Menghindari Makanan-makanan Haram

Menghindari Makanan-makanan Haram

Menghindari Makanan-makanan Haram

(Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 3, #1)

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala…”

Makanan adalah hal penting dalam kehidupan. Karenanya, pangan menjadi salah satu bagian dari kebutuhan primer. Ayat di atas turun dalam konteks memberikan peringatan bagi umat Islam dalam menjaga apa yang masuk ke dalam perutnya.

Pertama, Allah mengharamkan bangkai untuk dimakan. Kenapa bangkai? Karena kebanyakan bangkai berasal dari hewan yang tidak disembelih. Hewan yang mati dalam keadaan utuh berarti darah yang di dalamnya tidak keluar. Akibatnya, daging akan terpenuhi oleh darah. Ini yang dapat mempercepat proses pembusukan dan menyimpan banyak penyakit.

Berbicara mengenai penyembelihan, ada suatu penelitian unik oleh beberapa ilmuan. Mereka ingin meneliti tingkat kesakitan hewan yang dibunuh dengan cara disembelih dan dipukul. Peneliti itu memasukkan suatu chip ke dalam otak dua hewan, ayam dan kambing. Ternyata, setelah dilihat grafik rasa sakit, hewan yang disembelih menunjukkan peningkatan yang tidak terlalu tinggi. Berbeda dengan yang dipukul, dari hewan tersebut dapat diketahui grafik kesakitan yang lebih tinggi dari yang disembelih

Kedua, yang diharamkan adalah darah. Yang dimaksud darah ini adalah darah yang mengalir ketika disembelih. Sama halnya dengan darah yang dibekukan kemudian dijadikan makanan seperti Dede. Sementara, darah yang masih tersisa dalam urat-urat hewan setelah disembelih hukumnya halal. Ini merupakan kemudahan yang diberikan Allah. Karena akan sulit jadinya jika harus semuanya steril dari darah.

Baca juga  Tiba Sebagai Peserta Terakhir, Pulang Sebagai Juara

Ketiga, adalah daging babi. Alasan keharamannya yaitu karena babi tidak memiliki leher. Maka, babi tidak bisa disembelih. Oleh karena itu, biasanya babi dibunuh dengan disetrum atau ditusuk besi panas dai pantatnya hingga mati. Dan yang keempat adalah hewan yang disembelih atas nama selain Allah.

Kriteria Bangkai

Selanjutnya, pada ayat tersebut Allah menyebutkan beberapa kriteria kematian hewan yang dapat menjadi bangkai. Di antaranya adalah hewan yang mati dicekik, dipukul, terjatuh, tertanduk hewan lain dan diterkam binatang buas. Namun, Allah masih memberi keringanan dengan firman, “Kecuali yang sempat kamu menyembelihnya.”

Yang dimaksud “menyembelihnya” di sini masih ada perbedaan pendapat dari ulama ahli fikih. Intinya, dari hewan-hewan yang dapat menjadi bangkai tersebut masih bisa dihalalkan dengan cara menyembelihnya. Tapi, ada syarat tertentu. Yakni hewan yang masuk kategori hayatu mustaqirroh (hewan yang kesakitan, bukan sedang di ujung ajal). Jadi, jika hewan yang telah dicekik, dipukul, dan lainnya, masih bisa halal ketika kehidupannya bukan seperti ayam yang menggeliat ketika habis disembelih. Karena, gerakan ayam tersebut termasuk kategori hayatu madzbuh (hidupnya hewan yang mendekati ajal).

*disarikan dari pengajian Tafsir Jalalain oleh Dr. KH. Fathul BAri, S.S., M.Ag.

(Muhammad Miqdadul Anam/Mediatech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: