Tidak ada yang meragukan tentang keilmuan Kiai Badruddin. Beliau menghafal banyak kitab lantaran menggembala kambing Kiai Djazuli.
Hafalan adalah bidang keilmuan Kiai Badruddin yang paling dikenal, di samping beliau adalah pendebat ulung. Saat berdiskusi, beliau terkenal pandai berpendapat, sehingga julukan Singa Musyawarah pernah disematkan ke pada beliau. Hafal nazam kitab Alfiyah Ibnu Malik dan kitab Bulugh Al-Maram adalah prestasi hafalan beliau yang jamak kita ketahui.
Ada banyak cara beliau menghafal kitab. Ust Yahdi Arif pernah mendengar cerita langsung dari Kiai Badruddin tentang bagaimana beliau menghafal. Salah satu caranya adalah dengan duduk di tepi sumur. Ini beliau lakukan untuk menghindari kantuk saat menghafal. “Bagaimana mau mengantuk? Bisa jatuh ke sumur,” ujar Ust Yahdi.
Semboyan yang digunakan Kiai Badruddin saat itu adalah, “Isykariman au mut syahidan.” Yaitu hidup mulia (karena telah berhasil menghafal) atau mati syahid (karena jatuh ke dalam sumur). Cara lain beliau untuk menghindar kantuk adalah merendam diri di dalam air. Ikhtiar ini pernah beliau amalkan saat menjelang keluar dari Pondok Pesantren Sidogiri. Karena tinggal sepotong pakaian di badan, beliau merendamkan diri sambil hafalan, di samping menunggu pakaian yang sedang dijemur kering.
Yang paling diingat Kiai Syaifuddin dari KH. M. Badruddin adalah kepintaran beliau dalam mengajarkan Kitab Bulughul Maram. Kitab itu berisi tentang hadist-hadist nabi tentang fikih. Dan kitab itu lah yang beliau ajarkan dan benar-benar beliau hafal. Saking hafalnya, Kiai Syaifuddin dan teman-temannya sering kali tertinggal menyimak bacaan beliau. Bukan hanya hafal inti dari isi kitab tersebut, beliau juga menghafal madlul-madlul, keterangan, di dalamnya.
Pernah terlintas di pikiran Kiai Syaifuddin saat mengkaji kitab ini bersama Kiai Badruddin semasa belajar Pondok Pesantren Sidogiri. Kiai Syaifuddin berasumsi bahwa Kiai Badruddin bisa membaca kitab tersebut tanpa melihat bukan karena sudah menghafal, melainkan beliau belajar terlebih dahulu sebelum mengajar. Namun asumsi itu gugur saat Kiai Badruddin menceritakan salah satu pengalamannya ke pada santri-santri kelas 2 Tsanawiyah, kelas Kiai Syaifuddin.
Kisah itu bermula ketika Kiai Badruddin belajar ke pada KH. Djazuli Usman di Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso. Beliau mempunyai kedekatan dengan sang guru lantaran pernah sengaja memainkan lonceng di depan kediaman gurunya itu. Dan suatu saat, Kiai Djazuli mengutus Kiai Badruddin menggembala lima kambing.
Menurut pada perintah guru, Kiai Badruddin menggembala kelima kambing Kiai Djazuli tersebut. Tidak ada kejelasan di mana Kiai Badruddin menggembala kambing-kambing itu. Yang jelas, beliau berkomitmen untuk menghafal kitab sejumlah kambing yang beliau gembala. Karena keikhlasan dan ketelatenan beliau menggembala, komitmen itu berhasil beliau tuntaskan. Artinya, semasa di Al-Falah, setidaknya Kiai Badruddin telah menghafalkan sedikitnya lima kitab, yang salah satunya adalah kitab Bulugh Al-Maram.
Padahal, meneruskan kisah tersebut, jumlah seluruh kambing Kiai Djazuli saat itu berjumlah dua puluh ekor. “Seandainya Kiai Djazuli menyerahkan semua kambingnya, niscaya beliau akan menghafal dua puluh kitab,” terang Kiai Syaifuddin.
KH. Fadhol Ahmad Damhuji menjelaskan bahwa Kiai Badruddin merupakan sosok yang tidak mengutamakan prestasi, seperti banyak menghafal kitab dan meraih rangking kelas yang baik. “Ilmu yang didapat Kiai Bad ilmu ladunni, tapi tetap belajar,” terang beliau. Menomorduakan prestasi, Kiai Badruddin lebih mendahulukan nilai-nilai ketasawufan. Dan nilai-nilai tersebut tergambarkan dalam sebuah nazam di kitab Minhaj Al-’Abidin yang biasa dibaca para ustaz dan santri An-Nur II.
Pengamalannya adalah, meski dikenal sebagai putra seorang ulama, Kiai Badruddin tidak pernah menolak apa pun perintah dari gurunya. Terlebih perintah itu datang dari Kiai Djazuli. KH. Fadhol Ahmad Damhuji, sahabat karib beliau, pernah mengutip salah satu perkataan Kiai Badruddin. “Kalau Kiai Cholil (Sidogiri), Kiai Djazuli (Ploso) mengutus saya, sampai mati saya lakukan,” ucap Kiai Badruddin yang disaksikan oleh Kiai Damhuji.
(MFIH/Mediatech An-Nur II)