Mantap, Terjamin, dan Cukup

Mantap, Terjamin, dan Cukup

من انقطع إلى الله كفاه الله كل مؤنة ورزقه من حيث لا يحتسب ومن انقطع إلى الدنيا وكله الله عز وجل إليها

Artinya: “Siapa saja yang menyerahkan urusan pada Allah, Allah akan mencukupi semua kebutuhannya dan mendatangkan rezeki dari arah yang tak terduga. Dan siapa saja yang menyerahkan urusannya pada dunia (bergantung pada makhluk), Gusti Allah akan membiarkannya terseret dalam pusaran keruwetan dunia.”

Seseorang yang dapat fokus kepada Allah dalam segi perkara selain makruh dan haram, maka Allah akan mencukupi semua kebutuhannya serta akan menjamin kehidupannya.

Karena Allah

Ketika kita dapat fokus karena Allah, Allah akan dengan mudah memberi rezeki yang tidak disangka-sangka kepada kita semua. Juga akan menjamin kecukupan bagi kita semua. Allah berfirman dalam surah At-Talaq ayat 2 dan 3 yang berbunyi:

وَمَنْ يَتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ،وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْراً

Artinya: “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada ia sangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS At-Talaq: 2-3)

Begitupun sebaliknya, apabila kita lebih fokus terhadap dunia, Allah tidak akan pernah memberikan rasa cukup kepada kita semua. Allah akan memberikan rasa kurang atas apa yang telah kita punya.

Untuk memantapkan diri dan hati kita terhadap Allah, maka seyogyanya sebagai umat manusia yang bertakwa selalu berniat lillahi ta’ala. Berniat hanya karena Allah.

Sibuk dengan Al-Qur’an

عَن اَبٍي سَعيدٍ رَضَي اللٌهُ عَنهٌ قَالَ:قَالَ رَسُولُ اللٌه صَلٌى اللٌه عَلَيهٍ وَسَلٌمَ يَقُولُ الرَبُ تَبَاَركَ وَتَعَالى مَن شَغَلَهُ الُقرُانُ عَن ذَكرِي وَمَسْئلَتيِ اَعطَيتُه اَفضَلَ مَا اُعطِي السْاَئِلينً وَفَضلُ كَلآمِ اللٌه عَلى سَائِرِ الكَلآمِ كَفَضلِ اللٌه عَلى خَلقِه (رواه الترمذي والدارمي والبيهقي في الشعب ).

Dari Abu Sa’id r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Allah berfirman, ‘Barang siapa yang sibuk karena Al-Qur’an daripada berzikir kepada-Ku dan memohon kepada-Ku, maka Aku berikan kepadanya sesuatu yang lebih utama daripada yang Aku berikan kepada orang-orang yang memohon kepada-Ku. Keutamaan kalam Allah di atas seluruh perkataan adalah seperti keutamaan Allah atas makhluk-Nya.” (Hr. Tirmidzi, Darami, dan Baihaqi)

Ketika seseorang sibuk karena membaca Al-Qur’an, Allah dengan segala kuasanya akan memberikan kenikmatan. Nikmat yang bisa orang itu peroleh bukan hanya nikmat dunia, namun juga nikmat akhirat.

Seperti kisah nenek dari Kiai Zainuddin Badruddin, yang merupakan ibu dari Nyai Hj. Badi’atus Sholihah. Beliau kini telah lanjut usia. Beliau memiliki keistikamahan menghatamkan Al-Qur’an tiap tiga hari sekali.

Hari-hari beliau habiskan dengan membaca Al-Qur’an, tanpa harus menggunakan kacamata untuk alat bantu membaca. Artinya penglihatan beliau masih normal, tidak seperti orang-orang lanjut usia pada umumnya.

Hal tersebut menunjukkan bahwasannya Allah benar-benar menjamin kehidupan seseorang yang sibuk dengan Al-Qur’an. Hal itu juga berkesinambungan dengan pembahasan pertama di atas. Sibuk membaca Al-Qur’an yang diniatkan karena Allah. Lantas Allah akan mencukupi segala kebutuhannya serta memberikan kenikmatan kepadanya.

Kesederhanaan Rasulullah

أن عمر بن الخطاب رضي الله عنه دخل على رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو على حصير قد أثر في جنبه فقال يا رسول الله لو اتخذت فراشا ألين من هذا فقال ما لي وللدنيا أو ما للدنيا ولي إنما مثلي ومثل الدنيا كراكب سار في يوم صائف حتى أتى شجرة فاستظل في ظلها ساعة ثم راح وتركها

Suatu hari Sayidina Umar bin Khattab mengunjungi kediaman Rasulullah. Ketika itu Rasulullah sedang tidur. Seketika Umar menangis melihat keadaan Rasulullah yang sedang tidur tersebut.

Waktu itu Rasulullah tidur beralaskan kloso (tikar). Posisi beliau tidur secara miring hingga perutnya terdapat bekas dari kloso tersebut. Kemudian Sayidina Umar bertanya kepada beliau:

“Wahai Rasulullah, apakah tidak ada lagi alas untuk engkau tidur yang lebih layak dari itu?” Tanya Umar.

“Buat apa bergantung kepada kenikmatan dunia. Nikmat dunia itu hanya sementara bagaikan seseorang yang berteduh, lalu ia akan pergi kembali,” jawab Nabi Muhammad saw.

Pada kesempatan lain juga terdapat kisah Nabi Muhammad saw yang menceritakan ketakwaan beliau kepada Allah. Suatu hari Malaikat bertemu dengan Rasulullah. Kemudian Malaikat tersebut menawarkan seseuatu kepada Rasulullah.

“Wahai Nabi Muhammad, apakah engkau mau gunung ini aku jadikan emas?” Tanya Malaikat.

“Buat apa nikmat dunia itu? Kalau lapar ya tinggal sabar. Kalau kenyang ya bersyukur,” begitulah jawaban beliau.

Lagi-lagi beliau menunjukkan kesederhanaannya. Betapa bertakwanya beliau kepada Allah. Beliau menerima apa adanya dan mensyukuri ketika mendapatkan kelebihan.

Cinta Orang Miskin

أحب المساكين فإني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول اللهم أحيني مسكينا وأمتني مسكينا واحشرني في زمرة المساكين

Abu Said Al-Khudri r.a. pernah berkata bahwasannya ia mencintai golongan orang-orang miskin. Karena Nabi Muhammad saw pernah berdoa, yang berbunyi:

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا، وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا، وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ المَسَاكِينِ

Artinya: “Ya Allah, hidupkanlah aku sebagai seorang miskin, matikanlah aku sebagai seorang miskin, dan giringlah aku bersama kelompoknya orang-orang miskin.”

Dari hadis inilah menggambarkan betapa sederhananya kehidupan Rasulullah. Hingga beliau pun berdoa agar menjadi seseorang yang miskin sehingga tidak terbuai oleh gemerlapnya kekayaan dunia.

Akhir hayat beliau masih meninggalkan gadai. Hal tersebut menunjukkan bahwasannya Rasulullah tidak hidup dengan kekayaan. Apalagi harta yang berlimpah ruah. Beliau hidup dengan ketakwaan kepada Allah SWT.

Lantas karena itulah Abu Said dapat mencintai orang-orang miskin. Karena orang miskin juga akan lebih dulu masuk surga. Sebab nikmat yang akan ditimbang tidak terlalu banyak. Namun dengan catatan orang miskin yang bertakwa.

(Hanif Azzam Aufa/ Lingkar Pesantren)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU