Mari Beristighfar

PASAR WAQI’AH

Semua manusia pernah melakukan dosa. Tidak seorang pun yang luput dari kesalahan; besar ataupun kecil, sengaja atau tidak disengaja, Karena memang hakikatnya manusia adalah tempatnya luput dan salah. Maka dari itu, sempatkanlah diri kita untuk memohon ampunan kepada Allah SWT.

*Istighfar Ala Nabi*

Rasululllah Saw. adalah manusia yang tidak mempunyai dosa. Setiap harinya beliau membaca istighfar lebih dari 70 kali. Rasulullah bersabda:

وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari) 

Ada pula yang mengatakan Nabi membacanya sampai 100 kali sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim berikut:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Wahai sekalian manusia, tobatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim)

Maka dari itu, kita sebagai manusia biasa sudah seharusnya membaca istighfar tidak kurang dari yang contohkan oleh Rasulullah Saw. Sebab kita merupakan manusia yang lebih hina dibanding beliau.

Istighfar terbentuk dari lafaz  غفر, yang  memiliki arti meminta ampunan; baik dengan ucapan atau perbuatan, juga di dalam hati dengan berkeyakinan tidak mengulangi lagi. Difirmankan dalam Alquran surat Nuh ayat 10:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًاۙ

“Maka aku berkata (kepada mereka), Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh Dia Maha Pengampun.”

Anas bin Malik Ra.pernah meriwayatkan hadis dari Rasulullah yang berbunyi: 


كُلُّ بَنِى آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ


“Seluruh Bani Adam (manusia) banyak melakukan kesalahan (dosa), dan sebaik-baik manusia yang banyak kesalahannya (dosanya) adalah yang banyak bertobat.”

*Manfaat Istighfar*

Pertama, mengangkat derajat orang tua. Diceritakan bahwa ada seseorang yang masuk ke dalam neraka. Tak lama kemudian malaikat datang dan membawanya masuk ke dalam surga. Karena bingung, ia pun bertanya kepada Allah SWT mengapa ia dipindahkan ke surga. Ternyata, setelah Allah menjawabnya, diketahui ia masuk surga lantaran istighfar yang dibacakan oleh anaknya.

Sebagaimana hadis yang telah diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ أَنَّى لِيْ هَذَا فَيُقَالُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

“Ada seorang lelaki yang kedudukannya terangkat di surga kelak.” Laki-laki itu pun bertanya, “Bagaimana (keadaanku bisa seperti) ini?” Maka dijawab: “Lantaran istighfar anakmu.” (HR. Bukhari) 

Kedua, tidak akan terhalangi untuk mendapatkan ampunan. Seorang bijak berkata, “Barangsiapa yang diberikan taufik untuk selalu istighfar, tidak akan terhalangi untuk mendapatkan ampunan.” Hal ini selaras dengan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dalam firmannya:

قُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا

“Maka Aku katakan kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.”

Dari ayat di atas sudah jelas bahwa jika kita berbuat salah, kita diperintahkan untuk memohon ampun dan beristighfar kepada Allah Swt. Karena dengan beristighfar, insyaallah dosa kita akan diampuni oleh-Nya.

Ketiga, menolak Azab. Sebagaimana yang telah diucapkan oleh ibnu Taimiyah dalam kitabnya Al-Fatawi:

قال ابن تيمية : فأخبر انه لا يعذب مستغفرا لأن الاستغفار يمحو الذنب الذى هو سبب العذاب فيندفـع العذاب.

Ibnu Taimiyah berkata: “Allah memberitakan, bahwa Dia tidak akan mengazab seorang pun yang beristighfar. Karena istighfar akan menghapuskan dosa-dosa yang merupakan sebab turunnya azab. Sehingga dengan istighfar azab tertolak.” (Majmu’ Fatawa 163/8)

Dalam konteks ini yang dihapus bukanlah azab kita, melainkan dosa-dosa yang telah kita perbuat. Sebab, dosa adalah penyebab kita mendapat azab. Jadi, jika dosa kita telah dihapuskan, maka dengan sendirinya azab yang kita terima akan terhapus pula.

Istighfar sebenarnya mudah untuk dilakukan. Tidak terlalu butuh tenaga ekstra dan waktu khusus. Di rumah, di pasar, di kantor dan di masjid kita bisa melakukannya. Waktu berbaring, duduk dan mengendara mobil juga bisa. Jadi, selayaknya kita usahakan untuk beristighfar setiap harinya.

Lebih lengkapnya silahkan ikut pengajian Pasar Waqiah Ramadhan yang digelar ba’da isya di masjid An-Nur II. Dan setiap harinya akan diisi dengan materi berbeda-beda.

*disarikan dari kajian ilmiah Pasar Waqiah Ramadhan oleh Kiai Zainuddin Badruddin

(Kholid/Media-tech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: