Lisan, Pisau Bermata Dua

Lentera Hati

 

Manusia merupakan makhluk tersempurna yang pernah diciptakan tuhan, dibanding dengan ciptaan  lainnya manusia memiliki sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki oleh ciptaan tuhan lainnya.

 

Tetapi dengan segala keistimewaan yang ia miliki, tidak lantas selalu menjadikannya hamba yang nomer 1 dalam hal  ketaatan dan ketaqwaan kepada Penciptanya, tetapi terkadang keistimewaan tersebut malah menjadi suatu hal penunjang kedurhakaan manusia.

 

Dari sekian banyak keistimewaan tersebut, lisan adalah sebuah keistimewaan  yang paling sering menjadikan seorang hamba tinggi derajadnya, dan tentu tidak hanya itu, layaknya pisau bermata dua, lisan juga gampang sekali menjadikan seorang hamba tidak lebih tinggi derajadnya dari  seekor anjing.

 

setiap hari, setiap jam, setiap menit bahkan setiap detik pastilah terlantun dari mulut kita suatu perkataan, entah baik ataupun buruk. Dan yang paling unik pada era serba cyber  ini, manusia menciptakan wahana baru untuk mengoceh, karena mungkin mereka merasa membutuhkan tempat yang tidak terbatas untuk menampung semua itu.

 

Berinteraksi dengan sesamanya, dengan lingkungan sekitarnya, bahkan berinteraksi dengan tuhannya, lisan memegang peranan penting dalam kehidupan para manusia.

 

Tak hanya itu mereka menggunakan lisannya sebagai penunjang kehidupannya, seperti seorang Selesman nyang mampu mengubah suatu produk yang biasa-biasa menjadi luar biasa dengan bumbu-bumbu kata yang mengesankan.

 

seperti halnya seorang Motivator yang menstimulus kliennya menjadi pribadi sukses dengan sihir kata yang menyulut api semangat, dan juga seperti seorang musisi yang dengan indahnya kata-kata dan juga merdunya suara mampu meluluhkan hati para penggemarnya sehingga mau mengorbankan segalanya demi idolanya, dan masih banyak lagi.

 

Lisan memang merupakan suatu organ kecil pada tubuh manusia, lisan pun tak memiliki tulang, oleh karena itu banyak orang beranggapan bahwa lisan merupakan hal yang sepele. Tetapi taukah anda, bahwa sekali digerakkan, lisan akan sulit kembali  seperti semula.

 

Maka  sudah sepantasnya setiap muslim memperhatikan apa yang dikatakan oleh lisannya, karena bisa jadi seseorang menganggap suatu perkataan hanyalah kata-kata yang ringan dan sepele namun ternyata hal itu merupakan sesuatu yang mendatangkan murka Allah SWT. Sebagaimana Rasulullah SAW. bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA.:

 

إن العبد ليتكلم بالكلمة من رضوان الله لا يلقي لها بالاً يرفعه الله بها درجات وإن العبد ليتكلم بالكلمة من سخط الله لا يلقي لها بالاً يهوي بها في نار جهنم

 

“Sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan keridhoan Allah, namun dia menganggapnya ringan, karena sebab perkataan tersebut Allah meninggikan derajatnya.

 

Dan sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah, namun dia menganggapnya ringan, dan karena sebab perkataan tersebut dia dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Orang yang banyak bicara bila tidak diimbangi dengan ilmu agama yang baik, akan banyak terjerumus ke dalam kesalahan. Dua orang yang berteman penuh keakraban bisa dipisahkan dengan lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa dipisahkan karena lisan.

 

Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa dipisahkan dengan cepat karena lisan. Bahkan darah seorang muslim dan mukmin yang suci serta bertauhid dapat tertumpah karena lisan. Begitu  besarnya bahaya yang ditimbulkan oleh lisan.

 

Dan solusi terbaik ketika lisan kita tak mampu mengeluarkan kata-kata yang baik adalah diam, bukankah telah di peringatkan oleh Nabi Muhammad dalam hadist yang berbunyi:

 

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka katakanlah perkataan yang baik atau jika tidak maka diamlah.”(Muttafaqun ‘alaihi)

 

Dalam kitab Asy-Syarhul Kabir ‘alal Arba’in An-Nawawiyyah Imam Asy-Syafi’i menjelaskan makna hadits di atas adalah, “Jika engkau hendak berkata maka berfikirlah terlebih dahulu, jika yang nampak adalah kebaikan maka ucapkanlah perkataan tersebut, namun jika yang nampak adalah keburukan atau bahkan engkau ragu-ragu maka tahanlah dirimu (dari mengucapkan perkataan tersebut).”

 

Sudah jelas bahwa berfikir sebelum berbicara merupkan salah satu cara untuk menghindari  kesalahan  yang ditimbulkan oleh lisan, dan jika dalam berfikir kita tidak menemukan hal yang baik, maka diam merupakan tindakan yang tepat.

 

Umum bagi sebagian masayarakat kita memandang lisan sebagai identitas ataupun sebagai tolak ukur akhlak seseorang, layaknya sebuah kendi berisi kopi  yang tidak pernah mungkin mengeluarkan susu dari mulutnya, lisan juga akan mengeluarkan jati diri yang sebenarnya dari seseorang tersebut. Bila memang tidak ingin disangka orang yang berkepribadian  buruk, maka sudah menjadi keharusan untuk selalu berucap baik.

 

من يضمن لي ما بين لحييه وما بين رجليه أضمن له الجنة

“Barangsiapa yang mampu menjamin untukku apa yang ada di antara kedua rahangnya (lisan) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan) aku akan menjamin baginya surga.” (HR. Bukhari)

 

Memang untuk suatu perkara yang sulit dikerjakan sudah pasti akan mendapatkan sebuah balasan yang besar pula, bahkan dalam hadist diatas disebutkan, bahwa Rasulallah memberikan jaminan surga Allah bagi orang yang mampu menjamin atau menjaga lisan serta kemaluannya.

 

Kita ketahui bersama bahwa setiap gerak gerik serta ucapan yang keluar dari mulut kita, tidak pernah luput dari pengawasan Malaikat-Malaikat Allah. Dan Semoga Allah SWT. senantiasa meluruskan lisan-lisan kita, memperbaiki amalan-amalan kita dan memberikan kita taufik untuk mengamalkan perkara yang Dia cinta dan Dia ridhai.

والله اعلم…

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: