Terbaru
mengakui kesalahan bukan berarti lemah

MENGAKUI KESALAHAN

By on 14 Maret, 2018 0 40 Views

*ONE DAY ONE HADITH*

Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, Rasul SAW bersabda :

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak Adam berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat” [HR Turmudzi]

_Catatan Alvers_

Kebanyakan orang enggan untuk mengakui sebuah kesalahan apalagi sampai harus meminta maaf. Jika seseorang mengucapkan kata maaf bukan berarti merendahkan harga diri, justru sebaliknya, ungkapan kata maaf yang sederhana sekalipun akan menunjukkan bahwa seseorang telah berbesar hati untuk mengakui bahwa telah terjadi sebuah kesalahan.

Mengakui kesalahan bukanlah pertanda kelemahan. Justru diperlukan kekuatan yang luar biasa besar untuk mampu melihat dan mengakui suatu kesalahan. Terlebih lagi untuk meminta maaf sekaligus membangun komitmen baru untuk memperbaikinya. Orang yang bertaqwa bukanlah orang yang selalu benar dan tidak pernah berbuat salah, Namun orang yang bertaqwa jika ia berbuat salah maka ia mengakui kesalahannya dan meminta ampunan-Nya. Allah SWT berfirman :

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ

“Dan (Orang yang bertaqwa itu adalah) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka” [QS Ali Imran 135]

 

Kesalahan bukan berarti aib yang harus ditutup-tutupi tetapi kesalahan itu adalah sebuah kesempatan untuk memperbaiki diri dan untuk belajar lebih banyak lagi. Bukankah setiap manusia itu melakukan kesalahan? Sebagaimana keterangan hadits utama di atas. Orang yang menutupi-nutupi kesalahan justru menaburkan bibit rasa bersalah dan pada akhirnya merasa tidak pernah salah. Seseorang yang takut akan kesalahan bisa dipastikan adalah orang yang takut untuk menjadi benar. Oleh karena itu jangan takut mengakui kesalahan, karena menyadari sebuah kesalahan adalah awal dari perubahan menuju kesempurnaan. Mengakui kesalahan akan menjadikan suatu masalah cepat selesai, Image diri dikenal sebagai orang yang jujur dan dapat dipercaya.

Lihatlah kebesaran hati sayyidina umar RA, ia berpidato di depan rakyatnya agar ada diantara mereka yang mengoreksinya jika ia bersalah. Sayyidina Umar RA berkata :

“أيها الناس، من رأى فيَّ اعوجاجا فليقوّمه”

“Wahai manusia, siapa saja diantara kalian yang melihatku berbuat kesalahan (bengkok) maka luruskanlah (tegurlah kesalahanku)!”

Lalu Seorang badui menjawab:

والله يا أمير المؤمنين لو وجدنا فيك اعوجاجا لقومناه بسيوفنا هذه،

“Demi Allah wahai amirul mukminin, jika aku menemukan kebengkokan (kesalahan) dalam dirimu maka akan aku luruskan dengan pedangku ini”.

Mendengar ada orang yang bersedia meluruskan kesalahannya, Sayyidina Umar RA sangat bersyukur dan berkata :

“الحمد لله الذي جعل في هذه الأمة من يقوّم اعوجاج عمر بسيفه إذا اعوج”.

“Puji syukur kepada Allah yang menjadikan di antara ummat ini, seseorang yang meluruskan kembali kebengkokan (kesalahan) umar dengan pedangnya”. [Al-Fiqh Al-Islami]

Di waktu yang lain, Umar bin Khattab RA memberikan kebijakan agar emas kawin lebih dari 40 uqiyah (1240 gram). Barangsiapa melebihkannya maka kelebihannya akan diserahkan ke baitul mal. Dengan tegas, seorang wanita menjawab,”Apakah yang dihalalkan Allah akan diharamkan oleh Umar? Bukankah Allah berfirman : 

وَآتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنْطَارًا فَلَا تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا

“sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta (maskawin) yang banyak, maka janganlah kamu mengambil sedikitpun dari padanya” [An-Nisa’:20] Umar berkata,

“امرأة أصابت ورجل أخطأ”

“Seorang wanita (yang menegurnya) telah melakukan kebenaran dan seorang lelaki (umar) telah berbuat kesalahan.   [ Majmu Rasail Ibn Rajab]

Suatu ketika ada seseorang yang menasehati beliau dan berkata : “bertaqwalah wahai amirul mukminin”. Orang-orang di sekeliling umar RA terheran-heran mendengar ucapan ini mengingat sayyidina umar adalah seorang khalifah sekaligus pembesar kalangan sahabat Nabi dan mendapat jaminan masuk surga. Orang-orang berkata: “Apa? Kau berkata kepada sang amirul mukminin untuk bertaqwa?”. Maka Umarpun menepis keheranan ini dan berkata :

دعه فليقلها، فإنه لا خير فيكم إذا لم تقولوها، ولا خير فينا إذا لم نسمعها منكم”.

“Biarkan dia mengatakannya, karena tidak akan ada kebaikan diantara kalian jika kalian tidak mengatakannya dan tidak ada kebaikan dalam diri kami jika tidak mendengarnya” [Al-Fiqh Al-Islami]

Subhanallah, itulah keteladanan sayyidina umar yang rendah hati dan berlapang dada untuk menerima kebenaran dan mengakui kesalahannya. Lantas siapakah kita? Sahabat nabikah? Dijamin masuk surgakah? Sehingga merasa gengsi mendapat teguran dan merasa tidak pantas mendapatkan teguran dan nasehat orang lain. Inilah kiranya mengapa para sahabat Rasulullah saw ketika bertemu, mereka tidaklah berpisah kecuali salah satu dari mereka membaca Surat Wal-`Ashri terlebih dahulu, lalu mengucapkan salam. [Tafsir Ibnu Katsir] Hal ini bukanlah sekadar bertujuan untuk tabarruk (mengambil barokah) namun lebih dari itu untuk saling memperingatkan isi kandungan surat tersebut: Sesungguhnya manusia itu benar-benar merugi, kecuali mukmin yang beramal amal saleh dan saling menasihati supaya mentaati kebenaran dan kesabaran.” [QS Al-‘Ashr : 1–3] Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk selalu berlapang dada untuk mengakui kesalahan yang terjadi dan memperbaikinya sehingga Allah senantiasa memberi hidayah kepada jalan kebenaran.

Salam Satu Hadits,
Dr.H.Fathul Bari Badruddin
PP Wisata An Nur II

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: