Kiai Fathul, Menghargai Pendapat dan Mendoakan Baik Pemimpin

Beberapa hari setelah Pilpres 2019, Pondok Pesantren An-Nur II Al-Murtadlo kembali menggelar pengajian rutin Ahad Legi, Ahad (21/04). Bertempat di depan masjid An-Nur II, pengajian ini merupakan penutupan pengajian Ahad Legi sebelum menghadapi bulan suci Ramadhan.

“Akhir-akhir ini kita menghadapi 2 perkara. Pertama, kita telah sampai di bulan Nisfu Sya’ban. Di bulan Sya’ban ini biasanya banyak orang meninggal.” Tutur KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag. membuka sambutannya. Tidak ada jaminan orang yang hidup bisa bertahan hingga di bulan Ramadhan. Beliau juga menambahkan, “Kurang satu bulan sebelum bulan Ramadhan itu malaikat maut koyok- koyo’o (seperti) mengunduh nyawa orang yang hidup di dunia ini.” Maka dari itu, kita harus berdoa agar ditetapkan bisa menemui bulan Ramadhan.

*Selalu Menghargai Pendapat*

Lain dari itu, yang kedua, kita juga sudah melewati Pilpres 2019. “Mesti dalam sebuah pemilihan itu pasti ada yang mengalami sebuah pertingkaian ditengah masyarakat. Sebab saat pemilihan pasti setiap orang berbeda pilihannya,” ujar beliau. Maka, jika seseorang tidak saling menghargai pilihan, hal ini akan memicukan sebuah pertengkaran. Pertengkaran itu bisa berimbas dan menciptakan pertumpahan darah antar sesama saudara.  

Dikisahkan, pada masa pemerintahan sayidina Ali Ra., ada seorang rakyat yang bertanya kepada beliau. “Kenapa rakyatmu bisa saling bertengkar? Padahal, pada waktu pemerintahan sebelummu tenang-tenang saja kecuali pada masa pemerintahanmu dan khalifah Utsman.” Beliau pun menjawab, “Pada waktu khalifah Abu Bakar dan Umar itu umatnya masih baik-baik. Barang ketika aku menjadi khalifah rakyatnya sudah seperti ini, banyak pertengkaran.”

Dari cerita ini, kita bisa memetik suatu hikmah. Yakni, sebelum kita menuntut pemerintah, kita harus memandang rakyatnya. “Sebab tindak-tanduk pemerintah itu tergantung rakyatnya,” imbuh Kiai Fathul.

*Selalu Berdoa Baik*

Selain itu, pesan Kiai Fathul, kita sebagai rakyat harus senantiasa berdoa semoga capres dan cawapres yang menjadi presiden nantinya bisa menjadi pemimpin yang baik dan adil. “Jangan sampai mendoakan jelek pada para pemimpin. Sebab mereka juga sama seperti kita, mempunyai kekurangan. Karena manusia itu tak lepas dari berbagai kekurangan,” ujar beliau di hadapan para jamaah pesantren di Malang itu.

Sebagian Ulama berkata, “Jangan menjelekkan presiden, jika masih menjelekkan maka ia tergolong orang yang menuruti hawa nafsunya.” Dari sisi lain, pernyataan ini konteksnya sama dengan doa yang disebutkan oleh Khotib khotbah Jumat, yang berarti “Jadikanlah mereka menjadi pemimpin yang baik. Dan jadikanlah tabuk kekuasaan diberikan pada pemimpin yang bertakwa dan takut kepada-Mu.”

“Maka, jamaah Ahad Legi jangan ikut-ikutan orang yang menjelekan pemerintah. Tapi, kita harus selalu mendoakannya menjadi pemimpin yang adil dan baik bagi bangsa indonesia ini,” tutup Kiai Fathul pada sambutannya.

(Frendy/Media-tech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: