Mengundi Nasib: Kebiasaan Zaman Jahiliyah

Mengundi Nasib: Kebiasaan Zaman Jahiliyah

Mengundi Nasib: Kebiasaan Zaman Jahiliyah

(Tafsir surat Al-Maidah ayat 3, #2)

“…Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, dan semuanya (memakan makanan haram dan mengundi nasib dengan anak panah) adalah perbuatan fasik…”

Mengundi nasib pada zaman Nabi Muhammad diutus menjadi rasul sudah menjadi kebiasaan orang-orang jahiliyah. Biasanya pengundiannya menggunakan anak panah. Praktiknya hampir sama dengan mengundi nasib dengan melepaskan burung, jika ke kanan baik dan jika ke kiri jelek. Oleh karena itu, perbuatan ini oleh Allah dikatakan sebagai perbuatan orang fasik.

*Alat Pengundi Nasib Zaman Jahiliyah*

Yang dimaksud anak panah di sini bukan seperti anak panah biasanya yang berujung tajam dan memiliki bulu di ekornya, melainkan anak panah yang unjungnya tumpul tanpa bulu. Anak panah yang digunakan untuk mengadu nasib ini berjumlah tujuh buah. Kalau sedang tidak dipakai, anak panah ini disimpan oleh juru kunci Ka’bah di Qubal, berhala terbesar di Makkah saat itu. Jika ingin memakainya, si pengundi nasib biasanya akan memberikan uang seratus dirham sebagai harga sewa. Kalau dikurskan dengan mata uang rupiah, kira-kira tembus sampai enam juta rupiah.

Dari tujuh anak panah terdapat beberapa tujuh tulisan. Yang masing-masing dapat memecahkan empat masalah. Pertama, masalah yang jawabannya iya atau tidak. Maka, di anak panah tersebut terdapat tulisan amaroni robbi (Tuhan memerintahkanku) dan tulisan nahani robbi (Tuhan melarangku). Kalau yang keluar tulisan pertama, berarti hajat orang yang mengundi itu disetujui. Kalau yang keluar kalimat kedua, maka tidak disetuji.

Kedua, masalah hukuman orang yang bertindak kriminal. Tulisan di anak panah dalam masalah ini adalah aql dan ghofl. Bagi orang yang telah melakukan tindak kriminal dan mendapatkan anak panah bertuliskan aql, maka ia diharuskan membayar diyat (denda). Sebaliknya, jika ia mendapat anak panah yang bertuliskan ghofl, maka ia bebas dengan percuma.

Baca juga  KAUM BERAGAMA NEGERI INI

Dan yang ketiga bisa memecahkan masalah pencarian garis keturunan. Untuk masalah ini, terdapat tiga anak panah. Yakni, bertuliskan wahid min kum dan wahid ghoiro kum. Bagi pengundi yang mendapatkan tulisan pertama, berarti nama yang dipertaruhkan senasad dengannya. Sedangkan orang yang mendapatkan tulisan terakhir, berarti bukan satu nasab.

Terakhir, masalah keempat yang dapat diselesaikan undian tersebut adalah masalah penggalian sumur. Dalam masalah ini anak panahnya bertuliskan miyah. Jadi, orang jahiliyah dulu sebelum menggali sumur terlebih dahulu mengundinya. Jika yang muncul bertuliskan miyah, maka dengan sangat yakin mereka akan menggali. Jika tidak, maka itu mereka sangka Tuhan tidak menghendakinya.

Mengenai masalah pengundian ini, Rasulullah SAW pernah bersinggungan. Beliau bersabda, “Aku adalah anak dua orang yang disembelih.” yang dimaksud anak orang yang disembelih adalah keturunan orang yang hendak disembelih. Yang pertama, beliau adalah keturunan Nabi Ismail, yang hendak disembelih Nabi Ibrahim. Dan yang kedua adalah putra dari Abdullah bin Abdul Muthalib.

*Kisah Penyembelihan*

Ada kisah menarik mengenai ‘penyembelihan’ Abdullah ini. Dikisahkan, Abdul Muthalib pernah bersumpah akan membunuh anaknya jika mencapai bilangan sepuluh. Dan ternyata, beliau memiliki anak jumlahnya pas sepuluh. Jadilah ia mengundi siapa anak yang akan disembelih. Undian yang keluar jatuh kepada Abdullah. Kemudian Abdul Muthalib mengambil golok hendak menyembelih Abdullah. Namun, hal itu dicegah oleh para keluarganya, dan Abdullah diganti dangan tebusan seratus unta.

Oleh karena pengundian ini adalah hal yang merugikan, Allah memberikan solusi. Yakni dengan adanya syariat salat istikharah. Salat ini bisa dilakukan kapan saja dengan jumlah rakaat minimal dua rakaat. Untuk urusan pertanda tidak harus mimpi, tapi bisa dengan bertambahnya rasa yakin dalam hati untuk melakukan keinginan yang ingin dicapai. Bahkan, Nabi SAW tidak pernah mengajarkan tentang pertanda diterimanya salat istikharah ini dengan mimpi.

Baca juga  Media Sosial Adalah Media Dakwah

(Muhammad Miqdadul Anam/Mediatech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: