Kiai Nidhom, Syarat Mendapat Ilmu Manfaat

ilmu, Kiai Nidhom, Syarat Mendapat Ilmu Manfaat, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo

                Ahad, 14 Februari 2021, Pengajian Ahad Legi Internal kembali digelar. Pelataran Masjid An-Nur II “Al-Murtadlo” (Pesantern Wisata) hingga area raudlah Al-Maghfurlah KH. M. Badrudin Anwardipenuhi oleh ribuan santri, baik putra maupun putri. Hadir pada acara tersebut, Kiai Nidhom Subki, Pengasuh Pondok Pesantren As-Syafi’iyah, Tumpang sebagai pembawa tausiah.

                Di awal tausiah, beliau menyenandungkan mukadimah Kitab Al-Imrithi. Sekilas tentang kitab tersebut, adalah kitab yang membahas tentang gramatika bahasa arab berbentuk nazam. Kitab tersebut dikarang oleh Syekh Syarifuddin Yahya.

                Salah satu alumni An-Nur II tersebut bukan tidak memiliki tujuan menggunakan mukadimah kitab Al-Imrithi pada pembukaan tausiahnya. “Muqaddimah ini memiliki banyak makna,” tutur beliau. Selain itu, beliau berkata bahwa mukadimah tersebut dapat digunakan untuk mengawali (memberi pembukaan) segala ilmu.

                Mukadimah kitab tersebut berbunyi,

الحمد الله الذى قد وفقا # لالعلم خير خلقه والتقى

                “Segala puji bagi Allah yang memberikan taufik kepada sebaik-baiknya manusia berupa ilmu dan ketakwaan.” Kiai Nidhom berkata mengengenai bait tersebut seperti perkataan Imam Syafi’i, “Keberadaan manusia diperhitungan dengan kadar ilmu dan ketakwaan yang ia miliki.”

                Dalam bait tersebut tertera lafaz khaira khalqi. Makna dari lafaz tersebut adalah, seseorang yang ditakdirkan untuk menjadi baik. “Yang dimaksud adalah kalian, para santri,” tegas beliau. “Maka dari itu, bersyukurlah karena kalian termasuk dalam golongan orang yang mulia sebagai pencari ilmu.”

Standar Minimal Mencari Ilmu

                Dalam mencari ilmu, ulama pada zaman dahulu memiliki standar minimal dalam bidangnya. Contoh salah satu perkataan mereka, “Ojok sampek mandek ngaji tasawuf lek gorong ngaji kitab Ihya` Ulumu Ad-Din (jangan berhenti mengaji ilmu tasawuf kalau belum mengkaji kitab Ihya` Ulumu Ad-Din.” Bukan hanya ilmu tasawuf, ilmu fikih dan nahwu juga memiliki batas minimal pula, yaitu pada kitab Minhaju Al-Abidin (Fikih) dan Alfiyyah Ibn Malik (Nahwu).

                Maka dari itu, kiai Nidhom menganjurkan para santri untuk melanjutkan studi di pesantren agar dapat memenuhi standar tersebut. “Lama? Ya bersabar lah,” tutur Kiai Nidhom. Sebab, Imam Syafii dalam syair karangannya berkata, yang artinya, “Siapa yang tidak merasakan pahitnya menacari ilmu sesaat, akan merasakan pahitnya kebodohan seumur hidupnya.”

Tips Ilmu Manfaat ala Ihya` Ulumu Ad-Din

                Selain membahas tentang bait Imrithi, beliau juga memberikan beberapa tips agar mendapatkan ilmu manfaat dan berkah. Keterangan ini beliau kutip dari Kitab Ihaya` Ulumu Ad-Din jilid pertama. Salah satunya, seorang pencari ilmu harus memiliki akhlak atau budi pekerti yang baik. Ibaratkan saja orang yang memiliki akhlak yang baik adalah sebuah gelas yang sangat bersih dan ilmu adalah airnya. Apabila seperti itu, ilmu yang masuk akan jernih dan bisa meneguknya.

                Kedua, tidak memikirkan hal-hal yang tidak penting. Para pencari ilmu tidak boleh memikirikan hal yang tidak semestinya mereka pikirkan. Ketiga, tidak arogan. “Jangan sampai terbesit di pikiranmu bahwa ilmumu lebih tinggi dari ilmu gurumu,” tutur beliau.

                Dan yang keempat adalah tawadu dan khidmat terhadap guru. Dalam bagian ini beliau memberikan dua cerita. Kisah pertama, suatu ketika ada beberapa santri sedang memijati kiainya. Salah seorang dari mereka adalah santri yang tidak memiliki kecerdasan di bidang apapun. Tetapi ia memiliki kelebihan dari santri yang lain: sangat patuh pada gurunya.

                Di tengah-tengah memijat sang kiai berkata, “Rek, ndek ngarep gerbang pondok saiki onok Nabi Khidir (Nak, sekarang di depan gerbang pondok ada Nabi Khidir).” Mendengar apa yang dikatakan oleh gurunya itu, semua sanrti langsung berhamburan menghampiri Nabi Khidir yang konon dapat memberikan ilmu laduni kepada orang yang menemuinya. Tersisa satu santri yang tetap memijat kiai tersebut.

                Melihat hanya tersisa satu santri, beliau bertanya, “Mengapa kamu tidak ikut menghampiri Nabi Khidir?” “Kalau saya menghampiri Nabi Khidir (Percaya dengan segala keajaibannya) berarti saya sama halnya dengan meragukan keilmuan panjenengan yang notabenenya sebagai guru saya.” Santri tersebut mennjawab dengan lembut sembari terus memijat. Karena hal itu lah santri tersebut mendapat rida dari kiainya.

                Cerita yang terakhir adalah cerita seorang santri yang tidak tawadupada gurunya. Pada zaman dahulu ada santri yang sangat cerdas. Saking cerdasnya, santri tersebut sering mendapatkan undangan musyawarah, bahkan ceramah, di luar pesantren.

                Suatu ketika ia mendapatkan undangan ceramah di desa sebelah. Karena merasa lebih cerdas dari gurunya, santri tersebut pergi memenuhi undangan tanpa berpamitan kepada kiainya hingga kiainya berkata, “Dia telah berangkat kesana tetapi ilmu yang ia miliki masih tertinggal di sini.”

                Apa yang kiai katakan tersebut pun terbukti. Setelah santri tersebut membuka ceramahnya dengan salam, ia terdiam dan tidak dapat berkata sepatah kata pun. Beberapa tahun setelah itu terdengar kabar bahwa santri tersebut menjadi penjual arang di pasar.

                Dan tips yang terakhir adalah patuh terhadap perkataan guru. “Patuhlah, serahkan semuanya kepada gurumu, beliau lebih tahu apa saja yang cocok terhadap dirimu,” Tutur beliau, “Semoga kalian mendapatkan ilmu yang manfaat dan berkah.” Beliau pun menyudahi tausiahnya yang disusul dengan doa oleh Kiai Syamsul Arifin.

(Ryan Winawan/Mediatech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: