Kajian Tafsir: Dahsyatnya Taubat

taubat, Kajian Tafsir: Dahsyatnya Taubat, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo

Tafsir At-Taubah ayat 102

“(102) Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

***

Cara Taubat Mereka yang Tidak Ikut Perang Tabuk

            Dari orang-orang yang tidak mengikuti Perang Tabuk, ada sekelompok orang yang mengakui kesalahan dan bertaubat karena tidak ikut perang. Siapakah mereka? Mereka adalah Abu Lubabah bin Mundzir, Ka’ab bin Malik, Aus bin Sa’labah, dan beberapa sahabat lainnya. Mereka tidak ikut peperangan tapi menebusnya dengan cara taubat yang menakjubkan.

            Pasalnya, ketidakikutsertaan Abu Lubabah dan sahabat lainnya dalam perang Tabuk bersama Nabi Muhammad SAW membuat mereka merasa bersalah. Bagaimana tidak, sahabat yang lain sedang berkorban demi melindungi agama Islam. Namun Abu Lubabah dan kawannya sedang berada di rumah bersama sang istri dan anak. Maka dari itu, untuk menebus kesalahannya itu, mereka membawa harta benda mereka ke masjid dan mengikat diri mereka di tiang-tiang masjid.

 Bahkan Abu Lubabah berkata, “Demi Allah, kami akan mengikat diri di tiang-tiang dan tidak akan melepaskannya kecuali Nabi Muhammad SAW yang melakukan.” Ucapan tersebut menunjukkan kesungguhan mereka dalam bertaubat sekaligus menjadi bukti bahwa mereka mencampur perbuatan buruknya (tidak ikut perang) dengan perbuatan baiknya (bertaubat dengan sungguh-sungguh).

            Saat Nabi melihat mereka, beliau juga tidak ingin melepaskan mereka. Hingga Allah menurunkan surah At-Taubah ayat 102 ini yang menunjukan bahwa Allah telah menerima taubat Abu Lubabah dan sahabat lainnya. Setelah itu, Nabi pun melepaskan ikatan tali mereka.

            Dari kisah tersebut, kita bisa memetik hikmah bahwa jika seseorang melakukan kesalahan hendaknya ia mengiringinya dengan perbuatan baik yang lain, alih-alih bertaubat. Hal itu membuat dosa yang berasal dari kesalahan yang mereka lakukan terhapus oleh pahala perbuatan baik tadi.

Meski begitu, seseorang yang bertaubat mesti meyakini bahwa Allah SWT menerima taubat mereka. Sebagaimana ucapan Imam Ghozali, “Orang yang menyangka Allah tidak menerima taubat mereka, sesungguhnya mereka sama dengan orang yang menyangka matahari telah terbit tapi gelapnya masih ada.”

(Riki Mahendra Nur C/Mediatech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: