Menikmati Air di Pondok Pesantren An-Nur II

Gersang tanah kami. Tak ada kebun di belakang rumah, apalagi sawah. Yang ada tanah gersang yang kering dan pecah-pecah. Seteguk air adalah harga yang harus dibeli mahal. Di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, kami tinggal. Dan di sebarang sana, bapak kami bekerja menjadi montir pesawat, di Singapura.

Saya Varel Yuan Asror Winata, santri kelas satu SMP di Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo”. Menjadi santri adalah keinginanku sejak kelas 4 SD, untuk mengikuti jejak kakak-kakakku.

Aku senang belajar di pesantren. Apalagi di pesantren wisata ini, hawa sejuk dan dingin membuat belajarku nyaman. Rerumputan tumbuh hijau di taman dan pohon-pohon berjajar sepanjang jalan. Udara dingin selalu menemaniku ketika berangkat sekolah.

Sebuah pemandangan yang sulit ditemukan di rumahku. Tanahnya tandus, tidak bisa ditanami apa-apa. Untuk membangun rumah saja, harus mengeluarkan banyak biaya untuk membeli satu truk tanah dari Batam.

Belum lagi listrik di rumahku yang selalu padam setiap pukul sembilan malam dan baru menyala ketika Subuh. Kami bersyukur belajar di pesantren di Malang ini, listrik selalu ada. Lampu menyala di setiap sudut anak-anak mengaji dan menghafal kitab.

Air melimpah di pesantrenku ini. Tak pernah ada yang melarang aku mandi tiga kali sehari, lima kali sekalipun. Di kamar-kamar mandi tak pernah kosong air. Sementara di bawah jurang dekat kamarku, mengalir sungai besar yang membelah pesantren ini menjadi dua.

Dari tempat air minum yang sudah disterilkan, aku bisa minum sepuasnya, dan itu gratis. Tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli minum. Air yang dipompa dari sumur bor masuk alat penyeteril air. Dari situ aku bisa langsung meminum airnya tanpa harus dimasak.

Sedang di rumahku, seteguk air saja harus dibeli. Lima ribu rupiah selalu kami keluarkan untuk satu galon air minum. Air dari PDAM tidak bisa diminum, warnanya kuning dan keruh.

Dan kalau air dari PDAM itu mati, kami harus mengeluarkan tiga ratus ribu untuk membeli air dari penjual air yang mengangkat air dari sungai. Dalam satu minggu kami bisa membeli tiga sampai empat kali untuk mandi. Itupun tak selalu ada, dan kekeringan bisa terjadi selama sebulan lebih.

Di daerahku sana, barang elektronik memang lebih murah. Karena tempatku adalah gerbang masuk barang import yang akan dikirim ke Jawa. Tapi, nasi adalah barang mewah bagi kami. Untuk satu kilogram beras saja, harganya bisa sampai seratus lima puluh ribu.

—…—

Demikianlah cerita Yuan, santri baru yang berasrama di Kamar Al-Ghozali. Ia dan ribuan santri lainnya dapat menikmati air minum segar yang telah disterilkan. Dengan alat penyeteril air itulah Pondok Pesantren An-Nur II memenuhi kebutuhan air minum yang sehat dan menyegarkan untuk para santri.

Air yang tersedia bukan dibeli dari PDAM, melainkan bersumber dari sumur-sumur yang dipompa dan disalurkan ke masing-masing daerah. Untuk memenuhi kebutuhan ribuan santri yang tersebar di tujuh belas hektar luas pondok pesantren, telah tersedia beberapa sumur bor yang sudah dipasang pompa. Sehingga pendistribusian air lancar dan kebutuhan air selalu terpenuhi sepanjang tahun.

(Mediatech An-Nur II/MFIH)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: