Lantai masih basah. Untuk acara yang para penontonnya lesehan hampir tidak mungkin acara seperti ini terlaksana. Akan tetapi dengan usaha para panitia dan keseriusan para santri, acara peringatan Maulid Nabi masih berlangsung di depan Masjid Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo” (Pesantren Wisata). Pada Hari Kamis tanggal 7 Oktober 2022.
Semenjak sore, panitia mulai menata jajan-jajan untuk para santri. Jajan-jajan itu tergantung di tali, yang mudah bagi para santri mengambilnya. Sebab jajan-jajan itu khusus untuk para santri sesusai acara nanti. Hanya saja, karena para santri tidak tahu, mereka mengambil jajannya pada awal acara sampai tak tersisa.
Jajan-jajan itu merupakan inisiatif para panitia dan ada sedikit tambahan dari Mejelis Keluarga. Lalu, pada pagi hari sebelum acara berlangsung, panitia membungkus dan menata jajan-jajan yang kemudian di waktu senja jajan-jajan sudah selesai terpasang. Tatanannya tidak terlalu tinggi agar santri mudah mengambilnya.
Ketua panitia, M. Rizal Matofani, mengatakan alasan di balik pemasangan jajan-jajan ini. Ia mengatakan jika jajan-jajan ini sebenarnya mengambil inspirasi dari luar. Yaitu orang-orang desa, saat merayakan Maulid Nabi ada makan-makannya. Maka, panitia juga mengambil rencana tersebut dengan memasang jajan 900 bungkus.
Sholawat Nabi Mencegah Kemiskinan

Semenjak bakda isya, tim banjari An-Nur II memainkan rebana dan melantunkan selawat. Selawat ini tertuju kepada Baginda Muhammad. Selawatan terus bergema menunggu kedatangan Habib Abdul Qodir Umar Mauladawilah.
Kedatangan beliau membuat santri-santri yang sedang duduk langsung berdiri untuk memuliakan beliau. Beliau berjalan mulai dari jembatan melewati santri-santri yang membungkuk. Hingga duduk di panggung. Habib duduk bersama KH. Zainuddin Badruddin, pengasuh pondok putra. Panggung itu berdesain meja-meja dengan tengahnya ada kursi yang juga berdampingan dengan mimbar.
Kedatangan Habib Umar, membuat tim hadrah membacakan “Tolaal Badru”. Perubahan bacaan tersebut membuat santri-santri berdiri menyambut datangnya Habib Umar. Kemudian tidak berselang lama setelah duduknya Habib Umar, para santri kembali duduk dan selawatan berhenti. Sedangkan panitia bersiap-siap membuka untuk pembukaan acara.
MC (Master of Ceremony) memasuki panggung. Ia membuka acara dengan sedikit pendahuluan. Ia juga menyampaikan tentang tragedi kanjuruhan yang terjadi beberapa hari sebelumnya. MC tidak lupa membacakan rentetan acara apa saja di malam itu. Seusai membacakan runtutan acara, ia membuka acara dengan Al-Fatihah, berharap acara berjalan maksimal.
Kegiatan kedua ialah sambutan dari KH. Zainuddin. Beliau mengutarakan sebuah ‘ibarat dari Kitab Ianatut Thalibin. ‘Ibarat tersebut berisi bahwasannya orang yang membaca bacaan maulid Nabi, dengan menggenggam uang di tangannya, maka di tahun itu tidak akan kehabisan uang dan tidak akan menjadi fakir. Lalu beliau membagikan uang receh kepada santri untuk pegangan.
Ilmu Bukan Penentu

Kegiatan ketiga, mauidhoh hasanah dari Habib Umar. Beliau menyampaikan betapa pentingnya adab di atas ilmu. Sebab salah satu hal yang membuat ilmu bermanfaat dan berkah adalah adab kepada gurunya.
Berasal dari ulama bernama Habib Hasan yang merupakan salah satu sanad keilmuan KH. Zainuddin, menyampaikan bahwa ilmu seperti micin. Sedangkan adab harus seperti tepung. Maksudnya ialah adab itu harus lebih banyak dari ilmu. Meski tidak terlalu pintar, adab wajib menjadi hal utama.
Beliau mengumpamakan hal tersebut dengan roti. Ketika ingin membuat roti, adonannya, micin dan tepung, sama banyaknya atau lebih banyak micinnya, maka rasanya tidak enak dan asin. Berbeda ketika racikan antara micin dengan tepung itu pas (bukan sama). Micin sesendok dan tepung semangkok. Hasilnya ialah roti yang lezat dan enak.
Sehingga muncullah sebuah kata-kata yang berbunyi, “Wong gak pinter tapi duwe adab iku kedamel.” (Orang tak pintar tapi memiliki adab itu pasti berguna). Sehingga adab itu menjadi hal yang urgen untuk para santri laksanakan dan menjadi kewajiban.
Al-Qur’an tidak pernah menyebutkan kepintaran Nabi Muhammad SAW. Padahal ilmu-ilmu Islam, bahkan ilmu umum, bersumber dari beliau. Beliau juga insan jamil, cakep. Namun dalam Al-Qur’an tidak ada yang mengisahkan ketampanan beliau. Al-Qur’an lebih sering menyebutkan bahwa Nabi Muhammad memiliki akhlak yang mulia.
Ini menjadi penanda jika sebagai umat dari Insan tercinta, adab merupakan hal yang utama. Bahkan, karena bagusnya adab Nabi Muhammad, musuh beliau sampai terheran-heran dengan indahnya perilaku beliau. Keistimewaan itu, banyak yang mencaci maki beliau bersabar, banyak yang menghujat beliau tersenyum.
Kegiatan terakhir, doa. KH. Syamsul Arifin memimpin doa sebagai penghujung acara malam ini. Setelah doa selesai, MC berterima kasih kepada para santri masih mau hadir meski lantai basah. Ia juga meminta maaf karena adanya kesalahan-kesalahan mulai dari awal hingga akhir. Acara selesai.
(Ahmad Firman Ghani Maulana/Mediatech)