Sebuah tirai terbuka, menunjukkan tulisan “Suharti Arifin”. Para hadirin yang di sana memberikan tepuk tangan tatkala melihat hal ini. Masjid yang merupakan hibahan PT. Polowijo Gosari itu resmi milik Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo”.
Relasi antara An-Nur II dan keluarga PT. Polowijo bermula karena salah satu pendiri, H. A. Djauhar Arifin berkunjung ke Pesantren Wisata tersebut. Menurut Dr. KH. Fathul Bari, S. S., M. Ag., pengasuh pondok, ia berkunjung setelah ajudannya yang bertamu di pesantren ini.
Namun saat kami tim Mediatech mewawancarai H. Didik Pribadi Arifin, M.B.A., Bapak Djauhar datang ke pondok karena salah satu temannya mengenali pondok ini. Yang pasti adalah hubungan keduanya bermula karena ayah Pak Didik.
Kiai Fathul berpandangan bahwa Bapak Djauhar merupakan seorang sosialis dan perhatian pada keagamaan. “Sehingga memiliki tekad bulat setiap tahun satu masjid,” kesan Sang Pengasuh.
Pada pembangunan masjid kesebelas ini, PT. Polowijo menargetkan An-Nur II sebagai bentuk konsistensi dalam pembangunan masjid. Bapak Didik memberikan pendapat lain, “Paling enggak kami memberikan suatu prasasti.” Jadi masjid ini dari sudut pandangnya adalah bukti relasi antara An-Nur II dan PT. Polowijo.
Ternyata selain pernyataan tadi, pewakafan masjid ke Pesantren Wisata ini juga berlatar belakang kapasitas Masjid An-Nur II yang tidak muat menampung banyaknya santri. Dalam sambutannya, Kiai berkata bahwa setiap Jumat harus bongkar pasang payon.
Pak Didik membenarkan alasan ini, “Karena orang tua kami melihat tempat ibadahnya kecil. Jadi kami bangunkan masjid lagi.”
Bapak Djauhar akhirnya berpikir untuk memberikan masjid kedua untuk An-Nur II. Namun sebelum planing tersebut terwujud, ia telah wafat. Kiai Fathul berkata bahwa dalam beberapa bulan tidak ada kabar dari PT. Polowijo hingga pada suatu hari ahli waris dan istrinya mengingat kembali komitmen sang ayah itu.
Akhirnya pada 30 Juli berlangsung peresmian masjid tersebut. Sebenarnya, sebelumnya pada tanggal 1 Oktober 2022 telah terlaksana kegiatan ground breaking. Berarti ada waktu sepuluh bulan untuk pembangunan Masjid Suharti Arifin. “Akhirnya dijalin lagi hubungan dengan putra-putranya,” ucap Kiai Fathul.
Sengaja bernama Suharti Arifin karena merujuk pada istri Bapak Djauhar Arifin. “Waktu itu ibu kami berkeinginan untuk mempunyai masjid yang dengan namanya sendiri,” jelas Bapak Didik alasan di balik nama masjid.
Melihat masjid yang sudah jadi, Bapak Didik mengaku bahwa masjid ini melebihi ekspektasinya. Seperti daya tampungnya yang bertambah dua kali lipat. Sebab pada penghitungan awal menggunakan ukuran orang dewasa, tapi ternyata masjid ini untuk siswa, sehingga bisa menampung dua kali lipatnya.
Kemudian Ketua yayasan Djariah Foundation tersebut berharap masjid ini bermanfaat untuk kegiatan baik para santri An-Nur II. “Bukan hanya untuk salat lima waktu tapi juga kegiatan-kegiatan ngaji juga bisa diarahkan di situ,” harapnya.
(Ahmad Firman Ghani Maulana/Mediatech)