annur2.net – Telah mencapai akhir jenjang, angkatan 3 Ma’had Aly An-Nur II “Al-Murtadlo” menyelenggarakan Ikhtitam & Ijazahan di aula pertemuan lantai 3 kantor pusat Pondok Pesantren pada Rabu pagi, 25 Juni 2025. Sebanyak 24 maha santri semester akhir mengenakan almamater berwarna biru sedang duduk mengkhatamkan kitab kuning.
Terdapat empat kitab kajian yang akan dikhatamkan hari itu: Alfiyah ibnu Malik dariilmu nahwu, Lubb Al-Ushul dari fan ushul fikih, Fath Al-Muin dan Minhaj Ath-Thalibin berupa ilmu fikih. Sebelum pengkhataman, Ag. Helmi Nawali, S.S., M.Ag., menyampaikan sambutan di hadapan para mahasiswa.
Inti sambutan Gus Helmi memberi saran agar tidak perlu mengadakan acara seremonial seperti Ikhtitam & Ijazahan ini. Bahkan dahulu Gus Helmi telah bermusyawarah dengan Ustaz Imam Shobari, selaku kemahasiswaan, menyarankan agar tidak ada wisuda akhir.
“Rencananya dulu itu Ma’had Aly nggak ada wisuda. Tanya saja ke Ustaz Shobari.” Tutur Gus Helmi dalam sambutannya. Justru beliau menyarankan agar pengkhataman kitab dilakukan bersama dosen pengajar di kelas. “Apa kamu nggak rida kitabmu dikhatamkan oleh guru seng wes ngajar mulai awal sampek akhir mbiyen?” Tegas beliau.
Pertimbangan Saran Peniadaan Seremonial
Di balik itu, Gus Helmi mempertimbangkan pembayaran yang berat tiap akhir jenjang. Hal ini mampu membebani orangtua maha santri di akhir. Apalagi jika biaya tersebut menumpuk di akhir jenjang tentu akan sangat membebani orang tua.
Kalau memang ada seremonial yang membutuhkan biaya yang banyak, “Bagaimana agar biaya tidak mbendol di akhir?” Harap Gus Helmi. Beliau menyarankan agar ada pencicilan biaya akhir setiap bulan.
“Kalau per bulannya 250, mbayarnya 350 dengan catatan yang seratus untuk mencicil biaya akhir.” Jelas Gus Helmi. Lalu beliau mengulangi pembahasan ini. “Bagaimana acara ini tidak seremonial?” Ucap beliau kemudian. “Kan, bisa dikhatamkan di kelas. …. Cukup ustaz-ustaz yang mengajar di kelas.” Metode ini tidak memerlukan biaya yang besar. “Saya kira itu tidak begitu membebani orangtua.” Ungkap beliau.
Selain itu, Gus Helmi khawatir jenjang-jenjang di bawah Ma’had Aly juga mengadakan seremonial tiap pengkhataman kitab. “Sak niki ini nggak perlu dinormalisasi.” Jelas Gus Helmi. “Saya ingin kita itu betul-betul efisiensi. Betul-betul ngaji.” Tambah beliau.
Pengkhataman Empat Kitab di Akhir Jenjang
Selanjutnya, para maha santri melaksanakan pengkhataman kitab yang mereka kaji. Pertama kitab Fath Al-Muin dikhatamkan oleh Kiai Zainuddin. Beliau juga memberikan beberapa keterangan tentang lafaz-lafaz kitab tersebut.
Selanjutnya Alfiyah ibnu Malik bab Idgham oleh Ag. H. Ahmad Ibrahim Zainul Akbar, S.E. Sebelum memberikan makna, beliau memberikan sedikit preview tentang bab Idgham. Beliau menjelaskan bahwa bab ini adalah bab paling ringan setelah mengkaji materi yang berat di bab-bab sebelumnya.
Gus Zain mengibaratkan, “Seperti pesawat kalau sudah naik di atas kan nanti akan turun.” Dalam materi Alfiyah tujuannya supaya otak bisa berpikir ringan setelah menerima materi-materi sebelumnya.
Kitab Lubb Al-Ushul olehKiai Husni Mubarok, S.Ag., M.Pd.I. Terakhir, kitab Minhaj Ath-Thalibin khatam oleh Kiai Zainuddin.
Usai pengkhataman, seluruh hadirin membaca Dalail Al-Khairat. Dalam hal ini, Kiai Achmad Syamsul Arifin M.Pd.I., memimpin pembacaan. Pada bacaan nama-nama Allah Swt., dan Nabi Muhammad saw., pembacaan dilakukan bersama.
Bacaan setelah akan hadirin baca masing-masing sesuai eksemplar pembagian Dalail Al-Khairat yang telah panitia berikan. Setelah semua pembacaan selesai, Kiai Syamsul Arifin menutup dengan doa Dalail Al-Khairat lalu doa penutup.
(Riki Mahendra Nur C./Mediatech An-Nur III)