Kunjungan Yayasan Lubis Mubarak: Belajar ke Pondok Berikon Wisata
Yayasan Lubis Mubarak Pondok Tahfidz Modern Al-Imam melakukan studi banding ke Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo” pada Selasa, 11 Juli. Kunjungan pondok tahfiz yang beralamat di Dusun Kwarasan Kidul, Desa Tiru Kidul, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri ini bermaksud mempelajari pendidikan sekolah umum dan pembangunan di Pondok An-Nur II.
Sekitar pukul 10.30 pagi, dewan Yayasan Lubis Mubarak tiba di Pondok An-Nur II. Panitia pun langsung menggiring mereka menuju raudah KH. M. Badruddin Anwar untuk membaca tahlil. Setelah itu, panitia mengarak mereka ke ruang rapat di gedung kantor pusat lantai dua.
Setelah semuanya berkumpul, Ustaz Demas membuka perkumpulan studi. Kemudian penyampaian sambutan pertama dari Gus Iqbaluddin Yazid, Albustomi, S.Ag., salah satu guru dari Yayasan Lubis Mubarak. Beliau menyampaikan maksud mereka datang ke An-Nur II, yaitu menjalin hubungan silaturahmi dan belajar bersama terkait pondok pesantren.
Sambutan kedua dari Ustaz Faizuddin mewakili keluarga besar Pondok Pesantren An-Nur II. Setelah mengucapkan terima kasih atas kedatangan Yayasan Lubis Mubarak, beliau mempersilakan mereka memberikan pertanyaan. Dari mereka, Ustazah Nanda Ainal Yakin, S.Kom sebagai ketua umum dan Ustazah Okta Nofita Sari, S.Pd., sebagai sekretaris serta menjadi pengurus sekolah umum di Yayasan Lubis Mubarak, memberikan beberapa pertanyaan.
Tanya Jawab Seputar Pondok Pesantren
Ustaz Faizuddin pun menjawab pertanyaan tersebut satu per satu. Sebelumnya, ia menceritakan awal masa Pondok Pesantren An-Nur II dan sulitnya memperkenalkan pondok kepada masyarakat. “Dulu menyebarkan pondok itu sangat sulit. Dulu 7 orang pertama mondok itu beserta pamannya,” ucap Ustaz Faiz.
Setelah itu, Ustaz Faiz mengungkapkan ada beberapa faktor yang menarik orang tua memondokkan anaknya. Jika di Pondok An-Nur II adalah ikon “WISATA”. “Jadi ikon ‘WISATA’ yang menarik para santri mondok di An-Nur,” ungkapnya. Selain itu, penghargaan dan media penyebaran informasi juga menjadi faktor.
Menjawab pertanyaan kedua berkenaan meningkatkan kualitas sekolah, Ustaz Faizuddin mengatakan, “Tak bisa dipungkiri, kualitas seorang murid juga dilihat dari kualitas seorang guru.” Tak hanya itu, fasilitas yang memadai juga membuat kualitas sekolah meningkat. Yang terpenting, pihak yayasan mestinya menggenggam alumni yang berpotensi supaya mengajar di sekolah. “Kalau ada pengurus yang memiliki militansi kepada pondok 100%, harus dipegang karena dapat memajukan pondok pesantren,” jelas Ustaz Faiz.
Pertanyaan selanjutnya berhubungan dengan kebutuhan tahun ajaran baru. Ustaz Faiz menyampaikan bahwa brosur merupakan media informasi terbaik untuk wali santri, terutama brosur digital. Setelah itu, mempersiapkan fasilitas-fasilitas pondok pesantren agar para santri nyaman dan kerasan.
Alasan Belajar di Pesantren Wisata
Terakhir setelah sesi sosialisasi dan pembicaraan, Gus Qidam Lubis menyampaikan sambutan. Beliau mengatakan bahwa pondok yang sudah berdiri lama pasti banyak pengalamannya. Selain itu, setiap pesantren pasti memiliki ciri khas masing-masing. Hal itu menjadi salah satu alasan beliau memilih Pondok Pesantren An-Nur II sebagai tempat belajar. “Fokus kami untuk sekolah umum dan pembangunannya karena saya tertarik dengan ikon ‘WISATA’ ini,” ucap Gus Qidam.
Beliau juga menyampaikan model pesantren yang akan mereka bangun. “Kita memiliki konsep untuk membuat pesantren Jawa. Istilahnya pesantren tempo dulu,” jelas beliau.
Mereka memiliki target untuk meningkatkan kualitas pondoknya. Gus Qidam mengatakan, “Apa pun ceritanya tetap kami tempuh karena yang kami tuju adalah kualitas.” Beliau melanjutkan, “Insya Allah, dua tahun lagi kita sudah melakukan efisiensi besar tinggal sekolah umumnya.”
Setelah sesi tanya jawab, Gus Iqbal membacakan doa penutup. Kemudian panitia mengajak mereka berkeliling Pondok Pesantren An-Nur II menaiki mobil golf. Usai berkeliling, Yayasan Lubis Mubarak dan Pondok Pesantren An-Nur II saling memberikan cendera mata dan foto bersama.
(Riki Mahendra Nur C/Mediatech An-Nur II)