Iman di Hati, Dusta di Lisan
“Sudah berapa muslim yang telah mengaku dirinya beriman, sedangkan mereka masih melakukan maksiat berulang-ulang?”
Hal itu terjadi tanpa kita sadari. Iman adalah perkara batin yang harus kita pertahankan. Dalam kitab al-Arbauna Fi at-Tashawuf hadis ke-8 tertulis:
لَيْسَ الْإِيْمَانُ بِالتَّمَنِّيْ وَلَا بِالتَّحَلِّيْ وَلَكِنْ مَا وَقَرَ فِيْ الْقَلْبِ وَصَدَّقَهُ الْعَمَلُ وَالْعِلْمُ عِلْمَانِ عِلْمٌ بِاللِّسَانِ وَعِلْمٌ بِالْقَلْبِ فَعِلْمُ الْقَلْبِ النَّافِعُ وَعِلْمُ اللِّسَانِ حُجَّةُ اللهِ عَلَى ابْنِ آدَمَ
“Iman bukan sekadar angan-angan ataupun penampilan. Iman itu keyakinan yang tertancap kuat di dalam hati dan menjadi manifestasi amalan sehari-hari. Kemudian ilmu di sini terbagi menjadi dua: ilmu dari lisan dan ilmu dari hati. Jika seseorang telah memiliki ilmu di hatinya, ilmu itu akan bermanfaat dan meresap ke dalam perilakunya. Jika seseorang hanya memiliki ilmu di lisannya saja, ilmu itu akan Allah jadikan sebagai alasan untuk menyiksa dirinya karena berdusta.”
Imam al-Bushiri bertutur dalam kasidah burdahnya:
أَسْتَغْفِرُ الَّلهَ مِنْ قَوْلٍ بِلاَعَمَــلٍ لَقَدْ نَسَبْتُ بِهِ نَسْلً لِذِي عُقُمِ
Artinya: “Aku memohon ampunan kepada Allah atas ucapan yang tidak kuamalkan. Hal itu sama saja diriku menisbahkan dengan keturunan bagi yang mandul.”
Iman dan ilmu mempunyai satu relasi yang sangat kuat, yaitu tentang penetapan keyakinan dan perbuatan dalam hati. Iman berarti meyakini. Dan ilmu berarti menggerakkan. Dengan begitu, orang beriman haruslah berilmu, begitu pun sebaliknya.
Seorang muslim yang yakin bahwa ibadah jungkir baliknya selama ini tidak akan sia-sia, dia orang beriman. Namun jika dia hanya meyakininya tanpa rajin menunaikan ibadah, imannya tidak sempurna.
Jika sudah punya iman, seorang mukmin harus punya ilmu. Umumnya, masyarakat menganggap kita berilmu karena dua faktor: mengajarkan ilmu itu kepada orang lain atau mereka menyadari hasil yang memuaskan dari usaha belajar kita.
Kita berdusta jika sekadar memerintah kebaikan tanpa melakukannya. Untungnya, sejelek apapun orang berdusta, dia tetap mendapat pahala sebab memerintah kebaikan. Dan begitulah, dia berhasil meraih setengah dari fadilah amar makruf nahi mungkar.
Meski begitu, berdusta masih lebih baik daripada mengajak orang dalam kemaksiatan. Untuk menyikapinya, pondok pesantren An-Nur II Al-Murtadlo mengadakan pasar waqiah sebagimana yang Nabi ajarkan dalam sabdanya:
مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْوَاقِعَةِ فِيْ كُلِّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةً أَبَدًا
Artinya: “Barang siapa membaca surah Al Waqiah setiap malam, maka dia tidak akan jatuh miskin selama-lamanya.”
Memandanglah ke Bawah, Bukan ke Atas
“Orang kalau sudah sakit cuma ingin sehat, tapi kalau sudah sehat malah ingin segalanya,” dawuh Kiai Zainuddin.
Dalam kitab al-Arbauna Fi at-Tashawuf hadis ke-9 tertera:
اِنْ أَرَدْتَ اللُّحُوْقَ بِيْ فَلْيَكْفِكَ مِنَ الدُّنْيَا بِقَدْرِ زَادِ الرَّاكِبِ وَإِيَّاكَ وَمُخَالَفَةَ الْأَغْنِيَاءِ
Artinya: “Jika Engkau ingin menyusulku, maka merasalah cukup dengan dunia sebanyak bekal pengembara di atas tunggangannya. Dan berhati-hatilah, jangan bergaul dengan orang miskin.”
Mendahulukan urusan duniawi terkadang membuat kita lupa akan keluarga, atau bahkan ibadah. Begitu juga saat kita banyak bergaul dengan orang kaya. Terkadang, perasaan iri dan susah akan timbul seiring waktu bergaul bersama orang kaya tersebut.
Nabi pernah berkata pada Abudzar, “Cintailah selalu warga-warga miskin di desamu.” Maksud Nabi tak lain ialah agar senantiasa memandang ke strata bawah dalam hal kekayaan. Sebab hal itu juga akan menenangkan pikiran dan menambah lapisan iman kita.
Zaman dulu, para salaf yang miskin justru menampakkan kekayaan mereka. Mereka tidak meminta-minta, padahal mereka tidak punya harta. Sekarang, para citizen yang kaya malah menampakkan kemiskinan mereka. Mereka meminta-minta, padahal mobil mereka berjejer di depan rumah megahnya.
Belajarlah pada Abdullah bin Mas`ud, seorang salaf alim yang tidak pernah meminta. Di saat sakit pun dia juga menolak perawatan seorang dokter. Dia hanya berpegang teguh pada satu hal: surah Waqiah.
Membaca Waqiah adalah alternatif terbaik —yang saya sarankan— menjadi pribadi beriman dan berilmu. Kita bisa membacanya setiap malam, berapa pun dan di mana pun.
Jika Nabi saja sudah menganjurkan kita untuk membaca surah Waqiah, kemudian pondok ini menyediakan sarana pasar waqiah untuk kita hadiri, mengapa tidak?
(Mohammad Ibnu Sholeh/Lingkar Pesantren)