Membaca Al-Qur’an itu Manis

membaca, Membaca Al-Qur’an itu Manis, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo

“Mencari ilmu adalah kefarduan bagi setiap orang muslim.”

Setiap umat Islam diwajibkan untuk mencari ilmu. Karena tanpa ilmu kita tidak dapat mencapai tujuan tertentu. Artinya, ilmu adalah sesuatu yang menambahkan ketakwaan dan menambahkan keagungan Allah. Di sini adalah definisi dari ‘Ilmu’ dari segi agama. Jika ada ilmu yang menjauhkan dari Allah, maka itu bukan ilmu yang bermanfaat.

Ilmu itu banyak sekali. Dalam bagian ini, ilmu di bagi menjadi dua, yaitu ilmu yang bermanfaat dan tidak bermanfaat. Ilmu yang bermanfaat yaitu dapat memberi sesuatu kemanfaatan bagi orang lain dan menambah ketakwaan. Sementara ilmu tidak manfaat sebaliknya.

Ketika membaca Al-Qur’an, sepatutnya meminta pertolongan kepada Allah dari setan-setan yang terkutuk. Artinya, ketika membaca Al-Qur’an sebaiknya diniatkan meminta perlindungan atau pertolong dari Allah agar tidak tergoda dari tipu-tipuan setan jahat.

Mengapa harus diniatkan meminta pertolong? Agar membaca Al-Qur’an tidak rusak dari perkara-perkara lain. Yakni sesuatu niatan yang buruk ketika membaca Al-Qur’an seperti pamer, sombong dan sebagainya. Karena itu, kita senantiasa sesering mungkin membaca Al-Qur’an yang dapat mengubah seseorang. Orang yang hina dan kemudian membaca Al-Qur’an terus-menerus, dapat menjadi orang yang mulia.

Dari samping itu juga, ada juga keistimewaan dari membaca Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an, terasa ada manis. Membaca Al-Qur’an terasa madu. Orang yang konsisten membacanya, dapat merasakan keistimewaan Al-Qur’an yang berupa manis seperti madu.

Suratul Ghina, surah Waqiah. Dinamakan surah kekayaan sebab sesiapa yang membaca Waqiah, Allah akan meluaskan rezekinya. Bagi yang membaca surah Waqiah, pasti akan diluaskan rezekinya. Ada hadist tentang Surah Waqi’ah. Dari Abdullah Ibnu Mas’ud meriwayatkan satu hadis, Nabi Muhammad bersabda, “Siapa yang membaca Waqi’ah setiap malam, maka tidak akan kefakiran.” Jadi, jika kita membaca surah tersebut setiap malam hari dan dilakukan secara istikamah, pasti tidak akan menjadi fakir.

(Hafis Ilham Yazid/Lingkar Pesantren)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: