Keyakinan: Memuliakan Sekaligus Merepotkan

mulia, Keyakinan: Memuliakan Sekaligus Merepotkan, Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo

            “Menetap abadi di surga paling atas dengan penuh kenikmatan, serta mendekat kepada Allah Yang Maha Esa.”

Apa itu Surga? Surga itu adalah suatu gambaran paling indah di atas gambaran imajinasi kita. Jadi Surga itu bukanlah tempat yang terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga dan tertebak oleh hati. Itulah yang disabdakan oleh Rasulullah SAW.

Akankah kita dapat melihat Allah di surga nantiya? Kita seharusnya memikirkan makhluk Allah bukan memikirkan Dzat Allah. Urusan di surga nanti dapat melihat Allah itu pasti, entah bagaimana caranya. Kita hanya perlu mengimaninya.

Pertanyaan terakhir: Lalu bagaimana caranya agar kita dapat menetap abadi di surga dan dapat mendekat kepada Allah AWT? Salam satu syair disebutkan, “Perbaikilah selalu keyakinanmu! Karena ketika keyakinan sempurna maka hal yang gaib dapat terlihat dengan nyata.”

Syair tersebut menyimpan banyak makna tesirat. Seperti yang dimaksud dengan keyakinan adalah keimanan. Dan yang dimaksud dengan keyakinan yang sempurna adalah keimanan yang sesuai dengan mazhab (Tauhid) Imam Abu Hasan Al-‘Asy’ari atau atau Imam Abu Manshur Al-Maturidi. Kedua mazhab ini bersih dari penyelewengan.

Pembagian Iman

Keyakinan atau keimanan dibagi menjadi tiga. Pertama, adalah Ilmu Yaqin contohnya kita mengetahui dari orang yang dapat dipercaya bahwa di An-Nur II ada acara pasar waqiah. Kedua, adalah Ainul Yaqin contohnya kita melihat langsung bahwa di An-Nur II ada acara Pasar Waqiah. Dan yang ketiga, adalah Haqul Yaqin contohnya kita menghadiri langsung pasar waqiah di An-Nur II, kita mengetahui langsung terselenggaranya acara pasar waqiah.

Keyakinan selain dapat memuliakan seseorang, juga dapat merepotkan seseorang. Bagaimana bisa begitu? Karena, orang yang salah atau menyeleweng dari keimanan yang benar dapat membuat dirinya sengsara. Kita lihat saja teroris yang suka ngebom sana-sini. Mereka pikir dengan menaruhkan nyawanya dapat membuat mereka masuk surga dan berdampingan dengan para bidadari cantik. Kenyataanyakan tidak!

Rata- rata mereka yang salah keimanannya adalah mereka yang tidak mondok atau mondok tapi tidak di pondok yang berpaham ahlussunnah wal jamaah. Atau ringkasnya adalah mereka yang belajar agamanya setengah-setengah. Orang yang belajar kitab kuning karangan ualama terdahulu seperti kitab karangan Imam Al-Ghazali, insyaallah, tidak akan salah dalam hal keyakinan atau keimanan. 

Orang yang salah dalam keimanan lebih berbahaya dari pada orang yang bermaksiat karena ia mempunyai potensi untuk menyesatkan oran lain. Masih mending orang yang bermaksiat, meski sama-sama jelek. Hanya saja orang bermaksiat auma akan berimbas pada dirinya sendiri dan tidak menyesatkan orang lain.

Kisah Imam Ghazali

Berbiacara tentang iman yang dapat memuliakan, ada seorang ulama yang menjadi sangat mulia sebeb memiiki keyakinan yang lurus. Beliau adalah Imam Al-Ghazali. Beliau dilahirkan pada tahun 450 H dan wafat pada tahun 505 H. Hidup sekitar 50-an, Imam Al-Ghazali memiliki kitab karangan yang jumlanya melibihi jumlah umur hidup beliau.

Imam Al-Ghazali adalah salah satu orang yang cerdas. Abu Hasan Asy-Syadzili pernah bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW yang sedang berkumpul dengan para Nabi lainya. Di belakang rasul beliau melihat para ulama umat rasul Muhammad SAW. kemudian Nabi Musa berkata kepada Nabi Muhhamad, “Nabi Muhhamad, Anda pernah berkata bahwa ulama anda setara dengan nabinya Bani Israil, benarkah demikian?”

kemudian Nabi Muhammad menjawab, “Ya benar itu, coba anda tanya salah satu orang di belakang saya.”

Kemudian Nabi Musa pun bertanya kepadanya, “Siapa namamu?”

“Namaku adalah Muhammad Bin Muhammad Bin Muhammad Bin Ahmad Al-Ghazali,” Jawab Imam Ghazali dengan lengkap.

“Kamu ini bagaimana, saya hanya tanya namamu bukan nama kakek dan ayahmu juga.” Nabi Musa merasa agak heran. 

“Nabi, saya jawab atau saya biarkan saja beliau?” Imam Al-Ghazali bertanya kepada Nabi Muhammad.

“Jawab saja,” ujar Nabi Muhammad.

“Nabi Musa sekarang begini, Anda pada saat ditanya apa yang ada di tanganmu, engkau menjawab ini adalah alat yang biasa aku pakai mengembala kambing dan sebagainya. Seharusnya cukup anda jawab bahwa ini adalah tongkat. Sudah, kan?” Jawab Imam Al-Ghazali menimpali Nabi Musa. 

Nabi Musa langsung menyerah. “Oh, iya, iya. Ulama Anda memang cerdas,” ucap Nabi Musa kepada Nabi Muhhamad.

Begitulah orang akan menjad mulai sebab keimanannya bia berada di jalan yang tak melenceng. Bahkan, Imam Al-Ghazali pun disetarakan dengan para nabi Bani Israil. Sungguh kemuliaan yang begitu agung. Semoga keimamanan kita akan tetap terjaga dalam koridor Ahlussunnah hingga hari kiamat nanti.

(Bisri/Lingakar Pesantren)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: