Ahad, 10 Desember 2023, kurang lebih 500 orang memasuki Gerbang Biru dengan sembilan unit bus. Mereka datang dari Sidoarjo guna menyambung tali silaturahmi juga mengaji bersama pengasuh, DR. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag. Mereka juga pergi ke Malang untuk berwisata, tapi bukan sembarang berwisata, mereka melaksanakan Wisata Dakwah.
Mereka semua berasal dari desa yang sama, yakni Desa Sumokembangsri, Kec. Balungbendo, Kab. Sidoarjo. Wisata Dakwah ini merupakan kegiatan tahunan mereka, tahun lalu mereka mengunjungi daerah Pasuruan. Mereka semua terkumpul dalam satu organisasi, yakni BPDM. BPDM ialah sebuah organisasi yang menaungi semua masjid yang ada di desa. Gunanya untuk meramaikan masjid juga untuk menolong masyarakat yang tidak mampu.
Banyak Bersyukur Kunci Kebahagiaan
“Syaratnya bahagia itu harus kanaah (bersyukur).” Tutur DR. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag., saat pengajian berlangsung. “Karena bahagia itu bukan karena materi, tapi karena hati.” Tambah beliau. Kiai Fathul menyampaikan beberapa resep kebahagiaan saat pengajian, tidak lupa juga beliau melontarkan beberapa pantun guna menarik perhatian audiens.
Kiai Fathul juga sempat bercerita tentang bahagia, bahwa bahagia itu terletak pada hati bukan pada materi. Andaikan bahagia terletak pada sebuah benda, maka niscaya tidak akan ada rakyat jelata yang bahagia. Tetapi faktanya rakyat jelata justru terlihat lebih bahagia daripada orang-orang kaya karena bahagia terletak pada hati bukan pada materi.
Kiai Fathul juga menyampaikan bagaimana cara agar lebih mudah bersyukur, seperti Nabi Muhammad Saw., katakan,
انظروا إلى من هو أسفل منكم ولا تنظروا إلى من هو فوقكم….
Artinya, “Lihatlah orang yang ada di bawahmu, dan janganlah engkau melihat orang yang ada di atasmu.”
Kesan Pertama Jemaah Wisata Dakwah
“Ini acara tahunan. Ya niatnya ngalap barokah (mencari berkah). Tiap tahunnya juga pindah tempat, tahun lalu itu ke Pasuruan.” Ujar Pak Adi, jemaah BPDM dari Sidoarjo. Ia datang dengan Istri dan ketiga anaknya.
“Kesannya pas masuk ke sini sih, pondok ini bagus terkesan modern, walaupun katanya pondok salaf. Saya lihat-lihat juga fasilitasnya lengkap, sama infrastrukturnya bagus. Ada tamannya, kolam, baguslah pokoknya.” Ucap Pak Adi. “Saya juga agak kagum dengan katanya di sini ada pendidikan S1-nya.” Tambahnya.
Setelah salat Zuhur dan makan siang, mereka-pun pergi meninggalkan Pondok Pesantren An-Nur II. Destinasi mereka selanjutnya adalah Lawang Sewu atau Masjid Tiban, Turen.
(Farkhan Wildana S./Mediatech An-Nur II)
