Lisan yang Senantiasa Membaca Al-Qur’an

membaca, Lisan yang Senantiasa Membaca Al-Qur’an, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo

Bulan Ramadan adalah bulan suci, dan di bulan ini lah semua perbuatan baik akan dilipatgandakan ganjarannya, begitujuga amal perbuatan buruk. Jika kita maksiat, maka dosa kita akan dilipatgandakan. Oleh karena itu, pada bulan yang penuh berkah ini, menjaga lisan dari maksiat adalah hal yang penting. Karena lisan lah yang sulit untuk kita jaga, sekaligus “sebuah kematian” jika ia mengucapkan perkataan yang bodoh.

Diriwayatkan oleh Ahmad, Rasulullah SAW juga bersabda:

عليك بطول الصمت فإنه مطردة الشيطان وعون لك علي أمردينك

“Hendaklah engkau lebih banyak diam, sebab diam dapat menyingkirkan setan dan menolongmu terhadap urusan agamamu.” (HR. Ahmad).

Seseorang  membuka kunci keburukannya, ketika ia tidak mampu mengunci mulutnya. Maka dari itu lebih baik kita gunakan lisan kita untuk membaca Al-Qur’an, dari pada digunakan untuk maksiat. Karena di bulan puasa ini lebih baik kita memperbanyak ibadah dari berbuat sesuatu yang tiada manfaatnya. Begitu juga orang yang melempar pelatik api ucapannya, maka akan datang padanya api-api jawaban yang menyala-nyala.

Perlu diingat bahwa Allah telah mengutus malaikat-Nya untuk mencatat semua perbuatan yang telah kita perbuat dan semua ucapan yang telah kita ucap. Allah SAW berfirman,

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf: 18).

Keutamaan Al-Qur’an

Tadabbur makna Al-Qur’an dan membaca dengan tartil membuat kita mendapatkan banyak rahasia di dalamnya. Akan mendapatkan mafaat yang berlimpah. Karena Al-Qur’an adalah sumber segala kebaikan. Dan sesungguhnya Allah akan menampakkan diri-Nya pada kalam-kalam-Nya.

Ada sebuah cerita dimana ada seseorang yang setiap harinya menyendiri. Lalu ada seseorang yang menghampirinya lantas beratnya, “Wahai orang yang menyendiri, apakah engkau tidak merasa kesepian?” Lalu ia menjawab, “Bagaimana aku kesepian sedang aku membaca Al-Qur’an. Oleh karena itu Allah akan selalu menemaniku di sisiku.”

Jika kita membaca ayat yang menunujukkan pada ancaman maka sebaiknya hati bergetar takut. Tapi bila membaca ayat yang menunjukkan janji, maka bahagia adalah suatu pilihan. Sehingga, Al-Qur’an akan menuntun kita menuju jalan yang benar dan lurus.

Dengan membaca Al-Qur’an juga dapat mempengaruhi derajat kita. Al-Qur’an dapat mengangkat derajat kita, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis dari Umar RA, beliau berkata bahwa Rasulullah pernah berkata, “Allah SWT mengangakat derajat berapa kaum melalui kitab ini (Al-Qur’an) dan Dia merendahkan beberapa kaum lainnya melalui kitab ini pula.” (HR. Muslim).

Ketika kita sedang membaca Al-Qur’an kita merasa sangat nyaman, tentram dan semua beban hidup serasa ringan dan telah sirna, maka kita termasuk golongan orang-orang yang telah menemukan kenimatan di dalamnya. Allah SWT berfirman,

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.”

Oleh karena itu, marilah kita mebiasakan diri untuk membaca Al-Qur’an. Daripada lisan kita digunakan untuk maksiat, lebih baik kita gunakan untuk beribadah kepada Allah. Mendekatkan diri kepada Allah dengan membaca Al-Qur’an membuat derajat kita akan diangkat.

(M. Umar Abdil Jabbar/Lingkar Pesantren)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: