Majelis Riyadlul Jannah pun Turut Memeriahkan Rentetan Acara Haul ke-4 Kiai Badruddin

, Majelis Riyadlul Jannah pun Turut Memeriahkan Rentetan Acara Haul ke-4 Kiai Badruddin, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo

Pagi hari Ahad, 10 Januari 2021 terlihat mobil berwarna putih memasuki Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo” (Pesantren Wisata). Mereka adalah Khadimul Majlis Maulid wa Taklim Riyadlul Jannah.

Melihat mobil yang ditumpangi oleh kru Riyadlul Jannah itu tiba. Para santri yang berada di sepanjang jalan menuju pelataran masjid Pondok Pesantren An-Nur II “AL-Murtadlo” (Pesantren Wisata), serentak menepi memberikan jalan dan memberikan hormat pada mereka.

Beberapa menit setelah itu Kiai Damhuji membacakan sebuah tawasul sebelum memulai Penjelasan Kitab Bidayah Al-Hidayah pada Pengajian Rutin Ahad Legi (Internal). Kala itu beliau menjelaskan tentang fasal mandi junub.

Pada pengajian kitab tersebut, beliau mengatakan bahwasanya, seseorang diwajibkan melakukan mandi wajib ketika mereka keluar mani, baik itu dikarenakan mimpi basah atau jimak, “Tapi lek santri adus gedene pasti kerono mimpi basah, kerono gurung rabi (tapi kalau santri pasti mandi besar karena mimpi basah karena belum menikah,” ujar Kiai Damhuji yang disusul dengan gelak tawa para santri.

Setelah itu, beliau menjelaskan tentang tata cara mandi junub yang sempurna. Hal pertama yang harus dilakukan yaitu berwudu. Setelah berwudu hal kedua yang harus dilakukan adalah mengguyur kepala tiga kali sambil membaca niat mandi junub.

Yang ketiga yaitu membasuh anggota tubuh bagian kanan tiga kali, lalu anggota tubuh bagian kiri tiga kali pula. Keempat yaitu menyela-nyela rambut dan janggut. Tujuan melakukan hal keempat adalah agar air yang mengalir dapat merata ke suluruh tubuh hingga tempat tumbuhnya rambut atau janggut.

Yang terakhir yaitu mengguyur kembali tubuh agar air dapat benar-benar merata. Dianjurkan pula ada saat mandi junub untuk mandi dengan cara semestinya, dan bukan dengan selulup (berendam dengan menenggelamkan kepala), “Walaupun sah, tetapi kalau dilihat dari segi akhlak kurang baik,” ujar beliau.

Di akhir penjelasannya beliau berdoa, “Semoga apapun yang telah kita pelajari hari ini bisa berkah.” Setelah pengajian kitab Bidayah Al-Hidayah usai, Kiai Ahmad Zainuddin Badruddin, M.M. maju untuk memimpin pembacaan  tahlil.  

Pembacaan tahlil pun usai, Kiai Syamsul Arifin, M. Pd. I. pun menyusul dengan memimpin pembacaan istighosah. Selang beberapa menit setelah pembacaan istighosah, beberapa kru Majelis Selawat Riyadlul Jannah mulai memenuhi tempat banjari yang telah disediakan sebelum acara tersebut.

Hadir di sana pula para khadimul majelis dari majelis selawat tersebut, salah satunya ialah Al Habib Abdurrahman bin Hasyim Baraqbah dan salah satu vokalis terkenal dari majelis tersebut, Ustaz Fuad. Setelah itu Pengajian tersebut diisi dengan berselawat bersama Majelis Riyadlul Jannah.

Mendengar selawat yang disenandugkan oleh para kru banjari, semangat para santri yang telah terkuras sejak pagi terpantik kembali. Suara mereka menggema mengikuti selawat yang dilantunkan. Mulai dari selawat yang berjudul Assalamualaik, Allah Allahu hingga Addinu Lana mereka senandungkan bersama. Saking indahnya momen selawat tersebut, ada beberapa kru dan ustaz yang mengabadikannya dengan gawai yang mereka bawa.

Pada pengajian kali ini, Pondok Pesantren An-Nur II sengaja mengundang majelis selawat tersebut. Tujuan mereka mengundang majelis tersebut adalah untuk memeriahkan Haul Al-Maghfurlah KH. Badruddin Anwar. Acara tersebut juga merupakan salah satu rentetan acara menuju haul ke-4 Kiai Badruddin yang jatuh pada Rabu, 13 Januari 2021 mendatang.

(Ryan Winawan/ Mediatech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: