Mas Kacung: Usaha dari Nol, Jatuh Bangun, Hingga Semua Bisa Menjadi Uang

annur2.net – “Apa yang saya pandang pasti bisa jadi uang.” Ucap Mas Kacung CEO K-Cunk Motor di depan para maha santri STIKK, Ma’had Aly, dan pengurus Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo”. Bertempat di aula kantor lantai 3, acara Talk Show bertema “From Zero To Hero: Jauh Bangun Merintis Bisnis Syariah” terlaksana meriah.

Mas Kacung, nama masyhur Suryono Hadi Pranoto, pria yang menjadi CEO showroom mobil bekas bernama K-Cunk Motor. Kini ia telah menjadi orang yang sukses dengan prinsip kejujuran, strategi pemasaran masif melalui digital, serta pendekatan kepada masyarakat. Rabu, 28 Januari 2026, Mas Kacung memberitahukan rahasia formulanya hingga menjadi CEO yang sukses sekarang.

Gigih Sejak Masa Kanak-Kanak

Perjalanan Mas Kacung bukan sekadar melewati jalan beraspal. Kegigihan yang beliau lakukan sejak kecil sangat membuahkan hasil. Sejak SD Mas Kacung sudah ikut bapaknya mencari batu di hutan setiap pulang sekolah. Sederajat dengan SMP, ia harus menempuh jarak lima kilometer untuk ke sekolah. Oleh karena dari keluarga yang kurang mampu, Mas Kacung harus menaiki sepeda pedal bahkan jalan kaki.

Umur 18 tahun, Mas Kacung ingin merantau. Tujuan pertama ke Kalimantan bermodalkan uang 500.000 dari penjualan kalung emas ibunya. Uang tersebut hanya cukup untuk berangkat dan uang saku di sana. Mas Kacung kesulitan mencari pekerjaan karena Akhirnya pulang pada tahun 2002 membawa uang 1.000.000 dengan kurs saat itu.

Namun saat merantau lagi ke Jakarta, uang itu habis karena kesulitan mencari pekerjaan. Tahun 2002-2004, Mas Kacung ikut pamannya menjadi kuli bangunan di Surabaya tanpa bayaran. Ia berkata untuk mencari pengalaman.

Dari Kegagalan Berulang Menuju Jalan Kesuksesan

Tahun 2005, Mas Kacung ke Kalimantan lagi. Ia bekerja di sebuah perusahaan sawit. Setelah bekerja enam bulan beliau mendapat ide. Ia berencana pulang dan mengajak orang-orang di berbagai tempat di dekat Tulungagung untuk bekerja di perusahaan itu. Sebagai imbalan, bos perusahaan memberinya upah. Gelombang pertama berhasil membawa 120 orang dan Mas Kacung mendapatkan 11-12 juta rupiah. Uang itu ia gunakan membeli motor untuk pertama kalinya.

Namun Mas Kacung mengalami kegagalan saat mengajak orang lagi pada gelombang kedua. Hal itu membuat Mas Kacung sadar, “Ini nggak cocok.” Akhirnya beliau mencoba usaha-usaha lain. Mas Kacung sudah pernah menjadi etek, penjual cengkeh, dan durian, tapi semuanya gagal dan bangkrut. Tapi Mas Kacung berprinsip, “Jangan putus asa dengan rahmat Allah.”

Setelah itu, Mas Kacung mencoba berjualan motor bekas dengan modal 6.000.000 rupiah. Awalnya jualan motor sendiri. Buka kios kecil-kecilan di pasar. Mas Kacung memberi nama K-Cunk Motor. Tapi gagal juga. Mas Kacung tidak menyerah dan mencoba lagi. Beliau pun membeli dua angkot bekas dengan hutang ke bank dan koperasi.

Namun lagi-lagi gagal. Tahun 2012, utang menumpuk puluhan juta. Sampai-sampai suku cadang yang ada Mas Kacung jual untuk membayar hutang beserta bunganya. Tahun itu menjadi titik jatuh Mas Kacung dalam berbisnis.

Dalam kondisi itu, tidak ada yang mau membantunya. Tetangga tidak ada yang peduli. Bahkan malah dapat nyinyiran dari mereka. Sampai-sampai Mas Kacung berkata di Talk-Show, “Percaya nggak percaya, sampean kalau dalam posisi jatuh, nggak ada yang percaya.” Justru yang membantu Mas Kacung adalah kedua temannya dari perdagangan motor bekas, Agus dan Ipul.

Setelah itu, Mas Kacung membuka showroom motor bahkan mobil bekas lagi. K-Cunk Motor tahap dua. Ini adalah usahanya yang berhasil. “Modal 4.000.000 jadi 40.000.000.” Tuturnya semangat. Hingga sekarang, Mas Kacung memiliki total 1.000 mobil dan motor di showroom. Ungkapan, “Apa yang saya pandang pasti bisa jadi uang,” menjadi nyata.

Kemauan Mencari Modal Untuk Usaha dan Bersedekah

Mas Kacung CEO K-Cunk Motor dalam Talk Show di Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo”

Modal Mas Kacung menuju kesuksesan adalah kemauan. “Sukses itu kemauan dan harus punya integritas tinggi.” Ungkapnya. Jika tidak, menjadi pebisnis hanyalah angan-angan. Prinsip Mas Kacung sejalan dengan surah Al-Ra’d ayat 11:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Apabila memulai dari nol, mencari modal adalah langkah pertama. “Kalau tidak punya modal, buruh dulu nggak apa-apa.” Pesannya. Setelah mendapatkan modal yang cukup, sekitar satu sapai lima juta rupiah, “keluar dari zona (kerja) itu lalu buat bisnis. Dagang,” tambahnya.

Mas Kacung menemukan rezekinya menjadi CEO showroom motor dan mobil bekas. Beliau mengatakan kalau mekanik otomotif adalah hobinya sejak kecil. Dari situ beliau berpesan, “Apa yang kita pandang itu pasti ketemu apa yang sampean pandang hobi.” Melakukan hobi sebagai pekerjaan biasanya lebih bertahan daripada mengerjakan yang asal pilih.

Berganti-ganti bisnis itu lumrah. Mencoba-coba dan mencari di mana letak rezeki memang perlu. Begitu pun Mas Kacung melakukannya. Mulai dari jualan sayur keliling hingga showroom motor bekas yang sekaligus hobi. Beliau memang berprinsip, “Kalau bisnis yang satunya gagal, bisnis kedua gagal, coba bisnis yang di situ ada hobi.”

Di balik semua kesuksesannya, Mas Kacung tidak melupakan urusan akhirat. Beliau membayar zakat mal ketika mencapai nisab dan satu haul (tahun). Sebanyak 2,5% dari hartanya Mas Kacung berikan kepada penerima sah zakat. “Kalau sudah masuk nisab, jangan lupa zakatnya,” ucapnya dalam Talk Show. Di dalam harta seseorang ada hak orang lain.

Selain itu, Mas Kacung juga sering bersedekah. Beliau mengakui sedekah dapat melancarkan rezeki. Bahkan ia pernah bersedekah saat showroom­-nya sepi. Alhasil showroom itu kembali ramai esok hari. “Sedekah pangkal kaya,” bukan hemat pangkal kaya katanya.

Mas Kacung memiliki prinsip, “Kita tidak boleh memisahkan urusan dunia dengan urusan akhirat.” Oleh karena beliau telah membuktikan banyak hikmat dari zakat dan sedekah, Mas Kacung sampai membuat pegangan, “Sedekah adalah bagian yang wajib bagi bisnis saya.”

(Riki Mahendra Nur C./Mediatech An-Nur II)

Artikel Terbaru

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

@2026 | Yayasan Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo”Zeldrex