Pengajian Ahad Legi: Rumah Tangga Bahagia Ada Caranya

“Rumah tangga bahagia bukan karena kekayaannya,” begitulah ucapan Kiai Tauhid Abror, Pasuruan, saat mengisi tausiyah Pengajian Ahad Legi pada 2 Oktober 2022. Para jemaah menikmati kajian bertema keluarga tersebut.

Tim Al-Banjari melatunkan selawat-selawat dan memainkan tabuhan rebana guna menyambut kedatangan para jemaah pengajian. Setelah itu, berpindah ke sesi pengajian kitab Bidayah Al-Hidayah oleh Kiai Zainuddin Badruddin. Sebelumnya pengampu pengajian ini adalah Almaghfurlah KH. Bafadhol Ahmda Damhuji yang telah tutup usia pada September lalu. Tentu ini menjadi pembeda antara Pengajian Ahad Legi sebelumnya dengan yang sekarang.

Usai pengajian, Kiai Husni Mubarok naik ke panggung dan memimpin pembacaan tahlil. Setelah pembacaan tahlil, Kiai Syamsul Arifin juga menuju panggung dan memimpin pembacaan istigasah dan doa.

Setelah sesi pembacaan tahlil dan istigasah, MC (Master of Ceremony) memasuki panggung dan membuka acara dengan pembacaan surah Al-Fatihah. Kemudian acara berlanjut ke pembacaan ayat suci Al-Quran oleh santri An-Nur II.

Tak lama, acara menginjak sesi selanjutnya tanpa penyampaian sambutan sebab Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag., sebagai pengantar sambutan sedang berhalangan. Acara selanjutnya yakni penyampaian pengumuman-pengumuman. Pengumuman yang tersampaikan kepada jemaah secara dominan berupa prestasi-prestasi santri An-Nur II.

Keharmonisan Rumah Tangga

Setelah pengumuman tersampaikan, beralih ke acara inti yakni mauizah hasanah dari KH. Tauhid Abror Pasuruan. Dalam tausiyahnya, beliau mengatakan, “Setiap orang yang mengawali pernikahan itu harapannya untuk mewujudkan rumah tangga yang sakinah, mawadah, warahmah. Tapi tidak semua orang seperti itu. Ada yang belum sampai setahun sudah mendapat masalah.”

Untuk menanggapi permasalahan itu, Kiai Tauhid membacakan hadis Nabi Muhammad SAW, “Yang termasuk tanda-tanda rumah tangga bahagia ada empat….” Yang pertama adalah istri yang salihah. Beliau mengatakan supaya tidak berharap istrinya salihah. Akan tetapi men-saleh-kan diri sendiri dulu, istri akan ikut salihah dengan sendirinya.

Kedua yaitu anak-anak yang saleh-salihah. Keturunan yang seperti ini bisa terwujud apabila tanda pertama terpenuhi, yakni ibu yang salihah. Ketiga adalah keluarganya terkumpul menjadi orang yang saleh. Setelah istrinya salihah dan anak-anak sudah baik,  keluarga pun akan tentram.

Yang terakhir yaitu rejekinya ada di daerahnya sendiri. Maksudnya, tidak perlu mencari rezeki jauh hingga merantau sebab tidak boleh terlalu lama meninggalkan keluarga. Faktor lainnya juga karena istri tidak hanya membutuhkan uang, tetapi juga membutuhkan bimbingan dari sang suami. Pada akhirnya, suami bisa berkumpul dengan keluarga setiap hari.

Setelah uraian tausiyah, runtutan acara beralih ke penutup dan doa. Dalam sesi ini, Kiai Samsul Arifin menutup Pengajian Ahad Legi dengan pembacaan doa.

(Riki Mahendra Nur C/Mediatech)

Leave a Comment

Your email address will not be published.Required fields are marked *

© 2026 Mediatech An-Nur II