Terbaru

Khutbah Idul Adha 1433 H.:Keutamaan Sholat Berjama’ah

By on 17 Oktober, 2012 0 1 Views

Oleh: Helmi, M.A

الله أكبر الله أكبر الله أكبر، الله أكبر الله أكبر الله أكبر، الله أكبر الله أكبر الله أكبر. الله أكبركبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا.

الحمد لله الذي تفرد بالربوبية، واستحق من خلقهم العبودية، وأوجب الصلاة عليهم فجعلها عمادا وشريعة لهذه الملة. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله لا نبي بعده. اللهم صل وسلم على سيدنا ومولانا محمد الذي جاء بأفضل وأكمل الشريعة، وعلى آله وأصحابه والتابعين والسالكين في نهجه إلى يوم القيامة.

أما بعد، فيا أيها الناس أوصيكم ونفسي بتقوى الله وطاعته لعلكم ترحمون مصداقا لقوله تبارك وتعالى: يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما.

 

Kaum Muslimin, Jama’ah Sholat Idul Adha yang dirahmati Allah…

Alhamdulillah, pada kesempatan ini kita sebagai umat Islam masih diberi kesempatan dan kesehatan untuk melaksanakan salah satu perintah Allah swt. yang berupa sholat Idul Adha. Kesempatan dan kesehatan ini, seharusnya tidak kita sia-siakan dan harus digunakan sebaik mungkin untuk mendekatkan diri kepada Allah dan berbuat kebaikan kepada sesama manusia.

Salah satu pelajaran yang bisa dipetik dari moment penting ini adalah tentang pentingnya ibadah sholat secara berjama’ah. Islam sebagai agama penyempurna datang dengan berbagai syariat dan aturan yang harus dilakukan oleh setiap pemeluknya. Salah satu syariat yang paling penting adalah ibadah sholat.  Allah telah mewajibkan kepada kita untuk melaksanakan sholat pada waktunya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 103:

فأقيموا الصلوة، إن الصلوة كانت على المؤمنين كتابا موقوتا

Maka dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu adalah suatu kewajiban yang ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman.

Nabi Muhammad saw. juga bersabda:

خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللَّهُ عَلَى الْعِبَادِ، مَنْ جَاءَ بِهِنَّ وَلَمْ يُضَيِّعْ مِنْهُنَّ شَيْئًا اسْتِخْفَافًا بِحَقِّهِنَّ كَانَ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدٌ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ. وَمَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِنَّ فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدٌ، إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ وَإِنْ شَاءَ أَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ.

Ada lima sholat yang diwajibkan oleh Allah kepada hamba-Nya. Siapa yang melaksanakan kelima sholat tersebut dan tidak pernah meninggalkannya dengan menganggap remeh, maka Allah berjanji akan memasukkan orang tersebut ke dalam surga. Sebaliknya, barang siapa yang tidak melaksanakan kelima sholat tersebut, maka tidak ada perjanjian antara Allah dengannya untuk memasukkan ke surga; Kalau Allah berkehendak, orang itu akan disiksa dengan pedih atau akan dimasukkan ke surga.

Ibadah Sholat juga menjadi pembeda antara orang mukmin dengan orang munafik, Rasulullah saw. bersabda:

بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْمُنَافِقِينَ شُهُودُ الْعِشَاءِ، وَالصُّبْحِ لاَ يَسْتَطِيعُونَهُمَا

Yang menjadi pembeda antara kita (orang mukmin) dengan orang munafik adalah ketaatan kita dalam melaksanakn sholat Isya’ dan Sholat Shubuh yang tidak bisa dilaksanakan dengan baik oleh kaum munafik.

Sholat juga menjadi pondasi dari agama Islam, sehingga siapa yang melaksanakan sholat dengan sempurna dan tidak meninggalkannya sama sekali, berarti ia ikut memperkuat agama ini. Sebaliknya, bila seorang muslim meninggalkan sholat, enggan melaksanakan sholat atau tidak istiqomah menjalankannya, berarti ia sedikit demi sedikit telah membuat pondasi agama ini rapuh dan mudah roboh. Nabi Muhammad saw. bersabda sebagaimana disebutkan oleh Imam Baihaqi dalam Kitab Sya’bul Iman :

جاء رجل فقال: يا رسول الله أي شيء أحب عند الله في الإسلام، قال: الصلاة لوقتها و من ترك الصلاة فلا دين له و الصلاة عماد الدين.

Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah dan bertanya: wahai Rasulullah, dalam agama Islam ini, ibadah apa yang palin dicintai oleh Allah? Nabi menjawab: “Ibadah yang paling dicintai oleh Allah ialah melakukan sholat tepat waktu. Barang siapa meninggalkan sholat, berarti ia tidak beragama Islam, sebab Sholat adalah tiang agama”.

Dalam hadis lain juga disebutkan:

الصلاة عماد الدين: فمن تركها فقد هدم الدين.

Sholat adalah tiang agama. Siapa yang meninggalkan sholat, berarti ia telah merobohkan agama ini.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…

Jama’ah Sholat Idul Adha yang dimuliakan Allah…

Kewajiban sholat juga diharuskan untuk dilakukan secara berjama’ah. Perintah ini secara jelas disampaikan oleh Allah swt. dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 43:

وأقيموا الصلوة وآتوا الزكاة واركعوا مع الراكعين

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.

Ayat ini oleh beberapa Ulama’ Tafsir dijadikan landasan hukum sholat berjama’ah, bahwa Allah mewajibkan umat Islam untuk melaksanakan sholat lima waktu secara berjama’ah. Imam Ibnu Katsir dalam kitabya “Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim”, Imam Baidlowi dalam “Tafsir Anwarul Tanzil wa Asrarut Ta’wil”, dan Imam Khozin dalam Tafsir “Lubabut Ta’wil fi Ma’anit Tanzil” menyatakan bahwa kalimat “dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’´adalah perintah kepada umat Islam untuk melaksanakan sholat berjama’ah.

Sholat berjama’ah merupakan salah satu ibadah yang menjadi syi’ar agama Islam, oleh karena itu Nabi Muhammad saw. memerintahkan kita untuk melaksanakan sholat berjama’ah. Bahkan, Nabi Muhammad masih mengharuskan salah satu sahabat yang buta dan tidak ada orang yang bisa menuntunnya menuju masjid untuk tetap melaksanakan sholat berjama’ah di masjid. Diriwayatkan oleh Imam Abu Hurairah ra. bahwasanya “ada seorang yang buta datang kepada Rasulullah saw. seraya bertanya kepada beliau: Wahai Rasulullah, Saya ini orang buta dan taka da seorangpun yang menuntunku menuju masjid. Kemudian orang buta ini meminta keringanan agar diperbolehkan sholat di rumahnya saja. Nabi memperbolehkan dia untuk sholat di rumahnya sendiri. Tetapi ketika orang buta itu hendak pergi, Nabi memanggilnya dan bersabda kepadanya”:

هل تسمع النداء بالصلاة؟ فقال: نعم، قال: فأَجِبْ

Rasulullah bersabda kepada orang buta itu: Apakah kau mendengar adzan dari rumahmu? Orang itu menjawab, Ya, saya bisa mendengar suara adzan dari rumahku. Lalu Nabi bersabda kepadanya: Maka, datanglah ke masjid dan penuhilah panggilan muadzin tersebut.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd…

Nabi Muhammad saw. sebagai manusia paling sempurna, terlindung dari dosa, dijamin masuk surga oleh Allah swt. tidak hanya menyuruh umatnya untuk giat, semangat dan istiqomah melaksanakan sholat berjamaah di masjid. Akan tetapi, beliau juga memberikan contoh dan teladan kepada kita. Pada kesempatan yang berbahagia ini, kaum muslimin rahimakumullah, saya ingin menyebutkan dua peristiwa penting di mana Rasulullah saw. tetap istiqomah menjalankan sholat berjama’ah walaupun kedua peristiwa ini sangat berat.

Pertama, dalam kondisi peperangan yang sedang berkecamuk di mana orang-orang kafir sedang berhadap-hadapan dengan pasukan muslimin yang dipimpin oleh Rasulullah saw. Beliau masih melaksanakan sholat berjama’ah bersama para pasukannya. Namun, sholat berjama’ah dalam kondisi ini berbeda dengan tata cara sholat jama’ah dalam kondisi biasa. Sholat berjamaah dalam kondisi peperangan, dalam ilmu fiqih, biasa disebut dengan Sholat Khauf, yaitu sholat dalam situasi peperangan yang menegangkan dan menakutkan. Al-Qur’an merekam peristiwa ini dengan baik dalam surat An-Nisa’ ayat 102 dan 103. Para ahli sejarah Islam menyatakan bahwa sholat jama’ah yang dilakukan oleh Nabi di waktu perang sedang berkecamuk bukan hanya dilakukan dalam satu peperangan saja, tetapi dilaksanakan dalam beberapa peperangan yang diikuti oleh baginda Nabi Muhammad saw. Imam Ibnul Qashshar al-Maliki menyebutkan bahwa Sholat berjama’ah dalam kondisi perang dilakukan oleh Nabi dalam 10 peperangan. Imam Abu Bakar Ibnul ‘Arabi bahkan menyebutkan bukan hanya dalam 10 peperangan, tetapi dalam 24 peperangan. Ini menandakan betapa pentingnya sholat berjama’ah sehingga Nabi Muhammad dan kaum muslimin saat itu tetap melaksanakan sholat berjama’ah walaupun mereka sedang berhadap-hadapan dengan musuh.

Allahu Akbar Walillahil Hamd..

Kaum Muslimin yang berbahagia…

Peristiwa kedua yang tidak kalah dahsyatnya dari peristiwa pertama tadi ialah di saat baginda Nabi Muhammad saw. sedang sakit parah. Dalam kondisi sakit yang kritispun beliau tetap berusaha sekuat tenaga untuk menunaikan sholat lima waktu secara berjama’ah. Diriwayatkan oleh Imam Abu Hurairah ra.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari ‘Ubaidillah ibn ‘Abdillah ibn ‘Utbah. Dia berkata: Saya mendatangi sayyidah ‘Aisyah ra. seraya bertanya: Wahai Ummul Mukminin, tolong ceritakan kepadaku tentang sakit yang dialami oleh Rasulullah saw. Sayyidah ‘Aisyah berkata: Baiklah. Waktu itu, Rasulullah saw. sedang kritis, sakitnya semakin parah. Lalu Nabi bersabda kepadaku, Apakah mereka (yang sedang berada di masjid) sudah sholat? Aku menjawab, belum wahai Rasulullah. Mereka sedang menunggumu. Nabi lalu bersabda: Tolong tuangkan air dalam bak mandi itu. Saya isi penuh bak itu dengan air. Nabipun mandi. Seusai mandi, beliau hendak berdiri dan tiba-tiba pingsan. Saat sadar, beliau bersabda lagi: Apakah mereka sudah sholat? Saya jawab, belum wahai Rasul. Mereka masih menunggumu. Nabi lalu bersabda: Tolong tuangkan air dalam bak mandi itu. Lalu Nabi duduk dan mandi. Beliau berdiri dan pingsan lagi. Saat sadar, beliau bersabda: Apakah mereka sudah sholat? Aku menjawab, belum wahai Rasulullah. Mereka sedang menunggumu. Nabi lalu bersabda: Tolong tuangkan air dalam bak mandi itu. Lalu Nabi duduk dan mandi. Beliau berdiri dan pingsan lagi. Saat sadar, beliau bersabda: Apakah mereka sudah sholat? Aku menjawab, belum wahai Rasulullah. Mereka sedang menunggumu. Saat itu, para sahabat sedang menunggu kehadiran Rasulullah saw. di masjid untuk melaksanakan sholat Isya’. Lalu karena beliau sudah benar-benar tidak kuat untuk berangkat ke masjid, beliau mengirim seseorang untuk menyuruh Abu Bakar menjadi imam di masjid Nabawi.

Subhanallah, Allahu Akbar. Orang yang begitu mulia di sisi Allah, yang telah dijamin masuk surga, dijaga dari segala perbuatan dosa, masih berusaha sekuat tenaga agar bisa melaksanakan sholat jama’ah bersama para sahabatnya, padahal kondisi beliau saat itu sedang sakit parah, sedang kritis, tidak mampu berdiri. Namun, beliau tetap berusaha. Hingga beliau, baginda Nabi Muhammad saw. pingsan sebanyak tiga kali. Allahu Akbar. Subhanallah. Lalu, mengapa kita harus malas melakukan sholat berjama’ah. Padahal kita tidak dalam kondisi perang. Kita dalam kondisi aman-aman saja. Kita juga tidak sedang sakit seperti sakit yang diderita oleh Rasulullah saw. Kita juga bukan orang yang terjaga dari segala bentuk kemaksiatan dan dosa. Kita juga tidak punya jaminan masuk surga. Mengapa kita dengan mudah meninggalkan sholat berjama’ah. Mengapa, hanya karena ada urusan yang tidak begitu penting kita sudah enggan berangkat menuju ke masjid?

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…

Kaum muslimin yang dirahmati Allah…

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt. Marilah kita lebih giat dan semangat melaksanakan sholat lima waktu dengan berjama’ah. Marilah kita ramaikan masjid dan musholla yang ada di sekitar kita. Mudah-mudahan dengan peningkatan ibadah tersebut, kita kelak dijamin masuk surga oleh Allah swt. Amin Allahumma Amin.

 إن أحسن الكلام كلام الله الملك المنان، والله سبحانه وتعالى يقول، وبقوله يهتدي المهتدون: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم: وأقيموا الصلوة وآتوا الزكاة واركعوا مع الراكعين.

أقول قولي هذا، واستغفروا ربكم إنه غفور رحيم.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: