KH. Agus Sabuth: Gerbang Utama Menuju Akhirat Adalah Kematian

Dunia telah berubah. Perkembangan tekhnologi membawa dunia ini kepada era modern. Generasi milenial adalah generasi yang mengikuti tren kehidupan di zaman ini. Tentu berbeda dengan generasi orang tua mereka, yang bisa jadi sekarang sudah banyak yang telah meninggal dunia. Dan perilaku anak-anaknya di muka bumi ini, menjadi penentu nasib orang tuanya di alam kubur, antara bahagia dan hancur.

Haul KH. M. Badruddin Anwar yang ke-2, jamaah semaan Alquran Jantiko Mantab dan Dzikrul Ghofilin, turut berpartisipasi. Acara yang dimulai sejak ba’da Subuh ini, ditutup setelah salat Isya berjamaah. KH. Agus Sabuth Panoto Projo, selaku kadim majelis, dan sejumlah masyayikh lainnya, turut hadir dalam acara, Senin 4 Februari 2019 di Raudloh (makam) Kiai Badruddin.

Acara pada malam itu dikhususkan hanya untuk para santri. “Untuk hari ini, peringatan haul dikhususkan untuk santri, karena jika disamakan dengan para jamaah dari luar pondok, tempatnya tidak cukup,” ungkap Ust. Mukhyidin Farkhi, kepala Ma’hadiyah An-Nur II.

Mengapa Peringati Haul dengan Khatmil Alquran?

Sejak kewafatan Kiai Badruddin, para alumni dan santri secara bergantian melaksanakan hataman Alquran untuk beliau. Dan empat puluh hari sebelum haul, selain pembacaan tahlil, juga dilaksanakan hataman Alqur’an secara istikamah. Tentang hataman Alqur’an ini, KH. Agus Sabuth mengatakan, “Hataman Alquran ini, sebagai hormat kita kepada beliau.”

KH. Agus Sabuth berkisah, Rasulullah pernah bersabda kepada Siti Aisyah, “Wahai Aisyah, ketuklah pintu surga!” Siti Aisyah bingung, lalu bertanya, “Dengan apa mengetuknya?” “Dengan Alquran,” jawab Rasul. Dan untuk itulah hataman Alqur’an dilaksanakan secara istiqamah.

Mengapa Harus Mondok?

Seperti disebutkan di atas, di era globalisasi dan modernisasi ini, keadaan masyarakat begitu memperihatinkan. Kiai Agus Sabuth menyebutkan bahwa banyak orang yang ingkar kepada Allah meskipun sudah diperingatkan. “Sedangkan janji-janji Allah itu nyata,” terang beliau.

Dari situ, penting kiranya peran pendidikan pondok pesantren dalam membentuk ahlak para santri. Karena, seperti yang disebutkan Kiai Zainuddin dalam sambutannya, “Orang akan naik derajatnya bukan karena rajin puasa, semangat melakukan salat, lebih dari itu yang membuat derajat diangkat adalah akhlak.”

Tentang ahlak ini, Kiai Badruddin telah mencontohkan banyak hal. Salah satunya seperti yang disebutkan KH. Agus Sabuth, “Kiai Badruddin adalah orang yang berguna bagi masyarakat. Beliau sangat suka membantu yang kesusahan. Sesuai pesan nabi, ‘Jadilah manusia yang berguna bagi sekitarnya.’”

Maka dari itu, patutlah para santri berbahagia karena ditakdirkan bisa mengenyam pendidikan di pondok pesantren. Khususnya Pondok Pesantren An-Nur II yang pernah diasuh oleh KH. M. Badruddin Anwar. “Semoga diberikan kesuksesan yang bermanfaat, nyaman dan betah di pesantren ini dan diberikan ilmu yang bermanfaat juga,” doa beliau.

Tentang Ziarah Kubur

“Beliau Kiai Badruddin sebelum wafat ditahlili selama empat puluh hari. Dan setelah wafat juga ditahlili selama empat puluh hari. Hal ini selaras dengan sabda rasulullah, Janganlah kalian terkagum dengan amalan seseorang sampai kalian melihat amalan akhir hayatnya,” tutur Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag. dalam sambutannya.

Mengingat hal ini KH. Agus Sabuth mengutip perkataan orang-orang sepuh terdahulu, “Sering-seringlah berziarah kubur!” Karena dengan sering berziarah kubur, minimal dapat mengingatkan kita kepada kematian. “Akan tiba saatnya, kehidupan kita pasti berakhir,” ungkap beliau. Seperti halnya yang dikatakan Sayyidina Usman bin Affan, beliau mengatakan, “Gerbang pertama menuju akhirat adalah kematian.”

(MFIH/Mumianam/Mediatech An-Nur II)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: