Mengingat Allah di Pasar, Bentuk Rasa Syukur Terbesar

Di Pasar Tetap Ingat Allah

Masjid adalah destinasi terbaik dalam urusan ibadah, sedangkan pasar adalah daerah paling rawan untuk melakukan maksiat.

Pasar, Tempat Terburuk di Dunia

Dalam urusan dunia, pasar adalah salah satu kawasan terbanyak yang paling banyak pengunjung. Tempat itu sendiri tujuannya hanyalah wadah tempat jual beli. Bagi kebanyakan orang, jual beli tentu sangatlah penting demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Namun, Rasul menyampaikan sebuah berita yang mengecam lokasi tersebut. Bahkan seakan-akan lokasi itu menjadi tempat terburuk di dunia hingga saat ini. Rasulullah bersabda:

أَحَبُّ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا.

Artinya: “Tempat yang paling Allah cintai adalah masjid dan tempat yang paling Allah benci adalah pasar.” [HR. Muslim: 671]

Secara logika, hal ini justru menghardik sebagian pedagang dan pelanggan mereka. Padahal, Rasul tidak mungkin semena-mena bersabda tanpa suatu alasan.

Jual beli dalam konteks universal itu hukumnya boleh. Hanya saja dalam praktiknya, manusia seringkali berbuat kemaksiatan di lingkungan tersebut. Imam Yahya bin Syarf An-Nawawi menjabarkan hadis di atas dalam kitab syarahnya:

وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا لِأَنَّهَا مَحَلُّ الْغِشِّ وَالْخِدَاعِ وَالرِّبَا وَالْأَيْمَانِ الْكَاذِبَةِ وَإِخْلَافِ الْوَعْدِ وَالْإِعْرَاضِ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا فِي مَعْنَاهُ

Artinya: “Sedangkan kalimat ‘tempat yang paling Allah benci adalah pasar’, karena di situ adalah tempat tipu-tipu, pengelabuan, riba, janji-janji palsu, pengingkaran janji, dan mengabaikan Allah, serta hal serupa lainnya.” [Syarah Shahih Muslim]

Jual Beli di Pasar Tetaplah Boleh

Meski Allah berfirman langsung bahwa pasar itu tempat terburuk, Allah tidak akan melarang hamba-Nya untuk menggiatkan sebuah transaksi. Sebab Allah sendiri pun melakukan satu transaksi kepada kita. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ اشۡتَرٰى مِنَ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ اَنۡفُسَهُمۡ وَاَمۡوَالَهُمۡ بِاَنَّ لَهُمُ الۡجَــنَّةَ​ ؕ

Artinya: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” [QS. At-Taubah: 111]

Dari sini kita pahami, Allah membeli, bertransaksi, dan dapat kita teladani. Demikian dengan para nabi, mereka bahkan menganjurkan para umatnya untuk memberlakukan perdagangan di pasar. Hal itu senada dengan firman Allah:

وَمَاۤ اَرۡسَلۡنَا قَبۡلَكَ مِنَ الۡمُرۡسَلِيۡنَ اِلَّاۤ اِنَّهُمۡ لَيَاۡكُلُوۡنَ الطَّعَامَ وَيَمۡشُوۡنَ فِى الۡاَسۡوَاقِ​ ؕ وَجَعَلۡنَا بَعۡضَكُمۡ لِبَعۡضٍ فِتۡنَةً  ؕ اَتَصۡبِرُوۡنَ​ ۚ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيۡرًا

Artinya: “Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu (Muhammad), melainkan mereka pasti memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat.” [QS. Al-Furqan: 20]

Maka alasan paling tepat tentang buruknya pasar adalah maksiatnya. Kita berhak melakukan transaksi di pasar, tapi tidak boleh menipu, mengelabui, melakukan riba, dan hal lainnya yang berbau maksiat.

Bentuk Rasa Syukur Terbesar di Pasar

Dalam urusan akhirat, ibadah tidak hanya berlaku di dalam masjid. Di pasar, tentunya kita bisa beribadah dengan mengingat Allah Swt. Ibadah di pasar ini bukanlah salat, tetapi keteguhan niat meninggalkan maksiat. Dzikir dan doa adalah sarana terbaik untuk beribadah di pasar. Doa itu sebagai berikut:

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ لاَ يَمُوْتُ، بِيَدِهِ الْخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Artinya: “Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya segala pujian. Dia-lah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan. Dia-lah Yang Hidup, tidak akan mati. Di tangan-Nya kebaikan. Dia-lah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.|”

Dalam suatu riwayat, siapa orang yang membaca doa di atas ketika masuk pasar, maka Allah akan mencatat untuknya satu juta kebaikan dan menghapuskan darinya satu juta keburukan serta mengangkat satu juta derajat. [HR. Tirmidzi dan Al-Hakim]

Karena kita masih bisa mengingat Allah di daerah seburuk-buruknya itu, kita sama saja dengan bersyukur sebesar-besarnya pada-Nya.

(Mohammad Ibnu Sholeh/Lingkar Pesantren)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU