23 September, 2018
  • 23 September, 2018

MEMBALAS KEDZALIMAN?

By on 6 Januari, 2017 0 93 Views

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abi Dzar RA, Rasul ﷺ bersabda, Allah SWT berfirman dalam hadits qudsy :

 

يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا

Wahai hambaku, Sesungguhnya aku mengharamkan kedzaliman atas diriku dan aku haramkan kedzaliman di antara kalian maka janganlah kalian saling mendzalimi [HR Muslim]

 

Catatan Alvers

 

Kata dzalim dalam bahasa arab berasal dari kata dzulm yang berarti gelap. Dalam Al-Qur’an, kata dzulm dengan semua derivasinya kurang lebih disebutkan sebanyak 315 Kali. Ar-Raghib mengatakan kedzaliman adalah meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya yang khusus, adakalanya dengan mengurangi atau menambahnya, atau tidak sesuai waktu dan tempatnya. [Mufradat Alfadzil Qur’an] Al-Jurjani mengatakan bahwa kedzaliman adalah istilah dari perbuatan melampaui batas dari yang benar menuju kebathilan. [At-Ta’rifat]

 

Pebuatan dzalim itu bermacam-macam. Rasul ﷺ bersabda :

الظُّلْمُ ثَلاثَةٌ: ظُلْمٌ لَا يُغْفَرُ، وَظُلْمٌ لَا يُتْرَكُ، وَظُلْمٌ يُغْفَرُ، فَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي لَا يُغْفَرُ، فَالشِّرْكُ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي لَا يُتْرَكُ، فَظُلْمُ النَّاسِ بَعْضِهِمْ بَعْضًا، وَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي يُغْفَرُ، فَظُلْمُ الْعَبْدِ نَفْسَهُ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Kedzaliman itu ada 3 macam: Kedzaliman yang tidak diampuni, Kedzaliman yang tidak akan dibiarkan dan kedzaliman yang dapat diampuni. Adapun Kedzaliman yang tidak diampuni Allah adalah syirik (menyekutukan Allah), Kedzaliman yang tidak akan dibiarkan Allah adalah Kedzaliman hamba-hamba-Nya di antara sesama mereka (karena pastilah Allah membalasnya), adapun Kedzaliman yang dapat diampuni Allah adalah Kedzaliman seseorang hamba terhadap dirinya sendiri di dalam hubungan dia terhadap Tuhannya Azza Wa Jalla. [HR Abdur Razzaq]

 

Dari hadits tersebut kita yakin bahwa perbuatan buruk orang lain kepada kita pastilah dibalas oleh Allah swt karena kedzaliman tersebut tidak akan dibiarkan Allah . Maka dari itu hendaklah kita bersabar jika didzalimi, cukuplah Allah yang membalas keburukannya dan Allah memberikan pahalanya kepada kita. Allah SWT berfirman:

فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

” maka barang siapa yang memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah, sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” [QS. Asy-Syura: 40].

 

Tidakkah kita senang jika dinaikkan pangkat dan derajat kita di sisi Allah?. Rasulullah SAW bersabda:

وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا

“Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba dengan maafnya (atas kedzaliman terhadap dirinya) kecuali kemuliaan” [HR. Muslim]

 

Maka hendaknya kita tidak membalas cacian dengan cacian pula. Rasulullah SAW bersabda:

وَإِنْ امْرُؤٌ سَبَّكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ فَلَا تَسُبَّهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ فَإِنَّ أَجْرَهُ لَكَ وَوَبَالَهُ عَلَى مَنْ قَالَهُ

“Apabila ada seseorang mencacimu dengan aib yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah kamu balas mencacinya dengan aib yang kamu ketahui ada padanya. Karena sesungguhnya pahalanya untuk dirimu dan dosanya untuk dia, yang mengatakannya”[HR Ahmad]

 

