Kloneng Kiai Anwar

Di depan sebuah kloneng besar, KH. Anwar melihat bincret (jam istiwak) dan mencocokkan waktu arloji di tangannya. Setelah tiba waktu salat, beliau memukul kloneng itu dengan palu. Teng…! Teng…! Teng…! Bunyinya terdengar keras. Para santri pun berbondong-bondong masuk masjid, yang saat itu masih menjadi musala, untuk bersiap-siap melaksanakan salat berjamaah. “Santri-santri langsung ke masjid semua waktu itu,” ujar Mbah Ushul, santri Kiai Anwar yang kini berusia 85 tahun.

 

Kloneng adalah sejenis lonceng dari besi yang mengeluarkan bunyi keras ketika dipukul. Kloneng itulah yang menjadi penanda masuknya waktu salat. Tidak hanya bagi para santri, melainkan juga bagi warga Bululawang dan sekitarnya.

 

Menurut KH. Ridlwan Al-Kanma, pengasuh Pondok Pesantren An-Nur Al-Huda, Tajinan, Malang, bunyi kloneng itu terdengar hingga Bululawang Timur. “Setelah mencocokkan jam, beliau menabuh kloneng, lah, bunyinya itu sampai di Bululawang Timur sana,” terang beliau yang juga alumni Pondok Pesantren An-Nur 1 tahun 1988.

 

Bahkan, masjid jami’ Bululawang, saat itu, berkiblat kepada azan dari Pondok Pesantren An-Nur. “Di daerah Bululawang ini, masjid jami’ menunggu azannya An-Nur, karena mbah yai lah yang menjadi pedoman,” ujar KH. Ali Muttaqin.

 

Salah satu alumni, Drs. H. Mahmud, menyatakan tidak sanggup untuk menggantikan beliau memukul kloneng tepat pada waktunya. “Keistiqomahan beliau, ketepatan waktu antara kloneng, azan, iqomah, dan melaksanakan salat, betul-betul tepat waktu, tidak pernah maju tidak pernah mundur,” terangnya.

 

Dikutip dari buku biografi beliau, sekitar tahun 1930-an, KH. Anwar Nur dan istri masih tinggal satu rumah dengan orang tua mereka, Mbah Hasan. Karena menganggap Kiai Anwar sudah mampu untuk hidup sendiri, Mbah Hasan memberikan sebuah rumah yang berada di sebelah barat kediaman yang selama ini beliau tinggali bersama istri dan mertuanya.

 

Dan di tahun 1940, Kiai Anwar mendirikan musala di depan kediaman beliau yang baru. Dari musala itu, beliau mulai istiqomah memukul kloneng sebagai tanda masuknya waktu salat. Dan musala itulah yang menjadi cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren An-Nur.

 

Salat Berjamaah yang Tidak Pernah Ditinggalkan

 

Anwar Nur selalu melaksanakan salat fardu secara berjamaah. Bahkan menjelang akhir hayatnya, beliau masih bersikeras untuk salat berjamaah di masjid. Saking istiqomahnya, KH. Fahrur Rozi mengatakan, “Sampai beliau sebelum wafat, waktu salat sambil duduk pun, selalu minta (salat) jamaah, saya sering salat jamaah di belakang beliau, beliau menjadi imam dengan duduk dan saya berdiri.”

 

Senada dengan itu, KH. A Bahrul Huda, pengasuh Pondok Pesantren An-Nur 1, mengatakan bahwa kiai Anwar selalu mengedepankan hal ibadah, terutama salat berjamaah. Beliau tidak pernah sama sekali meninggalkan salat berjamaah. “Bahkan ketika beliau sakit, kesulitan untuk berjalan, dibopong sekalipun, beliau tetap (salat) berjamaah setiap hari lima waktu,” terang KH. Bahrul.

 

Keistiqomahan beliau dalam salat berjamaah mejadi salah satu acuan wajib bagi para santri An-Nur. Amalan baik ini juga menurun kepada putra-putri beliau, salah satunya putra pertama beliau, Almaghfurlah KH. M. Badruddin Anwar yang menjadikan salat berjamaah sebagai kegiatan wajib para santri.

 

Dan pada haul beliau yang ke-28, KH. Fathul Bari, pengasuh Pondok Pesantren An-Nur II, mengundang para jamaah, alumni, wali santri dan umat islam pada umumnya untuk menghadiri acara yang akan diselenggarakan pada Ahad, 18 November 2018 ini. Sebagaimana dalam undangan yang disebarkan dalam bentuk audio visual, beliau menghimbau, “Kita sama-sama mendoakan guru kita, demi keberkahan ilmu kita.”

 

(MFIH/Media-Tech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: