Di bawah langit malam dan gemerlap bintang, Sabtu (8/1) malam, Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo” (Pesantren Wisata) sedang riuh mengumandangkan selawat bersama dengan salah satu majelis shalawat wa ta’lim yang tersohor seantero negeri. Semua terlaksana semata karena menutup peringatan Haul Kiai, berselawat untuk Nabi dan mengharap rida Ilahi.
*Dari Rute menuju Acara, sampai Harapan Berkah dari Pedagang Kaki Lima*
Sebut saja Majelis Riyadlul Jannah, penyebab utama An-Nur II hari itu begitu ramai dengan bacaan selawat dan lantunan syair para habaib. Hadirnya majelis maulid tersebut, rupanya menjadikan penyebab para jemaah berbondong-bondong datang dari berbagai daerah.
Memasuki gerbang biru pesantren, para jemaah yang hadir langsung diarahkan oleh Banser (Barisan Serbaguna) dan Satgas (Satuan Tugas) Riyadlul Jannah ke arah tempat parkir kendaraan yang telah disediakan. Lokasi pemarkiran kendaraan tersebut berada di lapangan utama An-Nur II dan area antara gedung SMP dan SMA. Setelah itu, pengambilan rute akan diarahkan panitia untuk menuju ke daerah lapangan timur pesantren yang menjadi pusat acara berlangsung.
Ketika para jemaah tiba di samping aula Yamatin, mereka akan langsung disambut dengan pedagang-pedagang yang menjajakan bermacam-macam dagangan. Mulai dari pakaian, pernak-pernik khas majelis, makanan, sampai seabrek macam dagangan lainnya.
“Alhamdulillah, dari tadi yang beli nggak pernah sepi mas. Semoga dapat barakahnya juga,” ucap Soleh, salah seorang pedagang kopi yang merantau dari Ibukota Jakarta. Dalam wawancaranya bersama kru Mediatech An-Nur II, beliau sempat bercerita bahwa inilah kali pertamanya ia berjualan di sekitar berlangsungnya Majelis Maulid wa Ta’lim Riyadlul Jannah itu. “Seru juga sih, jualan gini sambil dengerin selawat,” ucapnya sambil diselingi gelak tawa.
*Menghadiri Acara Riyadlul Jannah, Prokes Harus selalu ada*
Selepas melewati para pedagang yang ada dan hendak memasuki acara, para jemaah akan langsung dipastikan mematuhi Prokes (Protokol Kesehatan) yang ada. Beberapa orang dengan jaket biru muda bertuliskan Majelis Riyadlul Jannah di belakangnya, terlihat membagikan masker dan cairan sanitasi (hand sanitizer) kepada tiap jemaah yang berdatangan menghadiri acara.
Selanjutnya, jemaah pun dipersilakan untuk lebih memasuki area lapangan timur An-Nur II. Dari kejauhan. Semua pandangan jemaah seakan langsung terpusat ke panggung acara yang berada di ujung lapangan.
Berdiri kokoh lengkap dengan penataan pernak-pernik, bermacam-macam lampu sorot dengan segala penyetingan yang telah diatur sedemikian rupa dan ditambah dengan dua pengeras suara di masing-masing sisinya, membuat panggung megah tersebut menjadi pusat perhatian dari awal sampai akhir acara.
Tak hanya itu, Tiga buah layar proyektor dipasang di sebelah kanan panggung dan satu lainnya di kiri. Beberepa layar proyektor tersebut akan sangat membantu para jemaah selama acara berlangsung. Terlebih, jarak antara ujung depan dengan ujung belakang lapangan berkisar antara ratusan kilometer.
*Berselawat bersama Riyadlul Jannah untuk Nabi Kita yang Telah Pergi*
“Yang keras, yang semangat,” ajak salah satu habib di atas panggung kepada para jemaah saat membuka pembacaan Maulid Simtudduror sebagai awal acara. Bisa dipastikan, seketika para jemaah pun turut membacakan jalannya rangkaian selawat tersebut dengan penuh semangat yang bercampur dengan rasa penuh khidmat.
“Shollu ala Nabi Muhammad….” Bukan hanya satu atau dua teriakan salam yang terdengar disuarakan oleh para jemaah tersebut guna memeriahkan acara. Dan uniknya lagi, para jemaah di sekitarnya pun tak kalah meriah saat menjawab salam keselamatan kepada nabi tersebut. Duduk dengan alas sederhana yang mereka gelar di atas tanah, rupanya semangat para jemaah tak sesederhana itu.
Selepas pembacaan Maulid Simtudduror, sesi acara pun berganti dengan sambutan yang disampaikan oleh khadim Majelis Riyadlul Jannah, Gus Rofi’ul. Dalam sambutannya, beliau berujar kepada para jemaah yang hadir bahwa ilmu bisa didapat di manapun juga.
Namun di balik semua itu, rida dari seorang guru adalah salah satu kunci utama keberkahan dari ilmu itu sendiri. Oleh karenanya, di kesempatan tersebut beliau menyampaikan bahwa ini adalah salah satu momen terbaik untuk mengharap rida dari guru kita semua: Al-Maghfurlah Romo KH. M. Badruddin Anwar.
*Tausiyah dan Keberkahan Habaib dan Kiai yang Dinanti*
Selaras dengan sambutan sang khadim majelis, pemberi sambutan pertama, Kiai Zainuddin, M.M. pun juga menuturkan berbagai hal tentang Al-Maghfurlah Kiai Badruddin. Bahkan, di tengah-tengah sambutannya, beliau sempat membacakan syair Badrun Bada yang bermakna akan kemuliaan dari kisah hidup ayahandanya itu.
Seusai sambutan terlaksana, Habib Taufiq Barroqbah dan Dr. KH Fathul Bari, S.S, M.Ag. berkesempatan untuk mengisi acara dengan memberikan tausiyah masing-masing. Layaknya Gus Rofi’ul dan Kiai Zainuddin, materi tausiah yang mereka bawakan berdua juga memiliki koherensi satu sama lain. Lika-liku dalam kehidupan yang harus dihadapi sejak dulu hingga kini: topik itulah yang beliau berdua tekankan dalam mauidhoh khasanahnya.
Terakhir, sebagai pemungkas acara, lantunan doa dibacakkan oleh Habib Abdullah Al-Hamid dan KH. Abdul Qodir Syadzili dari Riyadlul Jannah. Para jemaah pun mengamininya dengan khidmat. Tangan mereka semua mengarah ke atas seakan mengharap Allah SWT mengabulkan doa-doa dari para habib tersebut.
Setelah beberapa waktu dan doa usai dibacakan, para habaib dan kiai pun turun panggung. Para jemaah yang berada di sekitar panggung langsung berjajar menyambut dan berusaha bersalaman dengannya. Mereka bukan hanya berniat untuk sekedar salam-menyalami, namun lebih ke arah mencari keberkahan dari para habib dan kiai.
(Arif Rahman/Mediatech An-Nur II)