Terbaru

MAGNET ​MASJID NABAWI

By on 23 Januari, 2017 0 39 Views

Dari Jabir RA, Nabi SAW bersabda :

صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ

“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Haram. Shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” [HR. Ahmad]
Catatan Alvers
Saat sholat ashar di masjid nabawi ada seorang pemuda berjubah dan bersorban khas arab saudi bertanya kepada saya, di mana posisi raudlah? Saya tunjukkan lokasi raudlah yang kebetulan berada di posisi sebelah kiri sekitar lima meter di mana saya sholat. Saya merasa heran mengapa orang tersebut tidak tau posisi raudlah, taman surga nabi? Yang diperebutkan jutaan orang yang datang ke masjid nabawi? karena Rasul SAW bersabda :

ما بين بيتي ومنبري روضة من رياض الجنة

“antara rumahku dan mimbarku adalah taman (raudhah) dari taman-taman surga” [HR Tirmidzi]
Mengobati rasa penasaran saya, akhirnya saya bertanya dari mana asalnya? Dia menjawab dari kota jeddah. Dan dia juga menceritakan bahwa dia pertama kali berkunjung ke masjid nabawi. MasyaAllah, ternyata orang yang rumahnya dekat sekitar 400 KM saja terasa berat untuk datang ke masjid nabawi. Hal ini membuktikan bahwa ziarah masjid Rasul itu ternyata lebih dipengaruhi oleh faktor kemauan daripada kampuan. Dan untuk memotivasi dia, saya berkata Alhamdulillah kami berasal dari indonesia yang jaraknya lebih dari 8.000 KM dan sudah berkali-kali datang ke masjid nabawi.
Masjid nabawi adalah salah satu masjid yang dianjurkan untuk tujuan religi. Rasul SAW bersabda,

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ – صلى الله عليه وسلم – وَمَسْجِدِ الأَقْصَى

“Tidaklah pelana itu diikat (untuk melakukan perjalanan dalam rangka ibadah) kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, masjid Rasul saw dan masjidil Aqsha” [HR. Bukhari]
Karena anjuran tersebut cukup logis, karena secara dogmatis bahwa sholat di masjid ini setara dengan 1000 kali sholat di masjid lainnya sebagaimana hadits utama di atas. Ini berarti sekali sholat di sana sama halnya sholat 6,5 Bulan di masjid atau tempat lainnya. Subhanallah, sungguh besar pahalanya. Maka tak ayal masjid ini menjadi magnet ibadah kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia tanpa pandang warna kulit, bahasa bahkan kasta. Mereka semua berjubel berebut sholat di masjid nabawi terlebih di raudhah.
Seusai shalat, mereka berbondong-bondong melintasi sisi makam Nabi saw untuk mengucapkan salam dan istimewanya Rasul saw akan menjawab secara langsung. Dalam hadits riwayat Abu Hurairah RA disebutkan:

ما من أحد يُسَلِّمُ عليّ؛ إلا رَدَّ الله عَلَيَّ روحي، حتى أرُدَّ عليه السلامَ “.

“Tidaklah salah seorang mengucapkan salam kepadaku, kecuali Allah akan mengembalikan ruh ku sehingga aku bisa membalas salamnya.” [HR Abu Dawud]
Sudah maklum bahwasanya orang yang meninggal, ruhnya berpisah dari jasadnya, sehingga jasadnya di makamkan ke dalam bumi. Adapun ruhnya akan tetap hidup di Alam Barzah. Namun khusus untuk para Nabi lebih dari itu, mereka itu hidup di dalam kuburnya. Sehingga menguatkan hadits di atas, Dalam hadits shahih Rasul saw bersabda :

الْأَنْبِيَاءُ أَحْيَاءٌ فِي قُبُورِهِمْ يُصَلُّونَ

“(Arwah) Para Nabi itu hidup di dalam kubur mereka, mereka itu shalat.” [HR. Al-Bazzar]
Posisi kuburan Nabi ditandai dengan kubah hijau di atasnya. Kubah hijau yang dikenal dengan nama Qubbatul Khadra’ dibangun pada masa pemerintahan Sultan Mahmud (1233 H), dan kini menjadi ciri khas atau identitas Masjid Nabawi.
Meskipun dalam kondisi yang  berdesakan yang tak terelakkan maka yang tidak boleh terlupakan adalah tetap menjaga tatakrama dengan  merendahkan suara dan tidak mengeraskannya. Allah swt berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara nabi, dan janganlah kamu Berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak dihapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari. [QS. Al-Hujurat: 2]
Para ulama berkata:

يُكْرَهُ رَفْعُ الصَّوْتِ عِنْدَ قبره صلى الله عليه وسلم كما كان يكره في حياته عليه الصلاة والسلام، لِأَنَّهُ مُحْتَرَمٌ حَيًّا وَفِي قَبْرِهِ صَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ دَائِمًا

“Dibenci mengeraskan suara di sisi kubur Nabi saw sebagaimana di dibenci ketika beliau masih hidup, karena Nabi selalu terhormat baik ketika saat hidupnya maupun setelah wafatnya”.[Tafsir Ibn kasir]
Setelah melewati kubur Nabi saw, para peziarah akan melewati kuburan Abu Bakar RA Lalu Umar bin Khathab RA sembari mengucapkan salam kepada keduanya. Assalamu alayka Ya Rasulallah minni wa min Muhibbil Murtadlo (alvers), Assalamu alayka Ya Aba Bakar, Assalamu alayka Ya Umar.

Allahumma la taj’al hadza akhiral ahdy bi harami Rasulillah (Ya Allah, janganlah engkau jadikan ziarahku ini sebagai ziarah terakhir di tanah haram utusan-Mu, perkenankan kami untuk kembali lagi). Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan pikiran kita untuk tergerak hati dan berniat untuk pergi ke Masjid Nabawi serta ziarah Rasul SAW Dan semoga Allah mempermudah semua niat baik kita.
Ditulis di Masjid Nabawi Madinah

22 Januari 2017
Salam Satu Hadits,

DR.H.Fathul Bari Alvers
ONE DAY ONE HADITH

Kajian Hadits Sistem SPA (Singkat, Padat, Akurat)

READY STOCK BUKU ONE DAY#1#2

Distributor : 081216742626
UMRAH ALVERS GROUP

Periode 2 April 2017

💰 Biaya : Rp.25 Jutaan

🗓 Lama : 12 hari

📕FREE Buku One Day #2

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: