Khitan Massal di Pesantren Wisata
“Kok onok arek sunat nangis, rabi oleh rondo (Kalau ada anak sunat yang menangis, saat menikah mendapat istri janda),” gurau Gus Yusuf kepada para partisipan khitan massal. Bertepatan pada Sabtu, 26 Agustus 2023, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo” mengadakan khitan massal untuk umum.
“Sampun (sudah) minta khitan,” ungkap salah seorang wali partisipan khitan menjelaskan bahwa putranya memang ingin sunat saat sesi wawancara.
Putranya itu bernama Faiz, santri Ponpes An-Nur II yang masih duduk di jenjang kelas lima MI. Dia memang sudah ingin sunat sejak kelas empat, begitu kata Faiz, “(sejak) kelas empat,” katanya.
Kemauan khitan itu muncul karena, “Biar pulang,” Kata Faiz lantas tersenyum. Menurutnya, sunat tak menyebabkan rasa sakit walaupun belum pernah merasakan sebelumnya. “Gak sakit,” seperti itu ungkapnya. Persepsi itu ia dapat dari teman-temannya. “Katanya anak-anak.” Katanya berterus terang.
Pagi hari itu di daerah Masjid An-Nur, tampak para tentara yang bersiap untuk prosesi khitan massal. Gus Yusuf selaku tamu utama telah sampai, Kiai Fathul Bari, Kiai Ahmad Zainuddin, Kiai Syamsul Arifin, dan TNI menyambut kedatangannya.
Lantas di teras masjid Gus Yusuf memberikan sambutan. Selesai memberikan sambutan, terdapat sesi foto bersama dengan partisipan khitan. Juga terdapat ucapan selamat untuk harlah (hari lahir) Ponpes An-Nur II dari TNI. Setelahnya tim marching band An-Nur II dan santri SMP datang.
Sebelum melaksanakan agenda sunat massal, mereka berkeliling pondok terlebih dahulu. Sembari berjalan, iringan selawat dari tim TNI menemani mereka.
Berkeliling pondok selesai, tim marching band dan santri SMP kembali sedangkan TNI, peserta khitan beserta orang tuanya, Gus Yusuf dan keluarga An-Nur II beristirahat sejenak di sekitar masjid.
“Aaa..” teriak seorang bocah ketika petugas mulai menyunatnya. Masih awal, suasananya masih tenang, hingga sampai di pertengahan ruangan itu menjadi ramai penuh teriakan dan tangisan para bocah. Seusai sunat, partisipan khitan mendapatkan bingkisan dari panitia dan mendapat obat.
Setelah melakoni prosesi sunat rasanya, “Lega,” begitu kata Reyhan. “Nggak” jawab Reyhan mengenai sakit atau tidak rasanya berkhitan. “Juara pidato ini,” sela ustazah pengajar Reyhan lantas menjelaskan bahwa perihal sunat lebih sepele.
Sama seperti Faiz, Reyhan sunat atas dasar keinginan sendiri, “Mau sendiri,” terus terangnya kepada tim mediatech.
(Moch. Athoillahil Qodri/Mediatech An-Nur II)