Memuliakan Tamu

PASAR WAQIAH

“Tidak ada sesuatu yang lebih aku sukai daripada seorang tamu. Karena rezekinya telah ditanggung oleh Allah sementara pahalanya diberikan untukku.” Demikianlah Syaqiq bin Ibrahim Ra. berkata dalam kitab Siyar A’lam An-Nubala.

Tamuku pahalaku, mungkin itu adalah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan keistimewaan seorang tamu menurut Syaqiq bin Ibrahim. Kiranya kata-kata itu tak berlebihan karena Nabi sering mengatakan tentang kemuliaan tamu dalam hadis-hadis beliau. Selain itu, tamu itu membawa pahala ketika bertamu dan membawa dosa tuan rumah ketika pulang. Dan sebagai tuan rumah yang baik, kita wajib memuliakan tamu kita.

Tak ada yang lebih membahagiakan kita kecuali kedatangan tamu. Padahal hanya memuliakannya kita dapat pahala yang besar. Cara memuliakannya pun cukup dengan menghidangkan jamuan terbaik yang kita punya, seperti yang telah dicontohkan oleh Nabi. Kalau pun kita tak punya suguhan, kita hanya perlu menampakkan wajah senang akan kedatangan mereka. Karena suguhan terbaik adalah muka senang dan ramah. Dengan begitu, tamu akan merasa senang dan dihormati oleh sang tuan rumah.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Nabi bersabda:

…وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“…Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya,” (HR Bukhari dan Muslim).

Dari hadis itu sudah jelas bagaimana hukumnya memuliakan tamu. Beliau juga bersabda,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi,” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam menjamu, selayaknya kita melihat siapa tamu kita. Ketika tamu kita seorang yang memiliki martabat yang tinggi, tentu kita harus lebih memuliakannya daripada tamu dari golongan biasa. Sebuah hadis berbunyi, “Barang siapa memuliakan tamu yang dia kenal maka dia seperti memuliakan Nabi. Barang siapa yang memuliakan tamu yang tidak dia kenal maka dia seperti memuliakan Allah.”

*Penghormatan Nabi Kepada Tamu*

Nabi pernah kedapatan seorang tamu saat tengah malam. Nabi pun mempersilahkan tamu itu masuk. Lalu beliau pergi menemui istrinya di dapur.

“Apakah ada hidangan yang bisa disajikan untuk tamu itu?” tanya Nabi kepada istrinya. “Tidak ada, Wahai Nabi, kecuali air putih saja,” jawab istrinya.

Lalu Nabi keluar rumah menemui para sahabatnya dan bertanya. “Adakah dari kalian yang bisa menjamu tamu ini?” tanya Nabi kepada para sahabatnya. Lalu salah seorang sahabat mengajukan diri untuk menjamu tamu itu.

Sahabat itu pun pulang ke rumahnya sambil membawa tamu itu. Lalu ia menemui istrinya dan bertanya, “Apakah ada hidangan yang bisa disajikan untuk tamu Nabi?” “Hanya ada makanan untuk anak-anak kita,” jawab istrinya.

“Kalau begitu, tidurkan anak-anak lalu matikan lampunya. Sajikan hidangan itu dan kita duduk di hadapannya sambil pura-pura makan,” kata sahabat itu kepada istrinya.

Istrinya pun melaksanakan apa yang diperintah oleh suaminya. Makanan pun disajikan di hadapan tamu tersebut sambil mematikan lampunya. “Maaf, lampunya sedang rusak,” jawab shahabat ketika ditanya perihal matinya lampu. Tamu itu pun makan tanpa menyadari kejadian sebenarnya.

Keesokan harinya, Nabi datang ke sahabat tersebut sambil tersenyum. “Ada apa, wahai nabi?” tanya sahabat itu. “Allah rida atas apa yang kalian lakukan tadi malam,” jawab nabi.

*Tamu Non-muslim*

Kewajiban memuliakan tamu tidak hilang walaupun tamu itu bukan muslim. Bahkan kita wajib memuliakannya sama seperti kita memuliakan tamu muslim. Seperti kisah Nabi Ibrahim yang kedatangan tamu seorang Majusi.

Suatu hari, Nabi Ibrahim As. kedatangan seorang tamu majusi. Nabi pun menampakkan wajah tidak suka. Melihat wajah Nabi, Si Majusi merasa tidak dihargai. Akhirnya, ia pun kembali setelah disuruh keluar oleh Nabi Ibrahim.

Tak lama kemudian Nabi mendapat wahyu dari Allah. Allah marah kepada Nabi Ibrahim karena tidak memuliakan tamunya, walaupun dia seorang majusi. Nabi pun bergegas keluar dari rumahnya dan mengejar Si Majusi tadi.

“Ada apa, tadi kau menyuruhku keluar sekarang kau malah menyuruhku kembali?” tanya Si Majusi. “Ya maaf. Aku menyuruhmu kembali karena aku dimarahi oleh Tuhanku. Tuhanku marah karena aku mengusirmu,” jawab Nabi.

“Oh begitukah, betapa mulianya Tuhanmu itu. Dia memuliakanku padahal aku seorang majusi. Kalau begitu saksikanlah bahwa aku mengakui Tuhanmu,” kata Si Majusi.

Dari cerita di atas, bisa kita simpulkan bahwa kita harus memuliakan tamu walaupun seorang non-muslim. Mereka memang bukan saudara seiman, tapi mereka adalah saudara sesama manusia sehingga kita tetap wajib memuliakannya. Wallahu a’lam.

Lebih lengkapnya silahkan ikut pengajian Pasar Waqiah Ramadhan yang digelar ba’da isya di masjid An-Nur II. Dan setiap harinya akan diisi dengan materi berbeda-beda.

*disarikan dari kajian ilmiah Pasar Waqiah Ramadhan oleh Kiai Zainuddin Badruddin.

(Nabil/Lingkar Pesantren)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: