Kiat Menjadi Ikhlas

PASAR WAQIAH

Zaman sekarang rupanya sangat sulit dalam menanamkan rasa ikhlas. Alasannya sederhana, ingin menonjolkan diri. Jika tidak ada orang, tak jarang kita meninggalkan ibadah. Sering pula kita meninggalkannya sebab suatu alasan remeh yang kita penting-pentingkan. Ada kalanya juga kita meninggalkanya sebab rasa malas.

Hal penting yang biasa dianggap remeh dan sering terabaikan adalah ketika kita melakukan amal kebaikan. Lupa tidak kita bubuhi dengan yang namanya ikhlas. Padahal ikhlas adalah suatu bumbu untuk mendapatkan keistiqomahan, penerimaan serta kemantapan.

*Mengenal Ikhlas*

Salah seorang ulama bekata:

اَلْإِخْلاَصُ هُوَ تَجْرِيْدُ قَصْدِ التَّقَرُّبِ اِلَى اللهِ تَعَالَى عَنْ جَمِيْعِ الشَّوَاهِبِ

“Ikhlas adalah memurnikan tujuan mendekatkan diri kepada Allah ta’ala dari segala hal yang mencampurinya.” 

Ibnu Mas’ud berkata, orang ikhlas bagaikan orang yang berjalan di atas pasir. Kita tak mendengar suaranya tapi langkahnya berbekas.

Secara kasat mata, ikhlas itu tak bisa dilihat, tapi bisa dirasakan. Perumpamaannya seperti Seperti akar pohon, yang selalu mengalirkan kebaikan meskipun tak pernah ada yang melihatnya. Karena akar adalah anggota tumbuhan yang tersembunyi tapi mempunyai fungsi besar.

Kita bisa melihat tumbuhan hidup indah, hidup subur. Tetapi, penyebab semua itu ialah akar. Akar tak tampak tapi berperan penting. Walaupun pohon beringin akarnya tampak tapi beringin tetap mempunya akar yang tersembunyi. Akar tak mau menampak kan dirinya. Jikalau ia menampakkan dirinya berarti ia sama saja menumbangkan dirinya sendiri. Sebab akar yang juga berperan sebagai penunjang tumbuhan, jika dikeluarkan, akan menumbangkan pohonnya.

Sama seperti halnya akar, amal kebaikan pun akan percuma jika kita melakukannya dengan kesombongan. Ikhlas juga bisa diumpamakan seperti seorang guru, yang membuat anak didiknya berprestasi namun tidak dipandang. Padahal, antara mau mendidik dan tidaknya pun guru itu akan sama keadaannya di mata umum.

*Tanda Ikhlas*

Dalam kitab Tanbihul Ghofilin disebutkan ada ulama yang bernama Dzunun Al-Mitsri. Belaiu ditanya kapan seseorang bisa dilihat kalau orang itu ikhlas. Lantas ia menjawab dengan 4 perkara. Yang pertama, seseorang meninggalkan terbuang-buangnya waktu.

Kedua, membagikan sesuatu yang ia miliki walaupun sedikit. Selayaknya kita yang lapang hidup bisa untuk saling berbagi apa yang kita miliki. Baik itu banyak maupun sedikit. Karena orang ikhlas tidak akan mementingkan dirinya sendiri. Ia akan selalu menolong dan membantu sesamanya.

Ketiga, memilih untuk dipandang hina. Hal ini adalah sesuatu yang sulit bagi kita. Ada suatu cerita tentang pembagian ini di kitab Ihya’ Ulumuddin. Alkisah ada seorang ulama yang berdandan seakan-akan bukan seorang ulama. Tapi, pada suatu hari ada seseorang yang melihatnya sedang beribadah di waktu malam. Karena takut didatangi banyak orang untuk meminta doa, ia pun mencuri. Ini ditujukan agar ia dipandang jelek.

Dan yang keempat yaitu hati dan sikapnya sama antara saat dipuji dan dicaci. Dengan dipuji biasa akan menimbulkan rasa sombong. Sedang ketika dicaci, akan menjadikan kita malas melakuakan ibadah lagi. Maka, untuk menjadi insan yang ikhlas, jangan jadikan pujian dan cacian akan mengubah ibadah kita untuk tetap istiqomah.

*Tingkatan Ikhlas*

Dalam kitab I’anatut Thalibin disebutkan, tingkatan ikhlas itu ada 3. Pertama, ikhlas semata-mata hanya karena allah. Tingkatan ini ialah tingkatan tertinggi. Orang yang ikhlas hanya karena allah ialah orang yang tak mengharap balasan apapun kecuali hanya rida Allah.

Yang kedua, ikhlas untuk mendapatkan balasan yang baik diakhirat kelak. Tingkatan ini adalah tingkatan sedang. Sebab keikhlasannya ditujukan untuk meminta balasan ingin masuk surga.

Dan ketiga ialah ingin mendapatkan balasan di akhirat serta di dunia. Jika di tingkatan ini, seseorang melakukan amal kebaikan agar ia mendapat balasan yang baik di dunia dan di akhirat. Oleh karena itu, ini merupakan tingkatan terendah ikhlas.

Maka, tak ada salahnya kita untuk mencoba ikhlas mulai dari yang terbawah. Sebab untuk menjadi ikhlas tidak bisa dengan cara yang instan. Dengan begitu, kita biasa untuk terlatih dan lama-kelamaan akan terbiasa dengan perilaku ikhlas. Wallahu a’lam.

Lebih lengkapnya silahkan ikut pengajian Pasar Waqiah Ramadhan yang digelar ba’da isya di masjid An-Nur II. Dan setiap harinya akan diisi dengan materi berbeda-beda.

*disarikan dari kajian ilmiah Pasar Waqiah Ramadhan oleh Kiai Zainuddin Badruddin

(Ibrahim/Lingkar Pesantren)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: