[polor_menu]
[polor_menu]

Meneladani Nabi dalam Menghemat Energi

Meneladani Nabi dalam Menghemat Energi

Di tengah naiknya harga, keteladanan Nabi yang satu ini juga bisa menjadi contoh.

Setelah beberapa bulan terlewati, akhirnya Rabiul Awal kembali mendatangi. Tentunya dengan perayaan yang sudah tidak asing lagi bagi umat muslim. Apalagi kalau bukan Maulid Nabi.

Terlepas dari perdebatan di dalam Islam mengenai hukum merayakan Maulid Nabi, perayaan ini adalah salah satu agenda besar dalam kalender Islam. Sampai-sampai, di Jawa, bulan ini lebih masyhur dengan sebutan bulan Mulud atau Maulid. Tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mengingatkan betapa besar efek perayaan ini terhadap penanggalan Islam khususnya di tanah Jawa.

Para ulama sendiri memang tidak secara langsung melarang perayaan ini. Mengingat perayaan ini berupa tradisi yang baik di masyarakat. Bukan termasuk bagian dari ibadah yang terkadang keabsahannya masih menjadi persoalan.

Menurut Sayid Muhammad bin Alwi Al-Maliki dalam kitab Mafahim Yajib an Tushahhah, menjelaskan bahwa dengan ini justru bisa menjadi kesempatan untuk mendakwahkan teladan akhlak Nabi. Selain itu, dalam Maulid Nabi juga bisa menjadi ajang untuk meceritakan kembali sejarah kehidupan beliau, perjuangan, strategi kepemimpinan, serta cara ibadah Nabi Muhammad. Karenanya, pada bulan Maulid ini, selain dengan membaca Al-Qur`an, zikir, tahlil, kalimat tayibah, juga ada anjuran untuk mengisinya dengan membaca kembali sejarah perjuangan beliau.

Di sisi lain, akhir-akhir ini, masih menjadi kekhawatiran sebab banyaknya berita mengenai kenaikan harga. Imbas dari kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM di awal September berakibat pada naiknya harga-harga kebutuhan sehari-hari. Sehingga, mau tidak mau, kebutuhan bersifat tersier pengeluarannya perlu seleksi demi menghemat uang.

Belum sampai di situ, akhir-akhir ini juga ada berita seputar kemungkinan terjadinya Resesi Global 2023. Resesi global merupakan keadaan ekonomi yang berdampak secara global di mana ekonomi tersebut mengalami deselerasi dan penurunan. Dampaknya, bisa terjadi inflasi besar-besaran yang akan melanda seluruh dunia. Termasuk negara berkembang semacam Indonesia.

Oleh karena itu, bertepatan dengan bulan Maulid ini, kita bisa menjadikan Nabi sebagai salah satu teladan dalam menghemat energi. Sebab, selain menjadi menyampaikan kalam Allah, Nabi juga sering menyampaikan beberapa petuah dalam menghadapi kehidupan. Bahkan, dalam beberapa kesempatan, beliau selalu mengingatkan betapa pentingnya menghemat energi.

Anjuran Nabi untuk Mematikan Lampu

“Dari Nabi saw, beliau bersabda: ‘Bila malam telah tiba maka tahanlah anak-anak kecil kalian (agar tidak keluar rumah) karena setan saat itu sedang berkeliaran. Bila telah berlalu waktu Isya maka silakan lepaskan mereka, tutuplah pintumu dan bacalah nama Allah, matikan lampu dan bacalah nama Allah, tutuplah tempat airmu dan bacalah nama Allah, tutuplah bejanamu meski engkau hanya lintangkan sesuatu di atasnya dan bacalah nama Allah.’” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Asbabul wurud (penyebab datangnya suatu hadis) dalam hadis ini adalah terjadinya kebakaran di salah satu rumah sahabat. Mendengar kabar tersebut, Nabi pun menganjurkan para sahabat untuk mematikan lampu.

Keberadaan lampu yang saat itu masih menggunakan minyak memanglah masuk akal kalau ada anjuran mematikan lampu. Akan tetapi, saat lampu minyak mulai tergantikan oleh lampu listrik, anjuran ini tetaplah masih relevan kita lakukan. Meski dalam konteks yang berbeda: penghematan energi.

Bayangkan saja kalau lampu yang jelas-jelas sudah tidak kita buthkan di kala tidur tapi masih tetap menyala. Berapa banyak konsumsi listrik yang terkuras? Belum lagi itu harus menyala selama kurang lebih tujuh jam di setiap malamnya (dengan asumsi tidur pukul 22.00 dan bangun pukul 04.00). Berapa kira-kira listrik yang terbuang percuma?

Kalau kita ingin berpikir-pikir lagi, memang kita sering hidup dengan penuh kelewahan. Air, gas, kuota internet, dan beberapa energi lainnya sering kita buang percuma. Sering kita tinggalkan air di bak mandi terbuang percuma. Sering juga kita habiskan kuota internet dengan hal-hal yang kurang bermanfaat.

Jangan-jangan, memang kita sudah terbiasa hidup melewah? Sehingga ketika salah satu harga di pasar naik, bukannya berusaha memperbaiki gaya hidup, tapi malah terus melakukan kekhilafan itu.

Mumpung masih di bulan Maulid. Mumpung masih di bulan Oktober. Mari sama-sama meneladani Nabi dalam sikap beliau menghemat energi. Mari sama-sama memperbaiki gaya hidup sebelum Resesi Global 2023.

(Nabil Abdullah Alghifari/STIKK)

Artikel Terbaru

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

@2026 | Yayasan Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo”Zeldrex