorang suami mencambuk istrinya di siang hari, lalu menggaulinya di malam hari.”

Maka jadilah pasangan yang baik. Pasangan yang baik bukan yang kaya atau berpangkat tinggi. Tetapi pasangan terbaik yang dapat saling menyempurnakan.

(Abu Raihan Efendi/Mediatech An-Nur II)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU