Mengharap Berkah Pesantren

SMK Polimedik

Sebanyak 55 siswa dan guru SMK Polimedik Depok, Jawa Barat berkunjung ke Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo” pada Kamis, 11 April 2019. Maksud dari kunjungan ini adalah untuk bersilaturahmi serta mengaharap berkah dari pengasuh dan pondok pesantren.

*Berkah dari Pesantren*

Kedatangan rombongan ini didasari oleh pesan Kiai Badruddin kepada Bapak Ahmad Sumbu Lawaimi’, selaku ketua rombongan. “Kok dewean tok, gak pingin ta ngejak liyane? (Kok sendirian saja, apa tidak mau mengajak yang lain?).” Demikian dawuh Kiai Badruddin kepada Pak Awai, sapaan akrabnya, saat sowan ketika baru jadi alumni. “Maka, Alhamdulillah sekarang saya bisa membawa rombongan dari SMK Polimedik Depok untuk memenuhi dawuh beliau,” imbuh alumni tahun 2006 ini.

Bukan santri namanya kalau tidak percaya berkah. Atas inisiatif alumni yang mondok selama dua belas tahun ini, kedatangan rombongan ke An-Nur II ditujukan untuk mengharap berkah pesantren. Karena, menurut Pak Awai, berkah itu hanya bisa didapat dari pesantren, kiai dan para pengurus di dalamnya. Dengan berkunjung ke pondok pesantren ia berharap para siswanya mendapat berkah. Karena efek dari berkah itu sangat besar.   

“Barokah itu adalah sesuatu yang sangat sulit dijelaskan,” lanjut Pak Awai. Tetapi, menurut hematnya, barokah itu adalah sesuatu yang sedikit tetapi kita merasakan manfaatnya. Seperti ketika kita dianggap orang sedang kesusahan. Namun, diri kita tidak merasa kesusahan dan bisa menjalaninya dengan mudah. Sebab di dalam pekerjaannya ada berkah dari para ulama. Itulah berkah yang dicontohkan dan dialami sendiri oleh Pak Awai.

*Rukun Islam dalam Genggaman Mikrofon*

Sementara itu, dalam sambutannya, Dr. KH. Fathul Bari, M.Ag. banyak membahas tentang pentingnya salat.  “Rukun Islam itu lima dan yang terpenting adalah salat. Kita bisa mengibaratkannya seperti dengan kelima jari kita yang memegang mikrofon,” tutur Kiai Fathul dalam sambutannya. Bagaikan mikrofon, syahadat yang merupakan rukun Islam pertama diibaratkan jempol. Sedangkan salat diibaratkan telunjuk. Dan seterusnya sampai jari kelingking; masing-masing rukun Islam mewakili satu jari.

Misalkan kita melepas jari kelingking, yang merupakan ibarat rukun Islam haji, mikrofon yang dipegang masih kokoh dalam genggaman. Begitu pula saat jari manis dan jari tengah dilepaskan, pasti mikrofon yang dipegang masih menempel, tidak jatuh. Barulah saat jari telunjuk, yang merupakan ibarat dari Islam salat, dilepas, maka mikrofon yang digenggam pun akan jatuh.

Para siswa dengan Pengasuh

Begitulah salat, tak boleh ditinggalkan. Pantas kalau disebut tiang agama. Sebab, seperti contoh di atas, tanpa ada peran dari jari telunjuk mikrofon akan jatuh dari genggaman. Sama halnya dengan Islam, tanpa melakukan salat, seorang muslim akan runtuh agamanya. Saking pentingnya salat dalam Islam, “Bahkan dalam keadaan genting pun Allah masih memerintahkan salat. Seperti syariat salat syiddatul khouf (salat dalam perang),” imbuh Kiai Fathul.

Setelah kunjungan berakhir, para siswa polimedik banyak terkesan dengan kenyamanan dan keindahan di pesantren terbesar Malang Raya ini. “Saya merasa senang bisa singgah di pesantren An-Nur. Kami merasa senang, dan nyaman dengan para santri. Luar biasa dah,” kesan Ramdon, salah satu siswa SMK Polimedik.

“Harapan saya, Pondok Pesantren An-Nur II menjadi semakin besar dan mampu menampung banyak santri-santri yang menuntut ilmu, karena pesantren ini memiliki banyak keberkahan. Kata kiai, siapa pun yang menginjak tanah ini, maka insyaallah hidupnya akan berkah dunia dan akhirat,” harap Pak Awai, yang juga merupakan sahabat Kiai Zainuddin sejak kecil ini.

(Rian/Mumianam/Media-tech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

Pondok Pesantren An Nur II Al Murtadlo.

%d blogger menyukai ini: