Kunjungan Muslimat dan Fatayat NU: Silaturahmi Berbuah Fatwa

“Begitu masuk gerbang, langsung terpesona. ”Wajah ibu-ibu Muslimat dan Fatayat Nahdlatul Ulama dari Durungbedug, Sidoarjo terkesima setelah melewati pintu masuk yang begitu mewah, Gerbang Biru. Hari Selasa, 12 Juli 2022, mereka melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo” (Pesantren Wisata).

Setelah bus pariwisata berwarna ungu diparkirkan di lapangan utama pondok, para jemaah yang berjumlah 58 orang diarahkan ke Raudlah Al-Maghfurlah KH. M. Badruddin Anwar untuk pembacaan tahlil bersama. Kemudian acara dilanjutkan di Pendopo Al-Badari. Sesampainya di sana, para jemaah disuguhkan secuil video profil Pondok An-Nur II. Mereka tampak antusias menonton.

Tak lama, MC (Master of Ceremony) membuka acara dengan pembacaan surah Al-Fatihah. Selanjutnya penyampaian sambutan dari ketua rombongan Ibu Nur Kholida. Dalam sambutannya, ia menyampaikan, “Mudah-mudahan silaturahmi kita membawa berkah.”

Bahagia Punya Anak Saleh

Setelah itu, acara berlanjut ke mauidlah hasanah dari Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag. Beliau mengatakan, “Tidak ada anugerah yang mengalahkan kecuali memiliki anak saleh.” Sepatutnya seseorang bangga memiliki anak-anak yang saleh-salihah sebab dapat mendoakan orangtua setiap waktu. Selain itu, anak tersebut pasti akan menuruti apa kata orang tuanya. Sebagaimana Nabi Ismail a.s yang menyetujui kehendak Allah supaya Nabi Ibrahim a.s menyembelihnya.

Kemudian beliau menyampaikan supaya selalu tabah dalam menghadapi segala ujian dan tidak merasa bahwa masalah yang diterima itu paling berat. “Lek ono cubo ngoten, ojo sampek ngeroso cubone awak e dewe paling gede sak dunyo. Ono wong seng dicubo luwih abot teko awak e dewe, ning awak e dewe nggak eroh (Jika diuji, jangan sampai berprasangka bahwa ujiannya paling berat sedunia. Ada orang yang diuji lebih berat dari kita, tapi kita tidak tahu),” jelas Kiai Fathul.

Itu semua membuat manusia merasa dirinya orang yang kesulitan. Sebagimana ucap beliau, “Kita jadi orang susah karena merasa masalahnya paling berat sedunia.” Usai menyampaikan tausiah, Kiai Fathul menutup acara dengan doa bersama. Setelah berdoa, panitia menghidangkan suguhan untuk ramah tamah para tamu.

Silaturahmi Ke Pondok Putri

Usai bersilaturahmi dengan pengasuh utama, rombongan tersebut berlanjut ke Dalem Timur yang berada tepat di samping gerbang masuk pondok putri An-Nur II. Di sana mereka juga disambut dengan hangat.

Tidak lama setelah itu, MC membuka acara. Setelah itu, Ibu Nur Kholida kembali menyampaikan sambutannya. Kemudian Nyai Badriyah menyampaikan sambutan kedua. Beliau menyampaikan bahwa bersilaturahmi mencari berkah di pondok pesantren itu mudah. Apalagi bisa berkeliling di Pesantren Wisata. “Di sini disebut wisata (karena) sing mlebu ningali tok wis koyok wisata (Yang masuk untuk melihat saja sudah seperti wisata, ” ungkap beliau.

Acara selanjutnya, pihak ndalem menayangkan beberapa video profil An-Nur II. Sembari menonton, para jemaah juga disuguhkan makanan untuk dinikmati. Kemudian berlanjut ke sesi tanya-jawab sekaligus tausiah dari Pengasuh Pondok Putri Nyai Hj. Latifah.

Bagaimana Cara Agar Anak Mau Masuk Pondok?

Dalam sesi ini, Nyai Badriyah menjelaskan supaya orangtua membacakan surah Al-Fatihah 41 kali supaya anak patuh kepada peraturan. “Lek anak e dedel, diombekne banyu sikile ibuke seng diwacakno Al-Fatihah ping sewu (Jika anaknya bandel, diberi minum air basuhan kaki ibunya yang dibacakan Al-Fatihah seribu kali),” tambah beliau.

Kemudian, Nyai Latifah juga menambahkan, “Supaya mau mondok, didoakan supaya saleh-salihat; didoakan supaya diberi hidayah; diajak berkunjung ke pondok pesantren: diceritakan kisah yang indah tentang pondok pesantren.” Kisah yang indah bisa berupa cerita alumni yang sukses dari pondok.

Nyai Latifah juga menyampaikan, “Barang siapa yang anaknya membaca Al-Qur’an, maka Allah memerintah malaikat agar membuat rumah untuk orangtuanya di surga sebanyak huruf yang dibaca.” Apalagi orangtua yang memondokkan anaknya tidak mungkin menjadi miskin. Sebagaimana ucapan Nyai Badriyah, “Nggak enek ceritane wong mondokne anak tambah mlarat (Tidak ada cerita seseorang memondokkan anaknya bertambah miskin).”

Setelah itu, acara pun ditutup dengan pembacaan doa lalu sesi foto bersama. Kemudian jemaah dapat kembali ke bus untuk melanjutkan perjalanan.

(Riki Mahendra Nur Cahyo/Mediatech An-Nur II)

Your email address will not be published.

Your email address will not be published.

TERBARU