Masjid An-Nur II: Masih Sama tapi Beda
annur2.net – “Masjid yang kita tempati adalah ikon yang bersejarah di Pondok Pesantren An-Nur II tatkala semua bangunan tak tersisa.” Pembuka Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag., saat memberikan tausiah acara Temu Kangen dan Halal Bihalal Santri Alumni tahun 1979-2024, Ahad, 20 April 2025. Tahun 2025 ini, semua bangunan Pondok An-Nur II periode pertama sudah tidak ada dan banyak bangunan baru, kecuali masjid dan Matla’il Anwar.
Bangunan masjid yang terlihat sama bentuknya sejak tahun 1979 tentu mengherankan. Dahulu, Almaghfurlah R. KH. Muhammad Badruddin Anwar tidak tega melihat para santri kepanasan saat salat Zuhur dan Asar. Beliau ingin memperluas ukuran masjid tersebut sesuai kapasitas santri masa itu.
“Masjid ini sebenarnya sudah cukup besar di zamannya.” Kiai Fathul Bari memberikan penekanan pada kata di zamannya. Selain itu, masjid yang terbilang cukup besar pada saat itu menjadi objek rasan-rasan masyarakat. Ketika itu jumlah santri masih sekitar sepuluh, sedangkan ukuran masjid itu cukup untuk menampung 300 jemaah.
Kiai Badruddin tidak menghiraukannya. Beliau tetap membangun masjid tersebut meski menggunakan sarana yang masih terbatas. “Wes iki dibongkar ae. Dibangun seng apik, seng gedhe.” Kata Kiai Badruddin.
Beliau memanggil tukang bangunan dan membeli material. Namun, setelah penggalian pondasi, pembangunan itu berhenti. Esok harinya, Kiai Badruddin bercerita, “Anu, aku ketok Abah, kok merengut.” Berarti Kiai Anwar tidak menyukainya. Maka dari itu, Kiai Badruddin yang sangat tunduk menuruti keputusan Abah beliau.
Penundaan itu terjadi sangat lama. Kiai Badruddin semakin kasihan terhadap para santri. Kemudian ada pemikiran untuk membangun masjid di bawah yang sekarang menjadi lokasi BLK dan tempat parkir bus agar mampu membuat yang lebih besar.
Dilema Pembangunan Masjid An-Nur II di Lapangan Utama
Namun, Kiai Badruddin membatalkannya, “Nganu, lek ndek ngisor iku kecedeken ambek An-Nur 3,” ketika itu An-Nur 3 juga membangun Masjid Agungnya, “engkok dikiro gedhen-gedhenan masjid.”
Akhirnya kembali ke atas lagi tempat masjid sekarang. Kemudian melakukan pengukuran dengan ukuran yang lebih besar dan penggalian pondasi. Tetapi, lagi-lagi pembangunan itu berhenti.
Tak lama, Kiai Badruddin bercerita, “Anu, aku mimpi. Masjid iki dibongkar, mari ngono dibangun dadi masjid seng guedhe, uapik. Tapi aku dewekan.” Pembangunan itu pun batal. Akhirnya bentuk Masjid An-Nur II tetap sama, tapi berbeda nuansa
Perjuangan dalam Proses Pembangunan
“Pesantren ini dibangun dengan tangis, bukan dengan bersuka. Mendirikan didirikan bukan dengan banyak uang, tapi dengan keterbatasan. Tapi kalau ada alumni memulai karirnya, membangun pesantren, kok nggak duwe opo-opo, wong biyen kene yo ngono. Ojo diadu. Pengeran sugih.”
Dengan begitu pondok pesantren ini berdiri di atas tangisan dan munajat kepada Allah. Sarana apa adanya dan percaya kepada Allah Yang Maha Kaya. Tidak mungkin Allah tidak membantu hamba-Nya yang membantu agama Islam.
Suatu ketika saat pembangunan masjid, stok kayu habis. Pada malam harinya, ada truk yang membawa berkubik-kubik kayu ke Pondok An-Nur II. Ketika ditanya siapa yang memesan, pengemudi menjawab, “Niki pondok e Kiai Bad? Mboten ngertos, kulo dikengken ngirim mawon.” Setelah itu ada banyak kubik kayu di depan lokasi pembangunan masjid.
Selain itu, pembangunan masjid ini pula bukan dengan tanah untuk menguruk pondasi, melainkan pasir-pasir sisa dari bantuan-bantuan masyarakat. Bisa saja membongkar masjid tersebut dan membangunnya lebih bagus, “Tapi bagaimana dengan nilai keikhlasan orang-orang terdahulu yang membangun masjid ini,” jelas Kiai Fathul Bari.
Berdiri Megah Sampai Sekarang

Alhamdulillah sampai sekarang masih berdiri. Namun, Kiai Fathul Bari takut terhadap kekokohan masjid, apalagi atapnya. Masjid An-Nur II juga tidak memiliki tiang penyangga di tengahnya. Padahal panjangnya mencapai 20 meter lebih.
Setelah kewafatan Kiai Badruddin, Kiai Fathul Bari memanggil tukang bangunan untuk mengecek keadaan. Jika keadaannya buruk, beliau akan merenovasinya. Jangan sampai plafon masjid yang telah berdiri sangat lama menjatuhi para santri.
Ternyata, tukang mengatakan kondisi atap masjid itu masih baik. Kiai Fathul Bari pun memerintahkan untuk memperbaiki bagian yang rusak saja, seperti cat tembok yang mengelupas dan seng yang sudah berkarat.
Saat ini, seluruh tembok dan lantai masjid dilapisi dengan keramik dengan warna putih emas yang mewah. Selain itu, pintu dan jendela sudah tidak ada. Tetapi, bentuknya tetap sama. Sengnya pun mendapatkan penggantian pula. “Tanpa mengubah model-model demi menjaga keorisinalan.” Jelas Kiai Fathul Bari.
Tidak pengubahan yang tidak signifikan pada renovasi masjid supaya alumni lama tidak pangling dan mengingat kenangan semasa mondok. “Lek teko nang pondok, onok seng disawang, enek kenangane. Lek kuabeh diganti anyar, pangling, ‘Iki seng endi?’” Gurau Kiai Fathul Bari di akhir tausiyah.
(Riki Mahendra Nur C./Mediatech An-Nur II)