Di sisi lain kita harus introspeksi, boleh jadi kedzaliman yang menimpa diri kita adalah dikarenakan kesalahan dan dosa-dosa kita dan Allah menimpakan musibah berupa kedzaliman tersebut sebagai pelebur dosanya tentunya jika kita bersabar. Allah SWT berfirman :

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka itu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” [QS Asy-Syura: 30]

 

Lantas, bolehkah kita membalasnya dengan memakinya atau dengan doa yang jelek, doa yang dijanjikan Nabi SAW sebagai doa mustajabah?.  Pertanyaan ini disampaikan oleh alvers dan boleh jadi hal yang sama terbesit dalam hati. Dalam masalah ini Allah SWT berfirman :

فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ

“Maka barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu.” [QS Al-Baqarah : 194]

 

Allah SWT juga berfirman : Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu.[ QS An-Nahl : 126] Imam Al-Qurthubi menjelaskan: “Barangsiapa saja yang mendzalimimu maka ambillah hakmu darinya sekedar kedzalimannya, barang siapa yang mencacimu maka cacilah ia dengan setimpal. Barangsiapa mempermalukan harga dirimu maka permalukan dia dan janganlah kamu melebihkannya hingga mencaci kedua orangtuanya, anaknya atau kerabatnya yang lain. [Al-Jami’ li ahkamil Qur’an] Imam At-Thabari menegaskan :

فالعدوان الأول ظلم والثاني جزاء لا ظلم بل هو عدل لأنه عقوبة للظالم على ظلمه

Kejahatan orang yang pertama merupakan perbuatan dzalim, dan balasan kejahatan yang setimpal dari orang ke dua (orang yang didzalimi) merupakan balasan nya, sebab hal ini merupakan balasan perbuatan dzalim atas kedzaliman orang tersebut [Tafsir At-Thabari]

 

Mendoakan jelek kepada orang yang mendzalimi pernah dilakukan oleh seorang yang termasuk sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Dia adalah Sa’id bin Zaid RA. Ia dilaporkan oleh seorang wanita, Arwaa binti Aus kepada Marwan bin Al-Hakam, (gubernur Madinah) atas tuduhan menyerobot sebagian tanahnya. Sa’id membantah tuduhan itu dengan mengatakan, “Apakah mungkin saya melakukan hal itu, setelah saya mendengar sabda Nabi SAW?” “Sabda yang mana,” tanya Marwan. “Siapa yang mengambil tanah sejengkal secara tidak benar, maka kelak tujuh lapis tanah bumi itu akan dikalungkan di lehernya,” kata Sa’id mengutip sabda Nabi SAW. Marwan berkata, “Cukup, saya tidak perlu meminta bukti setelah penjelasanmu itu.” Sa’id lalu berdoa,

اللَّهُمَّ إِنْ كَانَتْ كَاذِبَةً فَأَعْمِ بَصَرَهَا، وَاقْتُلْهَا فِي أَرْضِهَا

Wahai Allah, jika Arwa dusta, maka butakan matanya dan matikan dia di atas tanah (sengketa)nya.

Dan akhirnya, Wanita itu benar-benar buta dan mati terperosok ke dalam sumur ketika ia berjalan di atas tanah (sengketanya)nya. [HR Muslim] Namun demikian tetaplah sabar sebagai pilihan terbaik karena Allah berfirman :

وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“dan Allah menyukai orang-orang yang bersabar.” [QS. Ali ‘Imran : 146]. Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk senantiasa memaafkan kedzaliman orang lain dan istiqamah dalam kesabaran.

 

Salam Satu Hadith,

DR.H.Fathul Bari Alvers

PP Annur2.net Malang, Ind

 

Temukan Artikel ini dalam

BUKU ONE DAY ONE HADITH

Kajian Hadits Sistem SPA

(Singkat, Padat, Akurat)

Buku Serial #1 Indahnya Hidup Bersama Rasul SAW

Buku Serial #2 Motivasi Bahagia dari Rasul SAW

Harga Promo, hub.: 081216742626

 

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: